Si Buah Hati – Sebelum Tidur – Bernyanyi – Bernyanyi, 2 – Kau yang Lahir

Karya . Dikliping tanggal 24 September 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Si Buah Hati

Si buah hati
berjalan mengelilingi hati
dengan corak mekar.
Di sentuhnya kebekuan hati
atau mata yang hampir buta.
Tubuhku geli,
kami terkekeh di padang rumput
Mengejar bola
Menanam bunga
Bermain air

Tiba-tiba hujan.
Aku cemas.
Telunjuknya keluarkan pelangi.
Kami pungut bersama

“Ayah, ini buat Ibu, ya?”

“Bukan, Anakku.
Tetapi buatmu.”

“Lalu buat Ibu, mana?
Buat Ayah, mana?”

Kusisipkan telunjuk
yang berisi harap
yang berisi kasih
yang berisi petuah
pada dadanya yang mungil.
“Di sini, Anakku.”

2016

Sebelum Tidur

Sebelum tidur,
kecup dulu cita-citamu, Nak!
Di jidat biar manis.
Di pipi, di lesung pipit
yang berlubang itu.
Jangan lupa mimpikan
bambu yang menjulang.
Mimpikan kelapa yang lebat.
Dan simpan urat-uratmu
dengan kokoh.

Kelak di pagi hari
jangan lagi cari ayah.
Ayah telah hidup dalam mimpimu.
Menyimpan sekotak emas
di sana. Di sini.

2016

Bernyanyi

Chord: C F G
Lihatlah anakku sayang
Hijaunya alam nan indah permai
Ada pelangi di setiap taman
Warnai semua kehidupan ini*)

Baca juga:  Catatan Harian Angeline - Rencana Setelah Hari Raya

dalam matamu ada suara
yang menembus jantung
(berhenti sejenak)
tiba-tiba aliran darah berlarian
berkejaran dengan tingkahmu.

“ayo kejar daku, ayah!”
tawamu saling kejar dengan tangisan
tangkap-menangkap. siapa dapat.
dia mengejar. dan kembali menunggu:

Chord: C Dm G C
oo, zizi.
jangan menangis
mari bernyanyi
tentang langit biru

oo, zizi.
jangan menangis
kalau menangis
digigit kangguru … )*

tawamu mengejar tangis.
“aku menyerah,” serunya.
dan tawamu pecah.

2017

***

*) Cuplikan lagu Mari Bernyanyi yang saya tulis sebelum Zizi dilahirkan. Biasanya lagu ini sering saya nyanyikan bersama dengan keluarga. Zizi selalu ikut bernyanyi.

Bernyanyi, 2

“Ini lagu apa, Yah?”
tanyamu sembari memetik senar
gitar.
nada mengalun memenuhi binar
matamu.
beberapa kelopak mawar, mekar
semerbak memenuhi ruangan.

Di dapur ada pelangi
tempat ibumu memasak.
“Zizi suka sup ayam, Ayah.”
Ia suka pahanya
suka sayapnya.

“Mau jadi pilot, ya, Zi?
Mau terbang ke mana?”
“Mau terbang sambil
bernyanyi, Ayah.”

Baca juga:  Pelajaran Berladang Kol

Aroma pagi hari terus
menyejuki dada.
Yang biasa debar saat kurang.
Yang biasanya degup saat susah.
Yang biasa sakit saat teriris.
Cahaya mentari bersinar lembut
dari sela-sela matamu.
Suaramu terus membelai.

2017

Kau yang Lahir

Kau lahir dari dua putaran matahari bersinar terik di
antara dua kepala ayah-ibu berbentuk bulat dan bujur
sangkar dengan tangan-tangan kecil yang mengeras
menggenggam harap dari doa-doa, mimpi dan niat
baik-baik terhadap hidup atau masa depan yang
sebagian orang diperolok-olok dengan rasa malas dan
putus asa tanpa kaki dan tangan yang bergerak dan
tubuh gemuk dengan perut buncit yang dipenuhi ego
dengan gigi tanpa taring yang sebagian lainnya patah
tanpa pernah dipakai kecuali melalui bualannya
tentang tulang-tulang keras yang telah dikunyahnya,
dan kautetap saja lahir dengan senyum kembang

menikam jantung mereka keras-keras hingga ayah-
ibu berteriak sambil berkata, “Berperanglah, Nak!

Bunuh ego mereka, kelak di setiap belahan bumi,
kau akan terus lahir dan hidup di antara hati dan
pikiran mereka yang coba-coba untuk hidup dalam
keputusasaan dan prasangka yang membunuh harap
setiap insan!”

Baca juga:  Dibui Tanpa Jeruji

2016

Indra Intisa, yang sering dipanggil dengan sebutan Ompi telah menulis puluhan buku antologi bersama. Penulis yang lahir pada 27 September 1984 itu juga sudah menerbitkan buku solo, seperti puisi mbeling Panggung Demokrasi (2015), puisi lama–syair, gurindam, pantun, seloka, karmina, talibun, mantra Nasihat Lebah (2015), puisi imajis Ketika Fajar (2015), Putika (Puisi Tiga Kata) Teori dan Konsep (2015), Dialog Waktu (2016), novel Dalam Dunia Sajak (2016), Sang Pengintai (2017), Kuberi Kau Nama: Tuan. Bukan Fulan (2018), Kumpulan Esai: Apresiasi Puisi (2018). Penulis yang suka menulis lagu itu dapat dihubungi melalui e-mail indraintisa@gmail.com atau Facebook Indra Intisa (Ompi). Saat ini tinggal di Dharmasraya, Sumatra Barat.

 

[1] Disalin dari karya Indra Intisa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 23 September 2018