Slamet

Karya . Dikliping tanggal 5 November 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SLAMET

kalong-kalong gua yang disatir gerujuk
air curuk
darimu belajar menaklukkan cahaya
dan angin malam pembunuh

darimu burung gelatik
menakhsis sarang
dari dingin kabut yang mencabik
cinta tebal selaput
betina dan anaknya
poyang baturraden

kuncup runcing bunga-bunga palawija
kian rekah menengadah
taburlah gerimis dari arah
angin meniup gerujuk curuk
terbang menari embun
seperti abu nafasmu
buah-buah merunduk takzim
pada ibu
Sri kesuburan

embun-embun fajar dijatuhkan
dari sajadah daun rerumputan
sepanjang pematang berbadan ramping
sebab langkah terburu anak-anakmu
menuju fajar yang bersembahyang

itu hari menjelang malam
anak-anakmu hendak
memagar jalan datang senja
ditanami pematang petilasan
dengan benih-benih
mengecambah akar, batang, daun, bunga,
hingga buah
api

Baca juga:  Gunung Keramat - Sayap-sayap yang Berpesta - Selendang Puan - Ladang Historis - Variasi Mimpi - Mantra Rindu - Dukuh Domas

tapi, malah ia
tumbuh meraksasa
menggurita
menghisap darah anak-anakmu
dalam pelukan yang erat dan hangat
membakar daging dan tulangnya
dalam gelak tawa
tanpa sisa seabu

SERAYU

Kau menyeru cinta padaku
dari seberang serayu
air dan pasir serta batu
ikan dan cucuk urang
serta rerumputan
bergeming

Hilir hatimu yang menjadi
kubang gelap kalderapencuri nafas yang
mendinginkan udara di sudut-sudut rumah
setelah memuntahkan apa saja
tertolak tanah, air, dan udara
bahkan api

Aku tak mendengar
ingin terus menangis
tak juga tipis
Air, pasir, dan batu
telah bersumpah tak akan bicara
sebelum ketiganya kembali satu
Sedangkan ikan dan cucuk urang
takkan mendustai gembalanya
menyimpan segala rahasia
yang diajarkan kepada mata dan telinga yang
sepasang
hingga bangkit segala rahasia dalam wujud
gembala
Rerumputan itu,
alangkah dia kekasih yang setia
sehingga langit dan bumi mengijabah doa
samarlah gerak-geriknya

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu Ke-3 Januari 2017

Sayup kudengar
air, pasir, dan batu
ikan dan cucuk urang
dan rerumputan di antara tubuh kita
meratap pilu
seruan cintamu tak dikenal, hanya amsal

KAMANDAKA

dia adalah mata air
yang harus membasuh badan dan jiwa
anak-anak yang diemong serayu dan slamet
:cinta adalah makanan ruhani
yang mesti diperebutkan di padang kurusetra

ia mengecil
di sudut sunyi terpencil
menempa dan menyepuh badan dan batin
menjadi kudi
ia meninggikan candi dari renik berserakan
di kawah slamet
dan lubuk serayu
bersama sekawanan segawan

Baca juga:  Sepelemparan Batu - Said yang Kembali - Aku dan Bumi

ia adalah pemenang
dalam perang
tanpa pedang
untuknya adalah kemulyaan bercahaya perak
pancaran hati ciptarasa
bunga pustaka, 2017

Mufti Wibowo, lahir dan berdomisili di Purbalingga. Menulis cepen, puisi dan esai.Bergiat di Komunitas Bunga Pustaka.


[1] Disalin dari karya Mufti Wibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 4 November 2018