Gadis itu Lucu – Stasiun Khayal – Kepada Kening – Meja Makan Penyair – Saat Lanjut Usia

Karya . Dikliping tanggal 1 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Gadis itu Lucu

Gadis itu lucu,
ia bersolek di depan cermin kayu.
Berdandan ala putri salju
menunggui kurcaci di depan pintu waktu.
Tampak di bawah netranya mengalir sungai susu.

Tanpa sadar rautnya mulai menua,
kurcaci masih enggan tiba jua.
Ia mulai senang berkawan dengan penantian.
Susu telah berubah jadi genangan,
genangan berubah jadi kubangan,
tempat terbaik mencuci luka juga kenangan
dan gadis itu tetap saja lucu

Kurcaci yang ditunggui
mulai doyan merangkai puisi.
Menikmati larik-larik sembunyi
dari sudut paling sunyi.

Di depannya sekitar seinci
pintu waktu berderit di buka puisi.
Netra si gadis lucu ditatapnya sedekat dulu.
“Gadis ini tetap saja lucu” gumamnya.

Palu, 2018

Stasiun Khayal

Selamat datang di stasiun khayal.
Pagi sore pengharapan,
siang malam penyesalan.
Semoga selamat sampai tujuan.

Ketika mata terjaga menunggu kereta,
keberanian sudah tak ada.
Sebuah kalimat menatap penuh curiga,
menunggu disetubuhi paragraf rupanya.

Ketika menutup mata dalam kereta,
berasa seperti mati sudah.
Sepertinya ingatan sudah lama dibawa lari.
Gerbong perpisahan itu ternyata pencuri hati

Kutanggalkan saja semua isi kepalaku,
telanjang sudah ia kini.
“Ah, Sial! Sungguh memalukan.”
Kata kepala pada peron yang sudah lupa.
Masinis yang tadi kecewa jadi tertawa.

Selamat datang di stasiun khayal.
Pagi sore pengharapan,
Siang malam penyesalan.
Semoga selamat sampai tujuan…

Palu, 2018

Kepada Kening

Dariku:
Sekali waktu, hati adalah bilik-bilik penjara kosong
tanpa narapidana, kepala ialah kemacetan parah
di tengah kota, sedang jemari merupakan sajak
yang menari indah di halaman belakang rumah.
Kesemuanya ditemani secangkir kopi sedih, beberapa
potong roti sunyi, dan mainan papan terbuat dari hati.

Baca juga:  Padri Penghabisan - Khotbah Rahib Tua - Cubadak Paradiso

merah di jalan menuju kepala pertanda mata
sudah berkawan lama dengan insomnia. Sementara
sepasang lengan yang memeluk kehampaan adalah
untaian doa panjang yang dipanjatkan malam lewat
kehilangan.

Dan kini, kau dan segala tentang kita telah berhasil
menjelma rumah dari kesemuanya

Di rumah itu, mainan papan dari hati adalah
kesukaan para pecandu harapan. Mereka berharap
guncangan dadu mampu memonopoli petak-petak
rindu. Betul-betul percaya langkah akan jatuh pada
kotak merah jingga bukannya hijau tua?barangkali
saja isinya; Tinggal lebih lama di sana.

Bagi perangkai kata, menetap di rumah tanpa atap
berarti sudi menghadapi terik dan gigil. Sama saja
meratap dan tengkarap. Tak masalah. Bagimu
perangkai kata adalah tukang yang datang kala
petang, setelahnya pulang dengan
gamang usai tualang.

Sudah hampir pukul empat pagi, bulan
undur diri lebih dini. Doa sudah sampai
dan puisi telah selesai? Sementara
rindu belum juga usai.
Sekian untuk malam ini.
Dariku.
Dariku
Dariku,
untuk keningmu katanya.

Palu, 2018

Meja Makan Penyair

Kelak kau temukan penyair itu
menghidangkan puisinya di atas meja
makan. Melahap karya-karyanya dalam
kesendirian yang nyata.

Sebatang rokok terakhir dan mesin
ketik tempo dulu jadi pemandangan
aneh di meja makan itu. Entah berapa
banyak puntung dan kertas ketimbang

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-3 Agustus 2015

garpu dan sendok. Konstelasi kemiskinan, cinta, dan
air mata terpampang jelas sebagai menu pembuka
makan malam yang sunyi.

Meja makan penyair tak pernah meminta apa-apa
kecuali nama di bawah kata-kata. Seperti sajak-sajak
anggur di cangkir kaca yang tak pernah memilih
dituang dari botl berlabel apa. Pasrah melewati
kerongkongan dan berakhir di jamban.

Seperti anak-anak kalimat di kepala yang sibuk
mencari induknya. Seperti saudar tiri yang rela
berbagi ibu atau ayah. Seperti bocah yang ikhlas
melepas balon udaranya dimiliki langit saat senja.
Seperti kumpulan awan tipis di hapus rumah kaca
dan panel surya. Semuanya tak membantah atau
memperoleh apa-apa.

Tudung saji yang menutupi puisi dibuka dengan
bangga sekligus gengsi. Padahal puisi di produksi
kepala untuk dicerna hati, kini malah jadi sarapan
pagi. Lalu, meja makan penyair berkata bahwa dunia
selalu saja pilih kasih.

Meja makan kini butuh lebih banyak puisi untuk
sarapan besok pagi. Entah perut penyair itu kenyang
karena cinta atau jadi buncit sendiri karena sunyi. Tak
ada yang tahu pasti.

Palu, 2018

Saat Lanjut Usia

Jika kau temukan aku
di ruang-ruang kepala yang membatu
menyembunyikan mata dari cahaya,
berdiam diri tanpa bertanya,
gelisah seolah berduka,
jangan tanya kenapa.

Pada titik-titik tertentu
kota dan kita semakin tua dimakan usia,
Ditumbuhi uban pertemuan.
Sekat kejelasan dan penantian.
Membentuk dinding-dinding tebal
atau gengsi-gengsi yang selalu bebal.

Baca juga:  Ode Kota - Ode Rumah Sakit Jiwa - Ode Sebuah Teratai

Saat gelap telah sempurna
mengaju pleidoi pada cahaya,
waktu perlahan memangsa kita
Bahwa dunia memang selalu fana.

Sekarang kita lupa cara menelaah,
siapa terdakwa? Siapa pembela?
Kapal-kapal mengangkut cerita
mulai berlabuh ke seberang ingatan.
Setelahnya nakhoda yang memutuskan kemana,
atau barangkali sedang menuju karam.

Aku mungkin awak yang sedang berdoa,
menunggu takdir akan berpihak pada siapa.
Dan ketika aku memutuskan bertanya
pada nyonya “sedang apa?”
Mungkin kau akan menjawab sebagai percuma.
Judul cukup untuk menjelaskan semua

Palu, 2018

Dito Englen, lahir di Gorontalo 22 tahun silam. Tumbuh dan dibesarkan di Poso, Sulawesi Tengah. Kini sedang menempuh studi strata satu di Jurusan Kimia, Universitas Tadulako, Palu. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerita pendek telag diterbitkan di media lokal dan karya fiksi mininya tergabung dalam antologi fi ksi mini Lembaran Baru (Rekan Media, 2018). Sebelumnya Dito Englen meraih penghargaan juara 1 pembacaan puisi tingkat Kabupaten Poso.

 

[1] Disalin dari karya Dito Englen
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 30 September 2018