Stasiun Sebuah Pertemuan – Lebaran – Ulang Tahun – Jerawat

Karya . Dikliping tanggal 3 September 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Stasiun Sebuah Pertemuan

ada banyak jalan pilihan
menuju musim hujan yang
membikin aku menunggu di tepian jendela

atau menembusnya dengan payung
atau ke dataran musim kemarau
di mana aku dan debu samalah diterbangkan
oleh angin dan ketidakberdayaan
dahaga kasihsayang tak terbilang

atau menuju jalan hatimu yang
hakim agung dari hari kemarin tibatiba bisa
mengetokkan palu bahwa
aku harus disalibkan seperti isa

tetapi aku memilih jalan musim di luar musim
tidak semua kebenaran diungkapkan bahasa yang
pasti aku tidak takut kepada bayang-bayang
apalagi cuma dunia dan kemegahan

sekalipun terlihat di semua halaman buku
di segala persimpangan dan perjumpaan
sedari bangkubangku kuliah kau dan aku dulu
di setiap pelukan dan perpisahan: pandanglah…..

ke depan keberduaan kau aku adalah
terusmenerus perjalanan indah hati nurani
dan kau dan aku tidak akan mau berhenti
menyusuri
sebuah perjalanan tanpa akhir menuju hatimu

Baca juga:  Nira - Doa - Kita - Tenun - Mengenang - Ranjang Bambu Ema’ - Adakalanya

tersebab engkaulah jalan
sekaligus tujuan itu sendiri
dari satu stasiun ini ke stasiun lain
ke balik cakrawala

Yogyakarta, 3 juni 2018

* diilhami sajak yang hilang, ’Stasiun: Sebuah Pertemuan’ (1989)

Lebaran

lepas sudah dari menahan diri
kembali rasa ingin berseliweran
ganti berganti seperti anak kecil kini
yang meronta minta mainan

bubar pula rupa manusia yang
sejatinya mengutuh wajah indah
justru bukan diberi hati
malah memburu brutu

mana wajah manusia kita
jika lebaran sudah semua puasa?

Yogyakarta, 14 juni 2018

Ulang Tahun

ulang tahun bukanlah hanya
tahun yang berulang ia
adalah pejalan kaki yang
mengukur trotoar tak terhingga

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (21)

sampailah di sebuah tikungan usia
ia berjumpa denganmu tibatiba
ia jatuh cinta kepada alis matamu yang
lebat seperti hutan dan hujan masakecilnya
ulang tahun bukanlah hanya
tahun yang berulang ia
adalah pejalan hatimu yang membaca
begitu telaten halaman dari hari ke hari

sampailah di sebuah alinea usia
ia menemukan jawaban yang selama
ia pandangi wajahmu kemanapun arah yang
dituju seperti matahari dan pelangi masakecilnya

Yogyakarta, 10 juni 2018

Jerawat

jerawat, bagimu, menjadi ancaman
bisul kecil itu mengingatkanmu kepada
birahi lelaki atau perempuan yang
merencanakan peledakan

maka setiap kekasihmu merawat jerawatnya
sontak kau cemburu, “apakah kau
akan menjadi pengantin surga malam ini
dengan bom tergantung di tubuhmu?”

dia lekas terbius dengan tudinganmu
dia malah menjadi ingin menjelma
pengantin surga yang paling meraja
dihiasi dengan darah dan airmata para jelata

Baca juga:  Tentang Kita Dan Tuhan

tetapi terutama airmatamu yang
menghapus semua dan segala
harapan dan doadoa
tidak beda antara

mati di dalam hidup
dan hidup di dalam mati
tersebab dendam kesumat telah membuta
batas surga atawa neraka

kapan jerawat itu kau ledakkan?

Purbalingga, 13 juni 2018

Boneka*) Abdul Wachid B.S, lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Wchid BS alumnus Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora), jadi dosen-negeri IAIN Purwokerto dan studi Doktor Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia Universitas Negeri Sebelas Maret Solo.

 

 

[1] Disalin dari karya Abdul Wachid B.S.
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu, 2 September 2018