Ragusa

Karya . Dikliping tanggal 24 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia
INILAH gerai es krim paling tua di kota ini. Telah berdiri sejak 1932. Apakah yang bisa mengendap di suatu tempat selama lebih dari sepuluh windu? Debu dan daki kenangan macam apakah yang bertebaran di sini, yang melintasi waktu dari zaman demi zaman, dari generasi ke generasi?
Di sini es krim diracik dengan teknologi lama tanpa bahan pengawet, menghasilkan es krim lembut yang mudah leleh dan sedap rasanya. Resepnya diadopsi dari formula asli Italia. Sebab, kedai ini dirintis oleh dua imigran dari Kota Ragusa (Sisilia), yakni Luigi dan Vincenzo bersaudara.Semula mereka membuka usaha menjahit busana. Namun, suatu hari cinta mempertemukan Luigi dengan Olga, janda berdarah Belanda pemilik peternakan sapi di Parijs van Java. Luigi lalu memanfaatkan susu hasil ternak sapi istrinya untuk membuat es krim khas Italia.
Konon, Nero, kaisar Roma yang terkenal kejam itu pun menyukai es krim. Dia kerap memerintahkan anak buahnya membawakan es dari pegunungan untuk disajikan bersama campuran irisan buahbuahan di atasnya sebagai kudapan. Konon lagi, resep es krim pertama yang dikenal dunia adalah sorbetti racikan Antonio Latini, ahli boga Italia. Resep itu tercantum dalam buku Lo Scalco alla Moderna yang terbit pada 1694.
Tapi yang pasti, es krim selalu menyisakan sedikit aroma yang tak mau lenyap di bibir dan lidah.Sementara dalam kehidupan, kenangan bisa mengendap seperti es krim dan menyisakan semacam aroma yang seakan tak mau lenyap di dalam hati.
*** 
Kami duduk berdua di atas kursi rotan tua di depan salah satu meja di resto es krim kuno itu. Aku memesan es krim vanila kesukaanku. Putih seperti salju.Istriku memilih es krim rasa durian favoritnya. Ruangan bernuansa klasik itu temaram. Cahaya lampu tak begitu terang dan senja telah beranjak malam. Tapi remang yang suram terkadang malah terasa menyenangkan dalam situasi tertentu. Misalnya saat kita ingin melamun atau mengenang masa silam. Dari pelantang di sudut ruangan, lagu sendu mengalun, diiringi denting piano. Suara lembut Natasha Marsh yang melantunkan Mi Mancherai membawa kenanganku pada sebuah film tentang seorang penyair kiri, yang pernah kita tonton di kamarmu, di lantai tiga sebuah rumah tua, di tepi jalan raya selepas bercinta penuh bara.
Bersamaan dengan datangnya kenangan itu, kalimat yang pernah kubaca di dalam buku harianmu menggema di kepala: Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun dosamu merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. Aku tahu itu kutipan satu ayat yang indah dari Alkitab. Aku tahu, kau menuliskannya karena kau bimbang antara gairah asmara dan rasa takut akibat telah berbuat dosa.Betapa kurang ajarnya aku. Duduk berduaan dengan istriku, tapi tersaput renjana karena membayangkan dirimu yang kini telah tiada.
Kau memang telah pergi bertahun-tahun silam. Dua puluh satu tahun lalu aku datang ke kotamu untuk menuntut ilmu. Sejak kita bertemu tak sengaja di perpustakaan kampus, kita seakan tak terpisahkan. Walau latar belakang kita jauh berbeda–beda etnis, beda status sosial, dan terutama beda agama. Ayahmu tak setuju dan berkeras hendak mengirimmu ke luar negeri agar kau tak lagi berhubungan denganku. Tapi kau tak mau dipisahkan dariku. Karena tak ada jalan baik-baik yang bisa kita lalui, demi kebaikan bersama, di pertemuan terakhir kita di kedai es krim ini kukatakan kepadamu, bahwa sebaiknya kita berpisah saja. Kau pergi dengan mata berkaca-kaca. Tiga hari kemudian kudengar kabar mengejutkan. Kau telah pergi selamanya akibat menelan obat tidur melebihi dosis.
Betapa menyedihkan, perbedaan agama bisa berujung pada luka dan nestapa. Bukankah agama ada agar sesama manusia saling mencinta?
Mengapa agama justru menjadi penghalang bersatunya cinta sepasang anak manusia?
Kau ingat penyair karismatik di film yang pernah kita tonton berdua itu suatu kali menulis sepotong puisi: Bagai sekuntum bunga pada wanginya, aku terikat pada kenangan samar tentangmu. Aku hidup dengan perih serupa luka.
Kini aku hanya bisa mengenangmu dengan rasa perih di dada dan kesabaran membara. Bagiku yang tersisa hanya kenangan serupa aroma es krim yang terus melekat di bibir, walau telah tersaput lidah berulang-ulang. Dan, kini aku duduk di sini, di kedai es krim tempat kita biasa bertemu, mengenangmu diam-diam–walau aku sedang bersama istriku.
***
Sesungguhnya istriku yang mengajakku untuk melewatkan Minggu malam ini berdua saja.Putri tunggal kami yang belum genap lima tahun kami tinggalkan bersama seorang pengasuh di rumah. Malam ini ulang tahun ketujuh perkawinan kami. Dia bilang ada kejutan yang ingin dia sampaikan. Kuusulkan agar kami kemari. Dia setuju.
“Kamu tahu tidak, pada abad ke-19 di Evanston, Amerika Serikat, atas usul para pemuka agama pernah diberlakukan larangan menjual es krim dengan perisa soda pada hari Minggu?“ ujarku kepada istriku, membuka percakapan.
Dia hanya menggeleng sambil mengaduk es krimnya.
Dia tampak cantik dengan kerudung merah kesumba, menyembunyikan rambutnya yang panjang dan dicat pirang.
Seperti semangkuk es krim yang mengundang selera. Meski kau tahu, saat kita menjilat es krim, rasa yang kita kecap, tak selalu serupa dengan yang kita bayangkan.
“Hari Minggu dianggap sebagai waktu istimewa untuk beribadah dan pergi ke gereja. Orang dilarang minum soda atau minuman beralkohol pada hari itu. Tapi para penjual es krim mengakali peraturan itu dengan menjual es krim dengan sirup dan menamainya ice cream sunday. Untuk menghindari kemarahan para pemuka agama, mereka lalu mengganti huruf `y’ dengan `e’.Hingga kini es krim bersirup dikenal dengan sebutan ice cream sundae,“ ucapku lagi.
Istriku hanya membisu seraya menikmati es krimnya.
Aku baru saja menelan suapan es krim terakhirku saat dia tiba-tiba berkata, “Ada hal penting yang mau kukatakan.“
Suaranya terdengar dingin seperti es krim sehingga aku merasa kupingku membeku. Aku menggeser gelas es krimku dan menatapnya tak berkedip. Tak bisa kuterka apa yang bakal dikatakannya. Seulas senyum menggoda bermain di bibirku. Tapi dia lekas berkata, “Sebaiknya kamu berhenti cengengesan.“
Suaranya begitu dingin sehingga aku terpaku.Lebih dingin dari es krim. Kuusap bibirku yang membeku dan terus menatapnya. Sesekali kugaruk tahi lalat di atas bibirku yang sebetulnya tak gatal. Aku melakukannya hanya karena tak bisa mengontrol gerakan itu saat merasa gugup atau sedih atau gundah.
Kemudian dia berkata bahwa kami pernah berbahagia bersama, bahwa ada saat-saat yang akan dia kenang selamanya, bahwa betapa menyedihkan akhirnya kami harus berpisah, dan bahwa ini bukan disebabkan oleh orang ketiga atau keempat atau kelima dan seterusnya. Intinya, kini dia sudah tak bisa lagi hidup bersamaku.
Dia menyuap es krim durian terakhir di dalam gelasnya ke mulutnya lalu beranjak pergi. Aku hanya bisa menatap punggungnya saat dia menjauh tanpa aku sempat berkata.
Kami memang sungguh jauh berbeda. Bukan beda latar, melainkan beda selera. Dia begitu menyukai es krim durian, padahal aku tak pernah suka bau durian. Amat menyiksa saat aku menciumnya dan merasakan aroma es krim durian yang membekas di lidah dan bibirnya itu melekat di lidah dan bibirku. Tapi aku tak menduga kami akan berakhir seperti ini.
Barangkali kami memang pernah saling mencintai, kawin, beranak, dan berbahagia. Tapi barangkali ada pula saatnya cinta terkikis oleh waktu dan kekecewaan hidup. Serupa es krim yang semula terasa sedap, tapi kemudian menjadi hambar saat meleleh oleh terik matahari.
Sementara itu, suara lembut Natasha Marsh yang melantunkan Mi Mancherai terus mengalun, seakan-akan mengaduk-aduk perasaan. Seorang pramusaji menghampiri mejaku dan bertanya apakah aku mau memesan sesuatu untuk hidangan penutup. “Kenapa tidak?“ ujarku. Lalu, aku memesan sepotong cassata siciliana, es krim favoritmu.
2015 
Catatan: 
Cerpen ini ditulis dengan ingatan pada I Scream, You Scream, We All Scream for Ice Cream–lagu jazz yang populer sejak 1920-an dan dinyanyikan oleh tiga narapidana dalam film Down by Law (2007) arahan Jim Jarmusch; Mi Mancherai–soundtrack film Il Postino (1994) yang diangkat dari novel Antonio Skarmeta, Ardiente Paciencia (1985).
Anton Kurnia menulis cerpen dan esai, serta menerjemahkan dan menyunting karya sastra. Buku fiksinya, Insomnia (2004), telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai A Cat on the Moon and Other Stories (2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anton Kurnia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 23 Agustus 2015