Pyrenees – Menuju Tarbes – Notre-Dame de la Croix – Lukisan Tak Dikenal – Jantung Musim Gugur – Ludah orang suci –

Karya . Dikliping tanggal 1 Januari 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Pyrenees

– Truly, Stephane

Langit biru
Salju bagaikan suus yang dituangkan
ke puncak pegunungan. Suara angin
Dingin yang memilin dan bergulung:
lebih berkuasa dari cahaya
Srigala putih di puncak pegunungan
Utusan langit biru. Pembawa kutukan 
Mata panas menyalang: lapar yang lebih 
berkuasa dari waktu 
Srigala putih di salju pegunungan 
Mengucur liurnya. Bayang daging 
di taringnya. Jejak kaki yang dalam 
di salju, tebing, dan batuan. Ia diam 
bagaikan dinding 
Salju bagaikan susu yang dituangkan 
ke puncak pegunungan. Srigala putih 
di lembah tak berangin. Ia diam 
sebagaimana dendam. Mata panas 
menyalang: lebih berkuasa 
dari segala utusan 
Langit merah 2016 

Menuju Tarbes 

Tujuh jam menuju Tarbes 
Kereta melata seperti ular 
Membelah bentangan kebun kubis, 
hutan-hutan merah musim gugur 
Melintasi Bordeaux ladang-ladang 
anggur menyerupai puing-puing 
sebuah kota 
Tak ada yang mesti kuingat 
Juga perumpamaan bagi kehancuran 
dan keindahan. Seperti tanah air 
kata-kataku bergulingan dalam 
deru angin yang beku 
Jangan pulang, di situ saja, 
di sini berisik, pesanmu 
Kupandangi segala yang berkakuan 
Pepohonan kurus, langit putih, kampung 
yang murung, jalan menuju gereja, 
rumah-rumah tua dengan hantu anak kecil 
berambut jagung 
Aku ingin tidur. Tak ada lagi 
yang mesti kuingat. Juga perumpamaan 
agi keindahan yang menghancurkan 
Seperti tanah air yang penuh ludah, salju 
berceceran di padang lengang, burung gagak, 
puing-puing kebun anggur. Dan musim 
gugur yang menderu 
Jangan pulang, di situ saja, 
di sini berisik, pesanmu 
Menuju Tarbes 
Kereta melata seperti ular 
2016 

Notre-Dame de la Croix

Dalam lidahmu yang biru 
Kata-kataku tumbuh. Menjalar 
ke punggung dingin. Mencukil 
tulang. Menetes sumsum dan sperma 
Menetesi tuts piano 
Di bawah bayang menara dan patung 
orang suci. Aku melihat gaunmu tanggal 
Lalu anak-anakku lahir dan beribu 
pada suara burung gagak 
Sebelum hari menemukan kata 
Sebelum selesai nyanyian 
Dalam lidahmu yang biru 
Aku menulis dan memanggul tubuhmu 
Menyimpan puing nyanyian. Dingin 
yang hitam: rahasia antara tuts piano 
dan jemari tanganmu yang terus tumbuh 
dan berjatuhan… 
2016 

Lukisan Tak Dikenal 

– musée des beaux arts 

Dataran lengang itu tersusun dari balok es 
Aku berjalan telanjang di luar yang tersebut 
tubuh. Kedua tanganku terkebat ke belakang 
Langit biru tak bermatahari 
Tak ada angin. Tapi ingatanku penuh suara 
Sebutir jeruk yang jatuh, desis air panas di ceret, 
pasukan infantri di semak, popor bedil 
di tulang pelipis 
Telingaku mengeluarkan darah 
di luar warna yang tersebut merah 
Tubuhku telanjang. Berjalan di dataran 
balok es yang lengang. Bangkai burung 
dan waktu. Pikiranku entah siapa 
yang mengebat. Langit putih berasal 
dari kain kafanku 
Mulutku terus bicara 
Di luar yang tersebut kata 
2016 

Akhir Musim Gugur

Di akhir musim gugur
suaraku berdiam di pepohonan
Lidah angin sedingin orang mati
Suaraku melayang dalam lembarang daun
Seperti gerimis. Seperti arwah
Dingin membuatku ingin terus berjalan
Meski tetap tak bisa kuingat: di kelok
mana dulu musim panas mengambil
bayang tubuhku
Jalan lurus ke lapang terbuka 
Orang berjalan memeluk tubuhnya 
Patung pahlawan bertumpuk dan tampak 
menyedihkan. Lonceng gereja terdengar 
lebih keras dari wajah para imigran 
Lalu aku di muka kedai-kedai kopi 
Suara manusia: lidah dan ludahnya 
Dingin membuatku ingin terus berjalan 
Kulihat suaraku di kelok musim. Bertiup 
dan bernyanyi. Menyeru bayang tubuhku 
Bayang yang berdiam di akhir musim gugur 
Yang berkuasa di jantung angin 
Seperti gerimis. Seperti arwah 
2016

Ludah Orang Suci 

Ludah orang suci itu menyeru darah 
Di jubahnya orang sekaum berseru: 
Bunuh! 
Bawa kayu bakar. Ikat dia di tiang 
Biarkan api menyala. Hukum lama 
biar berlaku 
Jubah orang suci 
penuh asap mayat dan abu 
Dipandangnya langit biru 
Telah kuhabisi penistaMu… 
Lidah orang suci 
Jubah orang mati 
2016 

Jantung Musim Gugur 

Musim gugur adalah 
kehancuran yang indah 
Serupa orang suci 
yang memilin lidah 
2016
Ahda Imran lahir di Kanagarian Baruhgunung, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Kumpulan puisinya antara lain Rusa Berbulu Merah (2014). Ia tinggal dan bekerja di Bandung.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahda Imran
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Sabtu 31 Desember 2016