Radarparana – Pademawu – Epilog Pengasingan

Karya . Dikliping tanggal 15 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Radarparana 

tersimpan di manakah degubmu 
aku mencarinya sedalam lautan 
dengan segenap keraguan yang berpacu
setiap batu kuketuk, sepanjang karang ketelusuk 
hanya derak derak yang bisu, selebihnya 
gelembungan luka sisa siksa.
sedetak melecut, engkau menyemakku 
tapi degubmu menyekam seperti rahasia dalam 
rahasia 
aku melangkah ke hutan mungkin di sana ia 
tersimpan 
dari Borneo sampai Amazon, udara hanya mengurai 
daun kering, bintang cuma bermain debu 
hingga aku membakar pepohon dan pepucuk mata 
angin.
dalam kegalauan aku bertanya 
di manakah kiranya tanda jantungmu 
yang tak pernah kusua di saban dada 
yang tak pernah ada selain milikmu yang misteri.
pernah kumengira setiap semerbak bunga 
adalah gaharu degubmu. pernah kumenyangka 
segala bisik cempaka adalah raung parut rasamu.
setelah terus kutilik baru aku mengerti 
tangkai akan lesup tetapi degubmu sepanjang hidup 
aku pergi ke langit barangkali degubmu di situ 
yang menurunkan hujan saat sembilu 
kiranya kedip kilat atau purnama-surya 
yang kemilau-bercahaya adalah warna tenguknya 
tapi o lagi-lagi, hanya setumpuk awan tanpa tenaga 
cuma sengat halilintar yang menambah carut tanya 
terkadang aku merasa degubmu seumpama api 
yang diterawang lewat kontemplasi 
dunia yang tersentuh namun tak tersentuh 
legat pikiran laksana mimpi bertemu Tuhan 

Pademawu

renta tahun dalam dekapmu 
tubuhku semakin gigil gemetaran 
setiakah kusimpan bunga-bunga cendawan 
kala pelukmu kau lepaskan?
aku takkan memeras tangis dari lelubang kulitku 
seperti pancuran hujan di sudut-sudut bangunan 
dalam tengadah tangan aku mengemis 
setetes madumu lebur meresap ke runduk khusyukku 
kecuplah keningku 
restui kembara ini kulanjutkan ke jauh waktu 

Epilog Pengasingan 

hitung saja jika mampu kau hitung 
untaian degub dari dingin keringat malamku 
yang berderatan dari setiap dera kereta pengasingan 
pongah yang tak pernah berkesudah 
dan kau hanya bersiul-siul seperti meminta 
kehangatan 
pada api pada kayu pada nyanyian diam 
yang meledak di belakang tungku peristiwa 
hitung saja jika kau ingin melenyapkan 
setiap keresahan datang dalam musim hujan di dada 
hitung saja jika kau ingin menghapus kepenatan 
gerimis 
yang hilang di retap jantung 
kemarau kini memanjang 
mengeringkan rongga mulut khatulistiwa 
panas sisa perang meluncur ke lelubang permukaan 
saraf 
lalu nerobos berubah menjadi api dalam bensin atau 
arang dalam gelap 
kau temui matahari galau rembulan silau 
cuaca serisau kehampaan yang lekat dalam 
kesunyian 
saat pria dan wanita tampak begitu jantan di jalanan 
beradu domba kembang dengan binatang 
mereka inginkan kelamin yang sama pada penguasa 
lalu di tepi sepi kau takkan menemuiku lagi 
sebab aku telah pergi aku telah terasing di suatu 
negeri 
maafkan aku larikan diri 
rindu telah purba 
dan siasat membusuk dalam sandiwara 
Raedu Basha, bernama asli Raedu-Badrus Shaleh, lahir di Sumenep, 3 Juni 1988. Mahasiswa S-2 Ilmu Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Buku kumpulan puisi terbarunya Matapangara (2014) dan sebuah novel The Melting Snow (2014).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raedu Basha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 15 Februari 2015
Beri Nilai-Bintang!