Pilihanku – Sajak Berpamit – Perihal Wajah Perempuannya – Dian Pelita

Karya . Dikliping tanggal 8 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Pilihanku

Berenang ku dalam gumukan pasir
Ibu mendulang luka sembariku bermain
Kejahatan apa yang dunia lakukan?
Ibu menangis sembari kumenelan

Kami pulang
Bibir malaikatku berbincang
“Dua yang berbeda bukanlah satu”
Lalu kupotong sayap malaikat

Ikatan batin tak terpelihara
Berat rasanya mulut terbuka
Atau perlu kukuliti diriku
Darah yang terpancar serupa sengat lebah yang marah

Sebagian diriku adalah ibu
Setengahnya pilihanku

Sajak Berpamit

Kemarin sore
Tangan ibu dan anak perempuannya tak berjabat
Seteguk teh dingin yang semula hangat
Mengawali sajaknya ingin berpamit

Oh ibu
20 tahun hampir-hampir membuatmu khawatir
Barang daganganmu tak laku
Atau barang daganganmu tak terbayar mahal

Baca juga:  Guru, Bebaskan Aku dari Kutuk Pengetahuan Itu - Bilangan dan Keberuntungan - Sehabis Pesta Tahun Baru

Ibu
Aroma tubuhku tak seharum dulu
Sedang engkau sekarang tak patut lagi memandikanku
Sekarang ingin kumenyelami
Sedalam cintamu mengasihi

Dan ibu,
Nanti ku kembali

Perihal Wajah Perempuannya

Semalaman aku empat mata dengan kaca
Selama waktu aku meraupi muka
Tiada yang menyulam benang-benang bening di wajah
Hidung kecil nampaknya tak bertulang
Dua mata bengkak tak cemerlang
Bibir pudar tak gemilang
Senyum dan kubawa merintih
Perih…

Tadi siang baru saja aku menyusuri kota
Dalam perjalanan tanpa nakhkoda
Gang-gang ramai ricuh
Seperti sepasang kekasih sedang ribut perihal wajah
perempuannya

Baca juga:  Masih Kuingat - Pulang ke Kota Kelahiran - Menuju Sebuah Alamat - Kutuk Pertemuan - Sajak Sebelas Tahun Pernikahan

Dian Pelita

Lebih, lagi Jelita
Serupa Kejora
Pantas saja namanya Dian Pelita
Ia piawai dalam asih, asah, atau asuh
Meski dari merangkak
Hingga beranak-pinak
Garis takdirnya dalam api bergejolak

Lebih lagi dari sekadar tubuh kekar
Dalam sehari beratus-ratus kali
Pun ia sanggup mendayung bahtera
Atau sedalam samudera ia menyelam
Mencari-cari di mana intan berlian
Betapa Bima Sena dalam Dian Pelita

Dari dahi yang sudi menciumi lantai berdebu
Pada sebuah gubuk dikelilingi abu
Seluruh teguh menaungi kalbu

Baca juga:  Anakku Mendorong Kursi - Penjaga Menara - Puisi dan Batu - Rumah Serangga Itu

Ada angin mengirimkan dingin
Datang dengan dera bergandengan bersama nestapa
Katanya hendak meminjam penyangga
Tapi Dian Pelita
Seumpama kucing sembilan nyawa

Annisa Mutiara, kelahiran Purbalingga, 4 Februari 1999, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogya.


[1]Disalin dari karya Annisa Mutiara
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 7 Oktober 2018