Buku Harian

Karya . Dikliping tanggal 4 Maret 2019 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Buku Harian

kaki ini, sulit berpijak di mana melangkah
sambil menjaga jarak dengan pikiran
untuk segera kembali dalam pelukan
badan yang tersisa di antara mata

hanya pandangan, mampu terpukau
segala lukisan alam membawa prasasti
akan tercatat dalam buku harian

: Hari ini, hitungan itu telah tertebus

– Padhepokan djagat djawa, magelang 2018

Jarak yang Tertinggal

mata ini, hanya bagian tatapan
jangkauan batas kendali nafsu
menghitung-hitung peradaban
telah diperoleh sepanjang jalan
tetap akan sama menjaga

dan, aku hanya melepas semua
pada kegelisahan

magelang -jakarta 2018

Dalam Suatu Tempat

Usai sudah pertarungan itu
dengan menggenapi setiap hati
menawarkan kerinduan janji
meski warna gelap selalu menganga

Telah ditentukan oleh permainan
harus terbayar lunas untuk menyelesaikan
dari tempat yang tersembunyi

Dari lorong kosong
nafas terasa sesak
mencari udara yang tersisa, di antara jaman

Tempat yang begitu lapang
membawa kedamaian jiwa
dalam satu impian : Kemenangan

– Padhepokan djagat djawa, magelang 2018

Pada Hitungan

Satu dan dua
itu yang mampu kudapat
untuk menyembunyikan udara
kedalam dada ini, dengan nafas tersisa

Tak mampu, aku
menanam keinginan mencuri
setiap gerak-gerik kabut
mendiami darah mengalir, tersimpan rapi

– Padhepokan djagat dajawa, magelang 2018

Secangkir Teh Sore Hari

secangkir teh ini masih hangat
dengan menimang-nimang senja
di dalam gedung penuh kata-kata
senyum menggetarkan sukma
menggenapi segala kelelahan

cangkir teh ini, telah kosong
menghilangkan rasa yang membayang
di ujung matahari sebentar lagi tenggelam
meninggalkan kampung halaman
sebatas hidup ini menorehkan catatan

hanya cangkir, tertinggal di atas meja
dengan sisa-sisa air yang terdampar
dikerongkongan kesunyian merambat
tanpa harus mengambil kembali
yang telah menjadi perjamuan bersama rembulan

– hotel Ibis Sunter, jakarta 2018

Mencari Tepian Malam

Mencari tepian
yang tersisa di antara wewangian
memacu kegelisahan terasa begitu lama
menjadi tonggak peradaban kembali terjaga
sebagai jawaban akhir untuk menginjak bumi

Rembulan tetap menggantung
di atas gedung bertingkat
sinarnya mampu menembus kedalam ruang
semakin sepi, bertarung dalam permainan
kalah, menang hanyalah batas pilihan

– Taman Ismail Marzuki, jakarta 2018


Triman Laksana, menulis dalam bahasa Jawa dan Indonesia. Bukunya yang sudah terbit: Sepincuk Rembulan (Antologi Geguritan, 2014).Menjaring Mata Anginî( Novel, 2015). Jejak Pertiwi (Novel, 2108). Juga mengelola gubug literasi ìPadhepokan Djagat Djawaî. Tinggal di Soto Citran. Jalan Raya Borobudur Km 1. Citran. Paremono.Mungkid. Magelang 56551.| “Kedaulatan Rakyat“.

Keterangan

[1] "Buku Harian" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 3 Maret 2019