Janji Ajal – Lelaki Mawar – Ruang Puisi – Rembulan Terapung – Ruang Puisi

Karya . Dikliping tanggal 24 Desember 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Janji Ajal

Stasiun tawang; perempuan berambut jingga
dengan buku puisi di tangan, ruang tunggu beku
keberangkatan ritual mendebarkan
: “masuklah ke dalam kereta, duduklah, lupakan
segala yang membuat airmata mendidih
hidup jangan berkeluh-kesah”
perempuan itu meninggalkan peron
berjalan terseok menggendong ranselnya
masuk ke dalam kereta kamandaka; kursi 2A
ia kembali membuka buku puisi
di halaman penghabisan di baris terakhir
: “janji ajal!”
matanya terpejam; sampai di stasiun terakhir
gerimis tipis, ia terus berjalan di bebatuan
kerikil dengan kepala tegak— bertelanjang kaki
lalu tubuhnya melayang, tinggió jauh…
jauh sekali; dan ia alangkah senyap.

Jaspinka, 28 November 2018

Lelaki Mawar

Menanam mawar sepanjang pagar depan rumahnya
yang bersahaja, lelaki itu sesungguhnya tidak pernah
terpikirkan bahwa itu adalah mula petaka
dalam hidupnya yang telah menginjak senja

: batang pohon mawar tumbuh subur dan rimbun

di setiap ujung ranting putik kuncup mekar
nyaris semua orang kampung pernah memetik
mawar dari halaman rumah lelaki itu

Baca juga:  Duka Seperti Apa yang Bisa Kaubayangkan? - Senja yang Memecah Rindu - Di Atas Runcing Karang - Sebilah Sembilu Tumbuh di Antara Rongga Dada - Hanya Suara, Bergema di Kejauhan

pagar halaman rumah itu serupa surga kecil
mawar-mawarnya; merah, pink, oranye, peach,
kuning, dan putihó semerbak aromanya

setiap pagi dan senja ia siram dengan penuh kasih
dengan airmatanya

dan selalu saja hatinya berdebar-debar ketika orang datang
meminta mawar, entah untuk apa— bisa jadi untuk sesaji
atau sekadar dicium-cium atau penghibur hati sesaat belaka

tidak ada yang tahu setelah orang yang minta mawar itu pergi
lelaki itu menjadi sangat gelisah, murung, bahkan terluka!

ujung ranting yang baru dipetik itu dielusnya, o— tetes
airmatanya

“tuhan, beri aku kekuatan, ketabahan dan keikhlasan
untuk terus memelihara pohon-pohon mawar!”

Jaspinka, 10 Oktober 2018

Ruang Puisi

Ruang puisi yang terpendam dalam tubuh
meruapkan aroma sunyi

sekali waktu berdenyut nyeri
di waktu lain sengilu mawar gugur

dari dalam ruang gemerlap itu
aku melihatmu tengah mencecap buih ombak

lalu kaupintal gelombang
kaukayuh perahumu ke dalam gemuruh lautku

Baca juga:  Pelari Lintas Alam

“ini perjalanan sudah cukup tua. Senja dan malam
bertukar rahasia.”

maka engkau pun terus mendendangkan
seluruh rindumu. Aku memeluk seluruh
rahasia senja dan malam

“lihatlah, sepasang camar meliuk
dengan sayap terluka. Hinggap di atas perahumu
yang kayunya mulai berlumut!”

Cirebah, 2018

Rembulan Terapung

Ada sesuatu yang tidak boleh aku abaikan begitu saja
ketika engkau berlari menerabas deras hujan
menjauhiku, tubuhmu basah, dan airmatamu berguguran
“ini pertemuan telah menyisakan sembilu!”
dan engkau mengirimiku pesan lewat mimpi
“kautahu hatiku sungguh terbakar? aku cemburu!”
maka hujan yang deras itu menelanmu ke kota yang jauh
aku kembali ke tengah laut
menikmati runcing-runcing karang, debur ombak
dan buih yang memecah di pasir-pasir pantai
angin malam kelat berkesiur
rembulan terapung di atas permukaan laut
aku melihat dirimu di ketinggian menara-suar
serupa bidadari turun dari surga
engkau menemuiku, naik ke atas perahuku
“aku datang bukan untuk bunga mimpi,” desismu
aku tergagap— “hanya engkau, aku dan Tuhan yang tahu
bahwa hatiku yang terbakar sangat merindukanmu!”
engkau pun memelukku, aku hanyut
perahu terlambung-lambung diayun gelombang
rembulan yang terapung di permukaan laut
bergemerlapan diterpa angin, dan berpendar-pendar!

Baca juga:  Aku Sekarang Masih Berjalan - Gemuruh Rindu Mengalir - Jika Musim Hujan Ini Berakhir - Kau Lihat Lidah Ombak

Jaspinka, 2018

*) Eddy Pranata PNP, sejak tahun 2004 lalu mengelola Jaringan Sastra Pinggir Kali (Jaspinka) Cirebah, Banyumas Barat, Indonesia. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017).


[1] Disalin dari karya Eddy Pranata PNP
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 23 Desember 2018