Kota – Cermin

Karya . Dikliping tanggal 22 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

KOTA (1)

sekali waktu
ketika kita dipukul risau
rindu rumput hijau
di ujung sana gugusan pulau-pulau

bagai buluh
tetes sungai
dari hulu
antara batu-batu
ungu
ngalir air
liku-liku

sementara
kuik elang mengejar
camar, begitu lengang
dan samar

datang kemana kita datang
kemana kita datang kemana
kita urat kita darah kita jantung
kita telah membalut kota

KOTA (2)

sebuah kolam
alangkah betah
berenang dalam
airnya, senantiasa tampak tenang
tapi beriak nyalang

Baca juga:  Gandrung Ekalawya - Pertanyaan untuk Drupadi - Urnekir - Pengakuan Gandari - Tentang Rundinya Sinta

selamat datang, kembanglah
selebar mimpi dan hirup
sepuas kenang ketika kau
tiada lagi mencari
pulang

KOTA (3)

kota pinang masak
buahnya kuning berserak-serak
dicakar ayam sepanjang hari
pigura pagoda
kuil-kuil tua
masjid di mana
aku letih mencari-cari
di lebuh itu kulihat engkau
berjalan menepi-nepi

selamat malam
di rumah tumpangan ini
aku berharap kita berjumpa
dalam mimpi

KOTA (4)

kota hanya kotak
bayang-bayang tembaga yang kita tatap
di kejauhan sana
adalah sisa mimpi kita
berjalan perlahan-lahan
masih dalam tubuh adam
dalam bungkus kemeja tua

Baca juga:  Asma Kinarya Japa - Celeng Sarenggi - Selo Blekithi 2 - Hantu Perempuan - Hantu Laki-laki - Kapal Kertas - Jeda yang Ajaib

kota hanya kotak-kotak
lampulampu mengerang
tak henti dalam mengajak
menyekap ruang
mengeras dalam waktu
begitu jauh
jalan
simpangsiur yang menyesatkan kita
tuhan
berikan aku
satu saja
ketika dulu
engkau menutup api neraka

kota hanya kotak migran
dari segala cemburu
siap memburu cemas
tak sempat membangun angan
menyimpan segigit rindu
ke mana pun aku pergi
kota hanya misteri kotak
gurun-gurun gelap dari otak

sisa kopi yang kita hirup tadi pagi
sia-sia membangun mimpi

Baca juga:  Garam Merah di Bulan September

CERMIN

kau mesti menatap
dunia dengan hatimu persis
seperti kau menatap cermin
setiap kali waktu bersisir
dalam kamarmu

Damiri Mahmud, lahir di Medan, 1946. Buku puisi tunggalnya bertajuk ‘Damai di Bumi’ (Kanwil Parsenibud, Sumatera Utara, Medan).


[1]Disalin dari karya Damiri Mahmud
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 21 Oktober 2018