Di Beranda, Dingin Jadi Logam

Karya . Dikliping tanggal 6 Mei 2019 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

DI BERANDA, DINGIN JADI LOGAM

dering hujan seperti ujaran kebencian
di layar kaca ajaib yang meluapkan
derit suara kekisruhan.

sementara di beranda
dingin jadi logam dalam pelukan petang.
di saat angin bagai maling menyelinap
dalam kampung-kampung waktu
mencuri ternak rasa hangatku.

sungguh kesendirian teramat dingin di sini
bagai tangan mayat yang gelisah sebelum
di potong-potong malaikat siksa.

duh, ingin aku mengawini keriangan
tanpa kemurungan melukai. tapi bagaimana
dengan kata: makhluk tolol soal kebisingan
hidup ini.

apakah ia sudah siap hidup di luar kesunyian
hati manusia?

2018

BALADA MENANAM BINIS

setelah pagi terbentang di pematang sawah
kami bangkit dari dasar tidur kemudian terbang
ke sepetak sawah, tempat binis-binis berdiri
tegak menjunjung langit perawan: anak kandung
perselingkuhan gabah dengan tanah yang kami
kawinkan seminggu silamñlalu kaum tani
menyebutnya binis.

setelah tali, pisau dan tempat duduk rampung
kami siapkan. mulailah binis-binis kami cabut
sampai ke akar-akarnya. lalu seikat dua ikat
sekumpulan binis yang sudah saling merapat
dalam ember. tibalah mamak memikulnya
ke sawah yang lain.

Baca juga:  Kucing ltu Suamiku yang Membaca Buku

karena di sana orang-orang yang ibu undang
dengan tarif suka-rela telah datang dengan
tangan sudah siap untuk menanam. seperti
menanam pohon kebahagiaan untuk mereka
panen di musim depan.

sampailah mamak di pematang dengan mata
berkunang-kunangñdan bahu kesemutan
menanggung beban memikul serombangan
binis yang sudah siap ditancapkan ke bumi.

di tengah sawah ini kita bercerai sebagai
batang padi-hidup sendiri: berlomba-lomba
membikin anak-anak padi, agar kelak keringat
kuning tuan kita berbiji beras kegembiraan.

kata seikat binis sebelum terpisah dan berdiri
di tengah sawah: mengharap lebat hujan keberkahan
datang dari sehampar langit lebam.

2018

BALADA ANAK MENGGIRING BOLA

tiap senja tertusuk pucuk daun siwalan di pematang
pada pinggir jalan di sepetak sawah tak terpakai telah
terbengkalai. kusaksikan anak-anak bermain bola
seperti menggiring sebundar kebahagiaan yang akan
pecah ke sarang gawang lawan.

Baca juga:  Yang tak Hilang dari Ingatan - Surat Charles untuk Ibunya - Cinta: Membakar Cermin Waktu :Sirna - Garis-Garis Alegori [Aku]

Horee..! goll..! goll..!

jerit bahagia mereka meluapkan rasa gembira
pada lawan yang kalah sedang menundukkan kepala
meratapi lesatan tendangan demi tendangan di lapang-
an
hanya menghasilkan berpuluh-puluh tepisan kenangan
dari tangan penjaga gawang yang linu.

di luar lapangan mereka saling bagi membagi kebaha-
giaan
namun di tengah lapangan mereka tak memandang
kawan
semuanya adalah musuh di depan kaki-kakiñyang
harus
ditaklukkan demi sebuah gol kegembiraan.

kemudian ketika rerumputan hampir tak terpandang
dan surau-surau telah berkidung tentang magrib
merekapun terpanggil untuk pulang dan mengaji
sedangkan siapa kalahñsiapa menang di lapangan ke-
nangan
mereka jadikan bahan tawa dan ejekan sebagai peng-
antar
jalan pulang ke rumah dengan rasa pegal dan gembira.

2018

INGATAN YANG KABUR DARI KAMAR

di dalam kamar yang pintunya terbuat dari kejenuhan
tiba ingatan bangkit dari kasur yang gelisah
melangkah membuka mata-mata jendela yang terlelap
ternyata ia sekadar ingin menatap langit kenangan; ke-
bun
segala peristiwa purba gugur bagai hujan mengekalkan
keberkahan keabadian.

Baca juga:  Menjelang Sapu - Mensyukuri Sapu - Sapu Lidi - Sapu

lalu aku bercermin pada kecamata jendela berebun
ternyata yang kulihat kilau wajah kawan-kawan
kecilku mengalir: mengalirkan daun-daun sejarah
perkelahian, tangisan dan tawa bersama.

sungguh adakah kebahagiaan yang kekal di hati
jika segalanya berlalu di jalan masa lalu
sedang masa depan adalah hantu-hantu yang
mendewasakanku dengan ketakutan-ketakutan.

2018


Norrahman Alif, lahir di Jurang Ara, Sumenep Madura. Menulis puisi dan cerpen di Lesehan Sastra Kutub
Yogyakarta ( LSKY). Karya puisi dimuat di berbagai media | “Kedaulatan Rakyat

Keterangan

[1] "Di Beranda, Dingin Jadi Logam" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 5 Mei 2019