Sabda Langit

Karya . Dikliping tanggal 8 April 2019 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Sabda Langit

 
bila kau kuasa menyayangi segala
maka sempurnalah kasih sayang sesama
 
seumpama curah hujan,
menjamah tanah kerontang
lahirlah benih tetumbuhan, rimbun;
tempat berlindung dan bergantung.
 
seumpama biru laut
mengeram karang dan lokan-lokan;
tempat menempa hidup bagi ikan-ikan.
 
seumpama matahari
memecah subuh dan pagi hari, memancar;
menyinari dan menghidupi segala yang di bumi.
 
Rumah Belimbing, 2018

 

Nyala Lilin pada Malammu

 
tak ada cahaya yang kuasa kunyalakan
hanya dari binar matamu, sinar itu kutemukan
 
tak ada bunyi yang kuasa kudendangkan
hanya dari kebisingan, lagu-lagu sumbang itu kerap
kudengarkan
 
tak ada perayaan yang kugelar dengan posisi bersing-
gungan
meski sering kali pesta itu dirayakan secara perorangan
 
tak ada hasrat kunyalakan api
hanya begitu kerap perasaan ini menyulut diri
 
tak ada yang bisa kubanggakan dalam sebuah perayaan
bila semua harus lahir dalam kepentingan
 
tak ada puisi dalam pesta malam ini
sebab tak cukup syarat “pertentangan” ini hati mengami-
ni.
 
Rumah Belimbing, 2018
 

Sunyi Magrib di Lubtara

 
desau burung-burung
terbata mengeja senja
memar langit dalam tiup angin tenggara
merangkul pucuk malam; merah muda
 
dalam hampar waktu; sentuh kening
menancap langit biru
sembap sungai di cekung mata
menua bersama pupusnya langit jingga
memanggil rahasia, yang sudah sekian lama
terpahat di dada. kini akan menyembul dalam
kekosongan-kekosongan
dan dahaga.
mekar kepal tangan, hanya akan menambah keganjilan
dalam langkah nan gamang
sunyi magrib di surau ini, sempurna
semakin menciptakanku dalam keterasingan.
 
Rumah Belimbing, 2018
 

Subuh Terakhir

 
ciprat putih di ufuk timur
membuka tirai gelap
subuh menyulur mengantar munajat
 
pada pekat, gurat tersirat di antara
memudarnya langit cokelat
berhambur; gelayut putih uap embun pagi
hinggap di hampar rerumput, menunggu jamah
matahari. berlari mengejar sunyi
tertinggal di mimpi malam hari
melebur ke laut uzur
di tikungan pagi, pendakian
belum seberapa dimulai.
Rumah Belimbing, 2018

Azizi Sulung, lahir di Sumenep, 7 Juli 1994, santri Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Puisi, cerpen, dan resensinya dimuat di beberapa media. Karyanya yang dibukukan Accident: Malapetaka Terencana (2011), Simposium (2012), Solitude (2012), Perempuan dan Bunga-Bunga (2014), Luka-Luka Bangsa (2015), Rampai Luka (2016), Senyuman Lembah Ijen (2018), dan Lelaki Pendosa (2018) | “Suara Merdeka
 

Keterangan

[1] "Sabda Langit" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Puisi, Suara Merdeka ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 7 April 2019