Di Makam Rasullah – Padang Arofah di Hari Biasa – Jabal Rohmah – Sa’i – Jabal Uhud

Karya . Dikliping tanggal 24 Desember 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Di Makam Rasullah

Airmata menetes cahaya, doa-doa
meresap di keheninganku semayup anggun di palung jiwa
membayang kemuliaanmu seribu purnama

angin pun sejuk dalam nafasku, menyeduh getaran kasih
berhening dibathinku mengingat keluhuran budimu yang tak
lekang
oleh waktu, dan membinar elok mengudang takjub

shalawat berdebur nikmat, seperti ombak iramanya sunyi
menyenandungkan puisiku yang rindu pada kisahmu
yang memberi terang dalam kegelapan

ya Rasullah,
aku mendaki ketinggian safaatmu.

Madinah, 6 Desember

Padang Arofah di Hari Biasa

Bebatu, pasir dan rerumputan terasa nglangut
kersik angin, hanya rindu takbir yang desaunya sebuah
kelahiran
dalam penantiaan setahun sekali

terlihat lengang wajahnya, seperti sepi dipalung waktu
menyimpan mimpi-mimpi pengembara yang ingin memetik
cahaya
di tangkai semesta berbuah kesadaran

Baca juga:  Air mata Menjelang Tahun Baru - Elegi Rumput - Catatan Kasih

tenda-tenda pun kosong dan diam
ditinggalkan berjuta wukuf, menyisakan berbagai kenangankenangan
semayup dalam hening mengundang kembali berjuta umat
mendaki cinta

di sini, sunyi sangat abadi
terbayang kembali airmata mensucikan hati.

Jabal Rohmah

Cinta kembali dipertemukan
setelah beratus tahun terpiisah karena lena atau
dunia memang pusaran dosa?

Kudus, DesembeR 2018

Sa’i

Kuberlari kecil tujuh kali, mengejar ampunMu
bukit demi bukit terdaki, lelahnya nikmat terasa paling lezat
butiran keringat adalah embun cinta yang mengelupas
segala ragu

antara shofa-marwah hatiku berkeliling ria, merasakan
angin adalah nafasku yang mengingat mati

Baca juga:  Sepenggal Jalan Anakku - Ayah - Kisah dari Tanah Ngarai - Ambang Batas

kuberlari kecil tujuh kali, mengejar cahayaMu
rindu demi rindu menjadi ombak, getarannya sangat anggun
membuang gamang dan bayang-bayang

keringatku mentelaga di tujuh kelilingan
sepuluh jari jemari kakiku, mendaki bukit-bukit nikmatMu
yang ketinggiannya berupa tobatku

Mekah, 7 Desember 2018

Jabal Uhud

Terbayang perang, kenangmu itu
menyisakan genangan darah yang menenggelamkan nafsu
ringgik kuda, ribuan pedang dan tajamnya panah mengingatkanku
kebenaran itu tak bisa dikalahkan

di sini,
batu, pasir dan gunungmu, kerasnya
sebuah keyakinan yang menjagamu dari sergapan kepalsuam
aku tertegun takjub, merasakanmu ada sejarah tak tertidur
di kamar semesta ini

terbayang perangmu
aku merasakan ada cahaya di beribu pucuk pedang
kilauannya memancarkan ketegaran abadi.

Baca juga:  Gandrung Ekalawya - Pertanyaan untuk Drupadi - Urnekir - Pengakuan Gandari - Tentang Rundinya Sinta

Kudus, 5 Desember 2018

Jumari HS, lahir di Kudus, 24 November 1965. Pada 2011 diundang University Hangkuk, Seoul, Karea Selatan, dan membacakan puisinya di Kota Ansan. Kini, menjadi ketua Teater Djarum. Buku puisinya Tembang Tembakau (2008), Tentang Jejak yang Hilang (2016), Panorama Senja(2018). (28)


[1] Disalin dari karya Jumari HS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 23 Desember 2018