Pulang, Rindu Terahasiakan

Karya . Dikliping tanggal 30 Mei 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
DUDUK di bangku ditemani sebotol air mineral di atas meja kecil yang dinaungi atap dari ijuk, aku memandang ke arah air yang tak pernah bosan terjun dari atas ketinggian sekitar 40 meter dan menggelepar di bebatuan untuk kemudian mengarus merupa sebuah sungai yang cukup deras. Aku juga melihat ada beberapa anak muda yang berada di atas air terjun itu, berteriak-teriak agar dilihat para pengunjung yang berada di bawah. Pemandangan itu menyebabkan aku merasa sedang dihinggapi deja vu. 
45 tahun yang lalu di tempat ini aku pernah merasakan suasana hati yang sama, walau saat itu belum ada gazebo-gazebo dan banyak pengunjung seperti sekarang ini. O, betapa indahnya sebuah kerinduan yang terahasiakan. 
“Kira-kira seperti inilah tempat tujuh bidadari mandi dan diintip oleh Jaka Tarub,” ceritaku waktu itu kepada teman gadisku yang juga lawan mainku pada sebuah pementasan teater. 
“Dan, di luar pentas, kamu juga seperti Jaka Tarub, suka mengintip orang mandi ya, Mas?” canda teman gadisku yang berperan sebagai Nawangwulan. 
“Hahaha…, tidaklah,” kataku meyakinkannya. 
“Cinta itu seperti air terjun,” sambungku, ”kadang bergemuruh karena volume air yang besar, tapi kadang hanya mericik seperti gerimis bila volume airnya kecil. Tapi, ia selalu setia memancur dan mengalirkan air, tak pernah kering cintanya.” 
Saat itu aku menghela napas setelah meluncurkan kalimat yang sok filosofis itu. Saat ini aku pun melakukan hal yang serupa dengan makna yang lain. Yang jelas, rasa nyeri kurasakan seakan tertikam ujung pisau hingga menyentuh jantungku. 
Tiba-tiba ada sesuatu yang membikin sesak napasku. Seorang gadis muda dengan dandanan dan pakaian sederhana mendekatiku dan duduk di bangku yang kududuki. Kini kami duduk bersebelahan. Aku jadi merasa kikuk sekaligus takjub. 
“Empat puluh tahun lebih aku menunggumu di tempat ini, Mas”. 
Walau lirih, aku tak pangling akan suara itu. Hanya dialah pemilik suara semerdu itu. Tapi kenapa sosoknya masih tetap muda sebagaimana empat puluh lima tahun yang lalu? 
“Nawang? Engkaukah?” 
Nawang, begitu teman gadisku dulu kupanggil dengan nama kesayangan, hanya mengangguk dan tersenyum. 
“Ke mana saja kamu selama ini? Engkau menghilang begitu saja dari kehidupan ini?” 
“Itu tidak penting, Mas? Ada yang jauh lebih penting.” 
“Apa maksudmu dengan yang lebih penting?” 
Nawang menggelengkan kepala dan tersenyum sinis kepadaku. 
“Kini jawablah, Mas. Kenyataannya, siapa yang jadi pengkhianat dan siapa yang tersakiti?” 
Sekarang aku merasa duduk sebagai pesakitan dan berhak membela diri. 
“Aku tidak pernah merasa sebagai pengkhianat, Nawang. Justru kamu yang waktu itu berkhianat. Kamu melakukan perselingkuhan di belakangku dengan seseorang.” 
“Kamu salah, Mas,” kata Nawang dengan nada yang dingin. “Bukankah sudah kujelaskan, aku dan Rilo, arranger musik itu, tidak ada hubungan apa pun selain pertemanan antara sesama anggota teater.” 
“Aku tidak percaya!” sergahku. 
“Kamu lebih memercayai perasaan cemburumu yang terlampau berlebihan, Mas.” 
Aku terdiam. 
“Nyatanya, siapa yang kemudian menikah terlebih dulu? Kamu, kan, Mas?” 
Aku semakin tersudut. 
“Dan selama hidupku, aku tetap memelihara kesetiaanku kepadamu. Bahkan, aku tetap memelihara keperawananku demi janji setia itu. Dan harap kamu tahu, Mas, betapa sakitnya hati ini selama itu.” 
Ada sesuatu yang terasa membuat lengket kerongkonganku. 
“Walau kita terpisah tanpa kabar berita selama lebih dari empat puluh tahun, aku tahu dengan siapa Mas datang ke tempat ini hari ini.” 
Lagi sebuah tikaman menghunjam begitu dalam ke ulu hatiku. 
“Kalau benar begitu, aku mohon maaf, Nawang.” 
Wajah Nawang yang pias menyunggingkan senyum kecil. Tapi itu membuat segalanya menjadi indah. Apalagi anak rambut di sekitar telinganya terkibar oleh angin. 
Lalu meluncurlah kata-katanya dengan nada sendu. 
“Kata-kata itulah yang kunantikan di tempat ini lebih dari empat puluh tahun. Sekarang yakinlah, Mas, bahwa aku tetap mencintaimu dan bersetia padamu.” 
Kata-katanya itu tidak bisa tidak membuatku tertegun. 
“Nawang, maafkanlah aku.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. 
“Sampai akhir hayatku, Mas.” 
Kembali leherku serasa tercekik. 
“Kamu keliru kalau mencurigai Rilo, Mas. Sebenarnya orang yang paling berbahaya itu Si Sutradara, Haryo.” 
“O iya, Haryo sangat berbahaya. Aku juga mendengar sekian tahun yang lalu ia telah ditangkap polisi karena ternyata ia seorang psikopat, pembunuh berdarah dingin. Ia melakukan beberapa kali pembunuhan.” 
“Tapi tak ada seorang pun yang tahu ketika jauh sekian tahun sebelumnya ia mencoba memerkosaku. Entah kenapa aku mau saja dibawa ke tempat ini. Namun, demi menjaga kehormatan dan kesetiaanku padamu, aku rela harus didorong dari ketinggian itu dan jatuh lumat di bebatuan itu,” kata Nawang dengan menunjuk ke atas air terjun kemudian turun mengarah pada bebatuan besar itu. 
“Nawang, apa maksudmu?” 
“Sekarang aku puas bisa menjelaskan akan kesetiaanku padamu, Mas. Aku harus kembali.” 
Nawang kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju air terjun itu. Banyak para pengunjung yang berseliweran, tapi seakan tak mengacuhkan seorang gadis yang berjalan menuju bawah air terjun itu. Sekali Nawang menoleh dan melambaikan tangannya, seakan mengajakku untuk mengikutinya. Tiba-tiba dengan tersenyum ia menenggelamkan dirinya secara pelan-pelan di bawah air terjun itu. 
Aku terpesona menyaksikan pemandangan itu. Entah kenapa hatiku seakan terikat oleh tambang yang kuat dan menarikku untuk melangkah ke sana. Kurasakan ada sebuah kedamaian yang lain di bawah air terjun itu. 
“Mbah…, Mbah….! mau ke mana?” teriak seseorang yang suaranya sangat kukenal memanggilku. 
Aku menghentikan langkah dengan tongkatku. 
“Ayo, Mbah, kita turun! Bapak, Ibu, dan adik-adik sudah menunggu untuk makan siang.” kata cucuku, seorang pemuda yang sebentar lagi jadi mahasiswa, seraya membimbingku. 
Aku tersadar ke alam nyata dan tidak harus menuruti perasaan saja. Betapa pun aku lebih memilih mengikuti dan menyatu bersama anak-cucuku tersayang. 
Kudus, 2016 

*) Penyair Yudhi Ms, sebelum meninggal di Kudus, Kamis 26 Mei 2016, mengirimkan cerpen ke Rubrik Budaya KR Minggu. Dalam kata pengantar, “Mas, saya titip cerpen ini..” tulisnya. ❑-k 
Rujukan:
[1] Disalin dari karyaYudhi Ms
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu 29 Mei 2016
Beri Nilai-Bintang!