Pulsa

Karya . Dikliping tanggal 5 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi

PONSEL Adit tiba-tiba bergetar. Ada kiriman WA dari Rano, kawan SMA yang terakhir kali ketemu di media sosial. “Dit, kamu bisa datang kan ke reunian seminggu lagi?”

Adit jawab WA Rano, “Pulsaku sebentar lagi habis.”

Tidak perlu menunggu lama, balasan WA Rano sudah tiba.

“Aku belikan ya.”

Adit tertegun membacanya. Betapa baiknya dia. Balasan segera Adit tulis. “Memangnya berapa kamu mau belikan?”

Sedetik kemudian, balasan WA daro Rano tiba.

“Dua puluh lima ribu ya, kan cukup buat WA-nan.”

Adit menghela napas sebentar. Lalu kembali membalas WA Rano. “Boleh juga.”

Setengah jam kemudian, datang balasan Rano.

“Pulsanya dua puluh lima ribu kata penjualnya habis, mau beli pulsa lima puluh ribu tapi duitnya gak cukup.”

Adit kembali tertegun membaca balasan Rano. Kali ini Adit tak langsung membalas, biar Rano anggap pulsanya habis. Ponsel Adit diletakkan di atas meja belajar, bersanding dengan mangkuk bekas mie dan segelas teh manis yang tinggal setengah.

Adit mengintip dari balik korden jendela dekat tempatnya aduduk, hujan yang tadinya rintik-rintik kini berubah deras di luar rumah. Tampaknya pawang hujan sangat diperlukan untuk bisa mengusir hujan pergi jauh. Agar Ade, sang kakak cepat pulang. Tak membuatnya seperti orang kesepian di rumah.

Ponsel Adit kali ini berdering. Sebuah telepon masuk, dari Rara pacarnya. Segera diangkat teleponnya. Tanpa basa-basi pertanyaan langsung meluncur dari mulut Rara.

“Kok semingguan ini nggak pernah telepon aku?”

Pertanyaan tak bisa dijawab. Adit terdiam cukup lama.

“Kamu sudah nggak sayang lagi ya sama aku?” rara mempertegas pertanyaannya.

“Bukannya aku ngak sayang sama kamu, cuma pulsaku masa aktifnya nggak lama lagi habis.”

“Bohong,” kata Rara kesal di ujung telepon.

“Tapi masa aktif cintaku padamu nggak akan habis selamanya, sayang.”

“Gombal..,” kata rara sambil tertawa kecil mendengar perkataan Adit di ujung telepon.

“Kapan kita mau jalan lagi?” Rara melontarkan pertanyaan lagi.

“Sebenarnya aku bisa, sayang. Tapi duitnya mau aku pakai dulu buat beli pulsa.”

“Jadi kamu sayang duitmu buat beli pulsa ketimbang ajak aku jalan, gitu?!”

“Bukan begitu, aku hanya ingin ketika aku rindu kamu, aku hanya bisa membayangkanmu tanpa bisa mendengar suaramu gegara nggak ada pulsaku buat telepon kamu.”

Terdengar Rara kembali tertawa kecil di ujung telepon.

“Ya sudah, sekarang kamu cepetan beli pulsanya.”

“Oke,” Adit lantas menutup teleponnya. Lalu bergegas memakai jaket dan tak lupa membawa payung. Kemudian pergi ke penjual pulsa langganan di ujung jalan.

“Mas, beli pulsa dua puluh lima ribu,” kata Adit membacakan nomor ponselnya. Si penjual lantas memasukkan pulsanya.

“Sudah masuk,” sahut penjualnya. Adit mengangguk sambil membayarnya.

Adit ditanya penjualnya. “Masnya kan baru seminggu lalu beli pulsa di sini, kok cepat habisnya, buat teleponan atau SMS-an pacar ya?”

“Enggak.”

“Lha terus kok sekarang beli pulsa lagi?” tanya penjual lagi.

“Buat perpanjangan masa aktif, Mas. Sekarang kan lebih singkat masanya.”

Adit yang sedang memeriksa pulsanya terkejut ketika tiba-tiba sebuah jeweran mendarat di kuping kirinya.

“Suruh jaga rumah, malah kelayapan beli pulsa.”

“Ampun, Kak. Adit cuma beli pulsa doang.”

“Bohong! Kamu kan bisa telepon Kakak buat beliin pulsa.”

“Pulsa Adit tinggal sedikit, Kak.”

“Sudah jangan banyak alasan, ayo pulang!!” teriak Ade, sang kakak, marah.

Sambil berjalan pulang ke rumah, ia tak melepaskan jeweran sedikitpun. Adit berjalan dengan menahan kesakitan di kuping kirinya.

Yogya, 3 Agustus 2018

Herumawan Prasetyo Adhie. Jalan Wonosari KM9, Dusun Sribit Kidul Sendang Tirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta

[1] Disalin dari karya Herumawan Prasetyo Adhie
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 2 September 2018