Raba’a Berdarah

Karya . Dikliping tanggal 5 September 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika
ANGIN Gurun Sinai berembus lembut di pertengahan Juli ini. Lembah Najmi tampak tenang dengan hamparan pasirnya yang berwarna cokelat keemasan. Ditingkahi semburat warna lembayung senja di ufuk Bukit Ihuday, Mesir seolah memanggil para pelancong untuk menikmati keindahan alamnya yang eksotis dan menawan.
Namun, epmandangan dan siluet alam itu lenyap seketika tatkala aku datang ke kammp-kamp para demonstran pro-Mursi di Raba’a al adawiyah dan lapangan Al Nahda. Di sana, puluhan ribu rakyat Mesir turun ke jalan dan bertahan di kedua lokasi itu selama hampir enam pekan semenjak digulingkannya presiden terpilih Muhammad Mursi oleh militer Mesir.
Sore ini 13 Agustus 2013, genap satu bulan aku berada di Negeri Para Nabi. Hal itu karena tugasku sebagai seorang kuli tinta di sebuah surat kabar di ibu kota. Bersama Azzam, fotografer rekanku sekantor, kami berada di base camp para demonstran untuk meliput aksi damai mereka.
Tampak orang-orang dewasa, wanita, tua, muda dan anak-anak dengan penuh semangat bertahan di kamp-kamp yang terbuat dari terpal, meskipun suhu udara mencapai 40 derajat. Di wajah mereka tak tampak rasa lelah. Tak ada keluhan yang terdengar. Dengan lantang mereka meneriakkan tuntutan kepada pemerintahan kudeta Mesir yang saat ini dipimpin oleh militer, untuk membebaskan mantan presiden Muhammad Mursi yang sampai detik ini tak diketahui bagaimana keadaannya.
Mereka sama sekali tak bergeming, bahkan tidak gentar dengan ancaman pasukan militer yang akan membubarkan mereka secara paksa bahkan dengan menggunakan kekerasan, apabila para demonstran pro Mursi dan Ikhwanul Muslimin tetap berada di raba’a Al Adawiyah dan Al Nahda.
Di antara para demonstran itu, ada seorang bayi mungil yang tertidur pulas dalam gendongan ibunya di bawah tenda. Kulangkahkan kaki mendekati mereka. Kulihat Azzam tengah mendokumentasikan foto-foto para demonstran yang berorasi. Wanita itu menoleh dan tersenyum saat aku tiba di dekatnya.
Kutanyakan berapa usia bayinya dan jawabannya sungguh mengagetkanku. Dalam bahasa Ingris bercampur Arab, dia menjawab bahwa bayinya berusia empat pekan. Bayi itu dilahirkan saat kedua orang tuanya ikut serta berunjuk rasa pada awal Ramadhan lalu.
Kemudian dengan lembut dia mengusap kepala bayinya sembari berkata, “Mu’tasim, kamu memberinya nama itu. Orang yang menuntut hak, itu arti dari namanya. Jikalau takdir menghendaki, putra pertama kami akan menjadi syuhada.” Bibir wanita itu tersenyum.
Seolah dia telah rela menyerahkan hidupnya juga anak dalam gendongannya untuk mati syahid membela hak-hak mereka. Kutanyakan kepada seorang wanita paruh baya di sebelah ibu muda itu, apa mereka tidak khawatir apabila sewaktu-waktu polisi dan tentara datang untuk membubarkan para demonstran secara paksa.
Sungguh lagi-lagi aku dibuat takjub oleh jawabannya, “Hidup mati di tangan Allah. Kalau tidak mati saat ini, pasti kematian akan datang di lain waktu bukan? Jadi lebih baik aku mati dalam menuntut hak-hakku daripada terbaring di tempat tidur tanpa melakukan apa-apa melihat pemimpin terpilih kami digulingkan.” Wajah merindukan surga-Nya tergambar jelas di balik senyum wanita paruh baya ini.
Setelah cukup bercakap-cakap dan bertanya tentang berbagai hal, segera kucari Azzam yang masih memfoto berbagai aktivitas yang dilakukan oleh para demonstran. Kulihat dia tengah berada di dekat panggung yang digunakan untuk berorasi. Tiba di dekatnya, sengaja kubiarkan dia fokus dengan bidikannya.
Saat menyadari kehadiranku, Azzam pun spontan berkata, “Aku akan bermalam di sini. Tadi sempat berbicara dengan para demonstran dan mereka mengatakan nanti malam akan diadakan rapat untuk membahas rencana aksi unjuk rasa selanjutnya.”
Aku menyetujuinya dan akan ikut serta bermalam di tempat ini. Malam pun tiba. Orang-orang dewasa berkumpul dan membahas tentang peta perjuangan dan aksi damai mereka. Sedangkan, para wanita dan anak-anak tampak tidur di tenda-tenda berselimutkan malam.

14 Agustus 2013

PAGI hari sekira pukul enam, suasana base camp para demonstran pro-Mursi tampak lengang. Wanita dan anak-anak masih berada di dalam tenda. Tampak para lelaki hilir mudik untuk mempersiapkan aksi hari ini. Aku dan Azzam berdiri di antara tenda yang menghadap langsung ke arah rumah sakit darurat Raba’a.
Secara tiba-tiba, bulu kudukku berdiri seolah ada yang mengembuskan hawa dingin. Padahal, matahari bersinar terang meskipun masih pagi. Lalu, tanpa ada tanda apa pun, tiba-tiba terdengar bunyi serentetan tembakan memecah ketenangan.
Suara peluru berdesing, bercampur teriakan dan tangisan anak-anak serta wanita membahana di sekelilingku. Sadar ada serangan dari militer, para demonstran mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid untuk membangkitkan semangat rekan mereka agar tak gentar.
Hanya beberapa detiik berselang, tragedi berdarah terjadi tepat di depan mata kami. Dari berbagai penjuru muncul kendaraan lapis baja, mobil-mobil polisi, dan buldoser. Tampak tentara juga polisi mengenakan rompi antipeluru yang bersenjatakan senapan serbu menembaki siapa pun yang ada di depan mereka.
Pasukan itu menyerbu masuk ke kamp Rabaa Al Adawiyah, tempat pendukung Mursi berunjuk rasa. Gumpalan asap hitam dan putih membubung akibat tenda-tenda yang terbakar. Tabung gas air mata berhamburan. Sementara, buldoser menabrak tenda dan merobek pagar pelindung para demonstran yang terbuat dari  pasir.
Serangan tiba-tiba itu telah mengubah jalanan menjadi zona perang. Ratusan mayat pengunjuk rasa bergelimpangan. Aku dan Azzam jatuh ke trotoar. Merangkak menuju sebuah bangunan yang terlindung pada dua sisi dari jalan. Kami berlindung di sana.
Azzam membidikkan lensa kameranya puluhan kali. Dia berusaha untuk mendokumentasikan setiap detail peristiwa berdarah yang kini terjadi di depan mata kami. Aku terkejut dengan tindakan nekatnya, sewaktu-waktu peluru dari penembak jitu yang menembaki demonstran dari atap gedung di sekeliling kamp bisa mengenainya..
Segera kutarik tangannya agar dia kembali berlindung. Namun, Azzam menolak. “Aku harus mendokumentasikan peristiwa ini, Tya. Kita harus kabarkan pada dunia luar bahwa militer Mesir melakukan pembantaian pada rakyat mereka sendiri. Kita memang tak bisa melawan mereka. Tapi, setidaknya dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.”
Setelah berucap demikian, dia keluar dari tempat perlindungan dan menghambur ke arah massa pro-Mursi yang berbaris tepat di garis pemisah dengan ratusan polisi berpakaian hitam. “Dengan hidup dan darah, kita berkorban untuk Islam,” teriak mereka di antara desing peluru. Di sisi lain, terlihat petugas menjatuhkan seorang pemuda dengan tembakan di kepala dan menangkap seorang lagi yang masih hidup.
Pada saat yang sama, di depanku lewat seorang pilisi sedang menyeret seorang wanita bersama bayinya. Aku mengenali wanita itu. Dia adalah ibu muda yang sehari sebelumnya berbincang denganku. Dengan sisa keberanian yang kumiliki, aku keluar dari tempatku berlindung dan berlari ke arah aparat itu.
Kuayunkan tas ransel tepat ke arah kepalanya. Tak menyadari akan seranganku, dia terhuyunng dan wanita itu terlepas dari cengkeramannya. Kubantu dia berdiri dan menuntunnya untuk menuju tempat perlindungan. Namun, secepat kilat aparat itu berhasil menguasai diri dan berbalik arah mengejaar kami.
Dia semakin dekat, sementara kami berdua harus berjalan tertatih di antara hujan peluru dan asap yang menghalangi pandangan. Hingga kurasakan sebuah pukulan keras menghantam pundak kananku. Saat aku berbalik, lelaki kekar itusudah berada dengan jarak satu hasta  dengan kami. Dan pukulan di pundakku tadi berasal dari pentungan yang terbuat dari kayu miliknya.
Dia menyeringai seolah serigala yang hendak memakan habis mangsanya. Pada saat genting itulah, sekonyong-konyong Azzam muncul dari arah belakang lelaki itu dan melemparkan kameranya kepadaku. Saat aparat itu menoleh ke asal lemparan, Azzam segera menyergapnya. Keduanya jatuh ke jalan beraspal. “Tya, cepat pergi selamatkan mereka!”
Azzam berkata di tengah pergulatannya dengan aparat itu. Tapi, belum sempat aku dan wanita yang kutolong tadi beranjak, letupan suara senjata membahana. Tepat di depan kami, tubuh Azzam menggelepar bersimbah darah.
Aku terpaku menatapnya dan sama sekali tidak menyadari jika bahaya mengancam di depan kami. Hingga wanita muda di sebelahku mengangsurkan bayinya. “Please, safe him. Take him out from here. Leave me! Go!” Masih dalam keadaan shock aku menerima bayi itu dan berlari tak tentu arah.
Sedangkan, dengan langkah pasti, wanita itu berjalan menuju aparat keparat yang kini telah bersiap menembakkan senjatanya ke arah kami. “Allahu Akbar!” pekiknya di antara bunyi rentetan senjata di belakangku. Aku terus berlari dan berlari tanpa tahu harus ke mana untuk berlindung.
Asap dari tenda yang dibakar bercampur dengan gas air mata sangat menyesakkan napas dan mengaburkan pandangan. Dalam keadaan kalut, aku melihat dua orang demonstran mendorong gerobak. Di atasnya tampak beberapa orang terluka. Mereka berlari ke arah rumah sakit darurat Raba’a. Dengan tertatih dan bayi dalam gendongan, aku berlari ke arah yang sama dengan demonstran tadi.
Di antara lautan asap dan desingan peluru yang seolah datang dari berbagai arah, sampailah aku di rummah sakit Raba’a. Di sana pemandangan yang memilukan menyambutku. Ratusan demonstran yang terluka bersimbah darah dirawat dengan alat seadanya. Dan tak jauh dari korban yang terluka, ratusan mayat terbujur kaku dengan luka tembak di kepala dan dada mereka.
Saat itu aku baru menyadari jika bayi dalam gendonganku sama sekali tidak bergerak. Tubuh mungil itu telah kaku dan membiru. Kucoba menggerakkannya, dia tetap membeku. ‘He is gone. Perhaps because of suffocation of the smoke from tear gas and fire,” kata seorang dokter yang berdiri tak jauh dariku.
Ya Rabbi, ibunya menitipkan anak ini untuk kuselamatkan dan kini dia meninggal dalam gendonganku. Rabb, hukum para durjana itu. Mereka yang tak berperikemanusiaan dan tak punya nurani. Air mata tak lagi mampu kubendung.
Kudekap tubuh kecil dalam gendonganku. Aku harus menyelamatkan dan mengeluarkannya dari tempat ini, meskipun hanya jasad kecilnya. Harus kukabarkan pada dunia bahwa apa yang terjadi pada hari ini adalah pembantaian warga sipil.
Namun, sesaat kemudian kami melihat api berkobar di luar gedung rumah sakit. Ketika pada demonstran yang tidak terluka mencoba untuk membuka pintu, ternyata seluruh pintu rumah sakit telah dikunci dari luar. Kami panik saat melihat api mulai menyambar bangunan utama tempat semua orang berlindung.
Sadar tak mungkin keluar dari tempat ini, kami semua berkumpul dan melafazkan kalimah takbir, tahlil, dan tahmid. Mata kami terpejam. Perlahan terasa angin sepoi bertiup. Lalu semua menjadi dingin dan hening.
Mengenang tiga tahun tragedi di lapangan Al Nahda dan Raba’a Al Adawiyah, Mesir.
Suasana Nisa. Perempuan asal Jawa Timur ini bekerja sebagai tenaga kerja di Hong Kong. Ia aktif menulis. Sejumlah cerpennya pernah mendapat penghargaan antara lain dalam Lomba cerpen RRI.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Suasana Nisa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 4 September 2016