Putri Raja dan Babi Hutan

Karya . Dikliping tanggal 8 Agustus 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
PADA minggu pertama bekerja
sebagai asisten rumah tangga di
negeri jiran, Ramini menemukan
lelaki yang pernah datang
dalam mimpinya. Ia adalah sopir
tetangga majikannya. Berkulit hitam,
bertubuh pendek kekar, dan bersorot
mata tajam. Namanya Mustafa, lelaki
asal Bangaladesh yang memiliki
senyum manis. Beberapa detik setelah
berkenalan Ramini langsung jatuh
cinta dan meyakini bahwa laki-laki ini
adalah sosok yang pernah menyelamatkannya
pada kehidupan sebelumnya. 
 Maka tanpa merasa perlu berlamalama
mempertimbangkan, Ramini
mengirim pesan kepada Bardi,
suaminya, di Purworejo supaya
menceraikannya. Jangan berharap dan
menunggu kepulangannya karena ia
akan menikah dengan lelaki
Bangladesh itu. Ramini meminta maaf
dan berjanji akan mengirim uang
untuk mengurus perceraian mereka
secepatnya. Ramini tidak peduli
bahwa pesan itu bagai gempa bagi
Bardi memerosokkan laki-laki itu ke
palung bumi tanpa ampun. 
”Nanti kukirim juga uang ganti
rugi buat kamu,” kata Ramini. Dia
mendengar di sambungan telepon
Bardi memaki-maki.
Menuduhnya perempuan sundal.
Tak setia. Pengkhianat
dan sederet tuduhan lainnya.
Tetapi Ramini
mengabaikannya. Ia
sudah terlalu sering
mendengar makian
semacam itu dari mulut
busuk Bardi. Tentu saja
Ramini tak menceritakan
makian suaminya
kepada Mustafa karena
lelaki itu memang tidak
bertanya. 
Mustafa hanya
manggut-manggut ketika
Ramini menceritakan
bahwa ia adalah lelaki
yang pernah datang dalam
mimpi dan sosok yang
menyelamatkan dirinya pada
kehidupan sebelumnya, beberapa
malam setelah mereka
menikah di sela pergumulan mereka
yang seakan tiada habisnya.
Ramini juga bercerita betapa
bertahun-tahun sudah dirinya mencari
dan hampir berputus asa. ”Kalau aku
tidak malu dibilang tidak laku aku
nggak akan menikah sebelum ketemu
kamu, Mus,” ujarnya manja. 
”Jadi kamu pernah bersuami,
Ramini?” tanya Mustafa agak terkejut. 
”Dia adalah laki-laki tolol dan
pemalas yang pernah kujumpai dalam
hidupku,” ujar Ramini. Mau tak mau
ia terkenang Bardi, lelaki yang sangat
ia benci dan ingin dilupakannya sama
sekali. Ramini menikah dengan Bardi
karena dijodohkan orang tuanya. Ia
tak kuasa menolak karena di desa
perempuan seusia dia memang sudah
pantas untuk menikah. Ramini sama
sekali tidak mencintai Bardi. Penyebabnya
laki-laki itu tidak hanya
tolol dan pemalas, tapi juga kejam.
Dia gemar memukul Ramini hanya
oleh sebab-sebab yang sepele. Semisal
telat membuatkan kopi, kopi buatannya
terlalu manis dan sejenisnya. 
Ketololan Bardi membuat Ramini
makin yakin bahwa ia harus mencari
lelaki yang datang dalam mimpinya
itu. Dialah kini yang akan menyelamatkan
hidupnya. Bardi rupanya tahu
perihal mimpi Ramini dan kekasih
sebelum kehidupannya yang sekarang.
Itulah yang membuat Bardi makin
berlaku kejam. 
”Jadi kamu masih mengharapkan
laki-laki dalam mimpimu itu? Kekasih
pada kehidupanmu sebelumnya?
Dasar sundal!” kata Bardi sambil
menyiramkan air kopi yang baru disuguhkan
Ramini. Ia memang dapat
berkelit dari air kopi yang masih
mengepul itu, tapi tidak dari cengkeraman
Bardi pada rambutnya dan
gamparan Bardi pada wajahnya.
Sesudahnya Bardi mengunci Ramini
di dalam kamar dua hari dua malam. 
Bardi anak saudagar bawang ternama
di desanya yang selalu ingin terlihat
perlente. Mungkin karena itulah ia
pemalas. Ketika kejayaan orang
tuanya meredup perlahan-lahan sifat
pemalas Bardi tidak berubah. Mereka
terusir dari rumah
besar dan pindah
ke rumah
yang lebih kecil
dari sisa hartanya
yang habis untuk
melunasi hutanghutang
kepada bank
dan rentenir. Tak lama
kemudian kedua orang
tuanya satu persatu menemui ajalnya.
Namun itu tak mencegah Bardi untuk
terus mabuk-mabukan sampai sisa
hartanya benar-benar ludas. 
Seiring keuangannya yang makin
terpuruk kekejaman Bardi kepada
Ramini terus meningkat. Ia makin
gemar menempeleng Ramini setiap
dilihatnya Ramini melamun yang
dikiranya tengah memikirkan laki-laki
dalam mimpinya. Berkali-kali Ramini
mencoba kabur ke rumah orang
tuanya namun berkali-kali pula Bardi
berhasil membawanya kembali. Ia tak
mau kehilangan Ramini, selain ia
memang cantik, Bardi tak ingin kehilangan
obyek untuk melampiaskan
hasratnya menghajar orang, terutama
saat kalah judi. Bardi seperti mendapat
kepuasan setiap habis menyiksa
Ramini. 
Ketika tak ada lagi barang berharga
yang bisa dijualnya untuk main judi,
dipaksanya Ramini bekerja di gudang
bawang yanag dulu miliknya. Tetapi
itu tentu saja tidak cukup untuk membiayai
gaya hidup leha-leha Bardi.
Maka Bardi bergembira ketika Ramini
berniat berangkat jadi TKW ke luar
negeri. 
*** 
”Kenapa kamu baru mengatakannya
sekarang bahwa kamu sudah pernah
bersuami?” Mustafa bertanya
dengan sorot matanya yang tajam dan
terlihat mengerikan. 
”Apakah kamu keberatan aku pernah
bersuami? Bukankah sekarang
aku milikmu seutuhnya?”
Suaminya
yang tadi
merasa tidak
senang, kembali
merangkul Ramini
dan menciumi perempuan
itu. Betapa ruginya melepaskan
Ramini yang cantik hanya gara-gara
perempuan itu pernah menikah dan
baru menceritakannya sekarang.
Mustafa melihat kondisi fisiknya yang
sama sekali tidak menarik: pendek
hitam. Hanya sebuah kecelakaan yang
membuat ada perempuan secantik
Ramini bisa begitu mencintainya. 
”Ramini bolehkah aku bertanya
bagaimana kamu yakin aku adalah
laki-laki yang datang dalam mimpimu
dan kekasih pada kehidupan kamu
sebelum ini?” tanya Mustafa, pertanyaan
yang kemudian ia sesali
sendiri karena hal itu terdengar seperti
‘kenapa perempuan secantik kamu
mecintai laki-laki sejelek diriku?’ 
”Itu tidak penting, Mustafa,” sergah
Ramini.
”Ya itu memang tidak penting,”
timpal Mustafa serayu menciumi
Ramini. Sejujurnya, bagi Mustafa
sebuah keberuntungan mendapatkan
perempuan secantik Ramini. Tidak
penting mengetahui apa sesungguhnya
yang melatar belakanginya.
Seandanya itu lantaran Ramini memiliki
persoalan kejiwaan, Mustafa tak
akan peduli. Pembicaraan Ramini tentang
bahwa dirinya adalah kekasihnya
di masa kehidupan sebelumnya sungguh
tak ia pahami. Dan Mustafa
memilih untuk tak menyinggungnya
sama sekali. Pilihan itu sangat tepat
dan membuat kehidupan perkawinan
mereka tak mengalamai masalah dan
lumayan bahagia. 
Sampai pada suatu malam Ramini
tanpa sengaja menceritakan hidupnya
sebelum hidupnya yang sekarang.
Ramini mengatakan bahwa pada masa
lalu ia adalah putri raja yang terusir
dari istana lantaran melawan ayahanda
baginda raja. Ia hidup sebagai
buronan yang lari dari hutan ke hutan.
Suatu hari ia hampir saja tertangkap
oleh pasukan pemburu seandainya
tidak muncul seekor babi hutan yang
mengacaukan pasukan pemburu
sehingga sang putri raja itu lolos
dari pengejaran. Mula-mula
Mustafa menganggap itu hanya
bualan Ramini, tapi bila
makin dipikir lama-lama
membuat Mustafa tersinggung
dan mulai suka
marah-marah. 
Bardi tidak puas
dengan jawaban Ramini.
Bardi ingin bertanya lebih
jauh tentang kehidupan
Ramini sebelum kehidupannya
yang sekarang dan
bagaimana ia bisa membuktikan
omongannya. Ia sungguh
penasaran, namun pada saat
yang sama keingintahuannya
seperti menyakiti diri sendiri. Itu
membuat pikirannya tidak tenang, ia
merasa tergganggu, terutama pada
bagian cerita bahwa ia dulunya adalah
seekor babi hutan. 
”Tidak usah marah dan tersinggung, suamiku. Sekarang kita adalah sepasang manusia yang saling mencintai,” kata Ramini. 
Itu akhirnya meledak ketika
dalam sebuah pertengkaran kecil,
Ramini memaki, ”dasar babi hutan!”
Dan itu menjadi awal dari kerumitan
hubungan pernikahan mereka.
Ramini mulai meragukan keyakinannya
semula. Lalu mengingat-ingat
lelaki dalam mimpinya itu
secara lebih teliti. 
”Kamu bukan lelaki dalam mimpi
itu. Kamu bukan babi hutan yang pernah
menyelamatkanku!” Simpul
Ramini akhirnya pada suatu malam
sesuai pertengkaran yang hebat
dengan Mustafa. Itulah simpulan yang
diharapkan Mustafa. Namun justru
karena pula itu, Ramini ingin meninggalkannya.
Ramini hanya ingin menemukan
lelaki dalam mimpinya yang
tak lain seekor babi hutan! (92) 

Aris Kurniawan, lahir di Cirebon
24 Agustus 1976. Menulis cerpen,
puisi, resensi, esai untuk sejumlah
penerbitan. Buku cerpen dan puisinya
yang telah terbit: Lagu Cinta untuk
Tuhan (2005); dan Lari dari
Persembunyian (Kumpulan Puisi,
2007).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aris Kurniawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu, 7 Agustus 2016