Seseorang yang Tiba Setelah Gerimis

Karya . Dikliping tanggal 4 Februari 2019 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Lampu-lampu Padam

Ini telah malam. Dan kedai kopi sepi
Ditinggalkan pengunjung yang tak setia
Kita nyaris tenggelam
Saat lampu-lampu padam

Jangan teriak: memecah kesunyian
Menggedor pintu nikmat nan khidmat
Angin menitipkan pesan
Permohonan dari luar jendela

Satu tahun sudah hujan membakar: ladangladang
Tak berpenghuni. Aroma rumput hangus

Di balik pagar.

Kita memetik bunga alang-alang. Tanpa suara
Tanpa jeritan. Tiba-tiba tangan berdarah

Indramayu, 2018

Kita pun Menjadi Mawar

Kadangkala kita pun menjadi mawar. Tumbuh
Memanjat meneguk matahari. Berlindung
Pada tajam duri-duri kehidupan. Di dinding
Di antara pohon liana

Di tanah berbatu. Di pot-pot
Dijaga

Baca juga:  Berburu Malam Seribu Bulan

Rumput kaku dan hewan mamalia. Biarlah
Berebut menyentuh kelopak. Pada Tempat
Lain menghiasi taman. Mengembara
Ke anak benua

Kebun kita menanam kebaikan. Rekah
Mewarnai

Indramayu, 2018

Bunga November

November itu menjadi milikku
Dan milikmu
Kita mekar di antara batu
Dan kerikil
Menyambut musim hujan
Mengguyur air mata

Indramayu, 2018

Akhirnya

Telah kulupakan kau ke laut tak bertuan
Setelah angin mendorong camar
Menjauh dari pesisir berpasir: menjemput
Malam. Mengantarkan rembulan
óKe tanah, padang, gurun, gunungó
Cahayanya pecah. Dipungut tangan
Diremas dalam kantong pakaian. Disimpan
Sebagai kenangan.

Akhirnya, kita dipisah. Aku dan kau
Kembali pada yang paling semula. Saat
Tangan-tangan tak lagi memberi. Telanjang
Tanpa wangian. Melepas senyum
Berpuasa dari pertemuan. Melolong
Pada malam yang paling pekat. Meraba
Bagian yang hilang. Urat nadi
Telah terputus.

Baca juga:  Kita Hanya Membaca Hujan

Indramayu, 2018

Seseorang yang Tiba Setelah Gerimis

Dia berdiri seperti tiang lampu di tengah jalan
Menawarkan cahaya
Pada langkah tersuruk-suruk

Di sisi jalan yang miring dan bergelombang
Sebatang pohon
Menjatuhkan buah sia-sia

Seketika musim berganti: daun terlepas,
Ranting patah. Aku adalah lukisan
Musim gugur

Belum tiba hari kiamat
Belum datang saat kehancuran

Langit diliput awan gelap dan tebal

Hujan pun reda menjadi gerimis. Dia memelukku
Memberikan selimut. Membacakan kisah
Orang-orang yang bahagia

Baca juga:  Mahar Puisi

Indramayu, 2018

Faris Al Faisal, lahir dan tinggal di Desa Parean Girang Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Forum Masyarakat Sastra Indramayu (Formasi). Menulis karya fiksi dan nonfiksi.


[1] Disalin dari karya Faris Al Faisal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 3 Februari 2019