Rahasia Kaede

Karya . Dikliping tanggal 12 Februari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Selama bulan-bulan sebelum malapetaka itu terjadi, Kaede selaku pemilik gedung apartemen yang terletak di pinggiran Shibuya itu mengamankan dan mengklaim atap, dengan maksud yang masih rahasia kala itu. Beberapa orang protes, termasuk pasangan Misuzawa dan Yotsuba si vokalis band heavy metal yang hobinya dengar musik di atap sembari sesekali melakukan headbang. Yang lain, meski tak mengerti maksud Kaede, tak benar-benar menyuarakan kegelisahan. Lagi pula mereka jarang naik ke atap karena udara dingin dan tak punya waktu di siang hari. Hampir semua penghuni apartemen itu adalah pekerja kantoran kecuali Yotsuba, aku, dan seorang NEET yang namanya tak pernah diingat betul oleh kami.

Tentu pekerjaanku tak begitu tampak. Aku seorang penulis novel ringan. Dan sebulan sekali Mitarashi-senpai, kakak kelas di SMA dan selaku editorku, datang menagih tulisan. Karanganku dimuat bersambung di sebuah majalah shounen pertama kali tiga tahun lalu, dan kini aku punya banyak bahan baru untuk novel terbaruku. Jika diceritakan lebih jauh lagi, karangan yang kutulis kali ini mengisahkan hubungan siscon/brocon yang dibumbui fantasi. Yakh, klise memang, tetapi ada bedanya sedikit dengan yang sudah-sudah.

Kaede mewarisi bangunan apartemen dari orang tuanya. Kakaknya tinggal di Prancis dan sudah menikah. Karena tak ingin bangunan itu dihancurkan, Kaede memutuskan untuk mengelolanya. Dan saat aku tinggal di sana, sudah dua tahunan dia menjalankan persewaan apartemen itu. Kaede dua tahun lebih tua dariku, namun aku merasa dia seperti adik yang tak pernah kupunya. Wajahnya manis dan orang-orang menyenanginya sebagai kawan bicara dan beberapa barangkali menganggapnya sebagai rekan kesayangan dalam selubung cinta platonis. Beberapa pernah serius, aku Kaede. Akan tetapi dia masih ingin melajang. Tak jelas alasannya apa.

Sebelum menyibukkan diri dengan urusan atap, Kaede, aku, Yotsuba, beberapa lelaki sepantaran kami, dan dua perempuan muda penghuni apartemen pernah membuat klub lajang bernama Bunga-Yang-Tak-Pernah-Layu. Dalam klub receh itu, siapa pun yang memiliki kekasih lebih dahulu ketimbang yang lain akan mentraktir seluruh anggota klub makan ramen atau daging panggang selama enam kali berturut-turut terhitung tanggal orang itu menjalin hubungan. Sungguh konyol memang. Klub itu berhenti sejenak karena Tabane, salah seorang anggota perempuan dalam klub, dimutasi dan pindah ke Kyoto. Yotsuba juga sering menghilang karena aktivitas musik, kerja dari panggung ke panggung pertunjukan. Yang tersisa hanya segelintir manusia yang tak pernah yakin betul apa yang mesti dilakukan setelah itu. Klub berhenti total setelah aku tak lagi punya waktu karena dikejar tenggat oleh Mitarashi-senpai. Kakak kelasku itu akan jadi cerewet kalau aku terlambat memberikan naskah. Lalu suatu hari Natsume datang sebagai penghuni baru. Kami bergembira dan menyambutnya. Baru aku ingat kini, waktu saat Kaede mengumumkan aktivitas rahasianya berkaitan dengan atap adalah saat Natsume mulai tinggal di apartemen.

Natsume ramah, dan gadis muda itu mengejutkan kami semua saat dia menjadi peminum terhebat di antara kami. Dia berasal dari Shizuoka dan, kalau mabuk, topik-topik aneh akan selalu muncul dari mulutnya.

“Mikajima-san,” ucapnya padaku, “kau tahu siapa yang merancang botol wiski ini?”

Aku menggeleng sembari tersenyum.

“Padahal semua orang tahu….”

“Aku benar-benar tak tahu. Aku jarang minum-minum.”

Kemudian kami tahu di pesta-pesta selanjutnya, dia tipikal orang yang jarang menyelesaikan pertanyaan saking mabuknya. Natsume akan tertidur. Dan pesta minum yang diselenggarakan di tempat Kaede itu berakhir dengan orang-orang menertawakan si gadis yang kuat minum itu.

“Dia benar-benar anak yang hebat. Aku kira dia malu-malu, tapi kini kita tahu kelemahannya,” ujar Yotsuba.

“Lalu, setelah kau tahu kelemahannya, apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.

Yotsuba meringis.

“Jangan tolol kalian berdua. Dia gadis yang baik!” tegas Kaede.

Kami pun tertawa. Semua hanya candaan semata.

“Eh, sudah waktunya kita tidur, besok harus kerja lagi!” Misuzawa sekalian beranjak dari tempat itu.

“Lalu bagaimana Natsume-san?” tanyaku.

“Biarkan saja di sini. Aku tak tega membangunkannya,” ujar Kaede.

Kami pun beranjak ke unit masing-masing. Pukul dua belas malam dan udara mulai dingin.

***

Atap dan Kaede jadi satu-kesatuan. Seolah-olah benang waktu yang terjalin. Nyaris setiap hari kami mendengar derak pintu menuju atap dan kami tahu itu Kaede. Tiga kali sehari dia datang ke atap. Semua penghuni membicarakan tingkah laku Kaede yang aneh, tapi tak ada yang benar-benar berburuk sangka padanya sebab Kaede orangnya ramah dan jujur.

Yotsuba, yang selalu centil dan ingin tahu urusan orang, kadang menggoda Kaede dan bertanya apa yang dia sembunyikan di atap.

“Jangan-jangan kau menggelapkan narkoba. Setidaknya bagi ke aku beberapa ratus gram.”

“Tolol sekali kesimpulanmu. Tunggu dengan sabar dan aku akan memberitahumu nanti, Yostuba-kun.”

Yotsuba tentu akan mengalah. Seperti Yotsuba pada kesempatan-kesempatan lain. Kami yang mendengarnya akan ikut tertawa. Meski kadang lebih banyak kami merasa jengkel karena Yotsuba dan suara musik kerasnya itu. Apalagi kalau hari Minggu saat orang-orang beristirahat sejenak.

Di kesempatan minum-minum kesekian, Natsume pun pernah bertanya tentang atap pada Kaede. Namun jelas terlihat Kaede begitu malu dan wajahnya merona. Dia tak menjelaskan apa pun pada Natsume sebagaimana orang-orang lain bertanya. Kaede hanya meminta maaf dan menyuruh semua orang sabar menunggu. Terutama Natsume.

Natsume pun terkejut. “Apa maksudnya, Kaede-san? Apa rahasia itu berhubungan denganku?”

Kaede tampak kebingungan. Dia diam sebentar dan terasa dari jeda itu dia mencari alasan yang tepat, dari dekat aku merasakan perubahan ketegasan Kaede setiap kali dia berhadapan dengan Natsume. Mungkin saat itu aku hanya berfirasat. Akan tetapi, memang perlakuannya pada Natsume kala itu terasa bagiku sebagai hal yang terlalu lembut dan aneh. Tidak cuma pada pesta minum-minum saat itu.

“Ya, karena kau penghuni baru… ini kejutan yang akan menyenangkan tentunya.” Jawabannya agak membingungkan. Namun Natsume kemudian beralih pada percakapan yang lain. Dia sudah mabuk. Kali ini aku yang disasar. Aku masih mengingatnya dengan jelas apa-apa yang dia katakan padaku saat itu.

“Mengapa orang sepertimu tak banyak bicara?” tanyanya.

Aku hanya tersenyum. “Mungkin keahlian bicaraku teralih karena aku menulis.”

“Apa selalu begitu? Jawabanmu mirip penulis-penulis lain.”

“Terima kasih.”

“Ini bukan pujian.” Natsume lalu cegukan. Dan tubuhnya bersandar padaku. Semua orang tersenyum pada kami.

“Padahal kau tampan,” ujarnya. Kemudian Natsume tak sadarkan diri. Tertidur dalam mabuknya dengan muka merah merona.

“Menurutku kalian serasi,” kata Yostuba. “Lihat, dia menggantung padamu seperti pohon.”

Entah bagaimana Yotsuba memadankan pose tak sadar Natsume dengan pohon. Karena menyebut pohon ini, aku malah membayangkan pohon cedar yang mengelompok di ketinggian tanah kuil. Tanah megah dalam benakku itu adalah Fushimi Inari dan ribuan torii di jalan setapaknya. Rasanya aku saat itu sudah mabuk. Yang jelas, Kaede terus menatap aku dan Natsume dengan tatapan yang menurutku berapi-api. Dungunya aku waktu itu merasa diriku disukai Kaede karena tatapan apinya. Sebagai penulis, aku terlalu percaya diri. Kesalahan yang telak. Aku yang waktu itu berilusi dan seolah-olah berkimbang dalam tatapannya.

***

Awal musim semi dan bunga muncul dari kedalaman tanah yang menyimpan semangatnya. Hubungan para penghuni kian erat dan mereka sudah tidak lagi memusingkan tingkah Kaede dan atapnya. Aku dan Natsume sering kali berbincang di koridor apartemen dan sesekali aku datang ke unitnya untuk makan malam atau membicarakan buku. Kebetulan dia juga suka membaca novel ringan dan menonton anime.

“Meski bukan otaku, aku suka semua hal tentang anime. Tapi tak keburu bablas. Bisa dibilang setengah-setengah,” akunya.

“Kau bilang suka. Berarti kau termasuk otaku, dong,” godaku.

Natsume tersenyum. “Kalau dipikir-pikir betul juga. Mikajima-san…”

Sejenak kemudian baru aku sadar, Natsume menciumku.

Kami saat itu tak mendengar pintu diketuk dan langkah seseorang masuk, saking terenyaknya kami berdua dari dunia karena kejadian itu. Natsume akhirnya mengaku padaku.

Natsume tak sengaja bilang dirinya menyukaiku di depan Kaede yang baru masuk ke ruangan dan memergoki kami. Kaede kebingungan dan memutuskan keluar dari apartemen Natsume. “Maaf mengganggu!”

Perasaanku saja ataukah dia sedikit terguncang, aku bertanya-tanya kala itu.

Seminggu berlalu dan kami memutuskan berpacaran. Natsume termasuk gadis yang berani. Sebulan kemudian, setelah berunding dan mempertimbangkan segala hal, aku dan Natsume memutuskan berbagi unit yang sama selaiknya pasangan kekasih lain yang telah merasa diri mereka dewasa. Kami berbagi tugas memasak bersama, dan aku pun cukup terbantu oleh Natsume. Meski yang kubisa hanya membuat kakitamajiru hangat dan selalu hancur saat memasak kari, Natsume jelas perempuan yang pandai sekali memasak. Kami menghabiskan banyak waktu intim dan semakin menggembirakan suatu hubungan maka hal-hal yang tak tercapai dan terendap di dasar hati kami jadi terlupa. Aku merasa waktu itu segala sesuatunya serba enteng dan menyenangkan.

Hubungan kami yang lancar itu menjadi bahan perbincangan penghuni apartemen. Bahkan, setelah memutuskan untuk tinggal seunit, kian heboh perbincangan. Orang-orang seperti Yotsuba dan segelintir mantan anggota klub Bunga-Yang-Tak-Pernah-Layu mendesakku untuk mentraktir makan daging atau ramen. Kehebohan ini pun bahkan memancing si pengangguran untuk terlibat. Dia muncul dengan rasa bahagia karena sudah menamatkan permainan sulit yang seminggu sebelumnya membuatnya frustrasi.

“Wah, NEET-kun membuatku heran. Setelah lama tinggal di gua, dia muncul lagi dengan muka lusuhnya,” kata Yotsuba memantik gelak tawa.

“Yotsuba, sialan kau! Begini-begini aku pernah kerja di perusahaan top!”

“Ya, perusahaan bangkrut yang utangnya ratusan juta yen, hi-hi.”

“Hah, setidaknya kepalaku takkan copot karena keseringan headbang!”

“Itu menyehatkan, kawan!”

“Kau konyol. Jelas itu merusak otak!”

“Itu lakuku. Musik keras dan guncangan akan membuat semuanya nikmat.”

Si pengangguran dan Yotsuba terus-menerus bicara dan para penonton sudah melipir untuk menikmati minuman dan berganti topik perbincangan. Mereka menjadi cabang-cabang lain. Misuzawa sekalian, Natsume dan aku, lalu cabang lain para penghuni yang tak lagi memedulikan dua orang konyol itu.

“Natsume-san, biarlah mereka omong sampai berbusa. Mereka berdua selalu saling ejek kalau bertemu,” kataku.

Natsume memeluk tubuhku. Dan semuanya menyoraki kami. “Tidak masalah. Aku senang bisa tinggal di sini. Orang-orang di sini baik semua.”

Sayang, Kaede masih di atap saat kami menggelar pesta di tempat Yotsuba.

Kaede selalu membawa kunci gembok pintu atap agar tak seorang pun punya kesempatan untuk melihat apa yang sebenarnya dia lakukan. Bahkan si pengangguran sudah memasang taruhan dengan Yostuba dan mengira-ngira apa yang tengah dikerjakan Kaede. Kupikir itu keterlaluan, tetapi aku tak menyuarakan ketidaksetujuanku.

Memikirkan apa yang dilakukan Kaede waktu itu rasanya terlalu sulit. Aku dikejar tenggat untuk naskah cerita bersambung di majalah yang nanti akan jadi volume kedua novel terbaruku. Lucunya, Mitarashi-senpai kadang muncul dalam mimpiku. Dia kakak yang kuhormati, baru saja menikah, dan setelah tahu aku menjalin asmara dengan Natsume selalu mendorong-dorong diriku untuk cepat menyelesaikan naskah dan mengatakan segala hal tentang motivasi hidup dan pernikahan. Kupikir harusnya Mitarashi-senpai hidup di paruh kedua zaman Showa saja karena semua omongan itu terpental tak sampai hatiku. Aku tak pernah benar-benar berpikir untuk menikah di usia 25 tahun. Kalau mesti menikah, aku berharap akan menikah pada usia 35 tahun saat aku benar-benar tahu diriku ini sukses atau pecundang. Aku harus melangkah jauh dan nasihat demi nasihat yang diucapkan kakak kelasku itu hanya aku telan sebagian.

Aku menyesal tak memikirkan Kaede sebanyak kini. Pikiranku berkutat pada cerita yang mesti kuhasilkan sehingga perasaan-perasaan semu macam yang ditunjukkan Kaede akan hubunganku dengan Natsume tak tampak dan tak terasa bagiku. Hanya bermodal firasat tanpa pernah menjenguk ke dalam adalah kesalahan fatal kesekian.

Sengatan ingatan akan dirinya pun masih tetap datang meski kucoba bilas dengan mabuk dan muntah-muntah setelah tak kuat menjaring alkohol dalam tubuh. Hari itu adalah Senin sebagaimana biasa, hari di mana kemalasan mesti dipupuk jadi semangat. Aku datang ke unit apartemen Kaede tanpa dia undang. Aku tak sengaja memergokinya baru selesai memakai jubah mandi. Dan kejadian itu menimbulkan impresi kuat akan suara siut jubah Kaede dan jadi hal yang tersimpan dalam-dalam di pikiranku. Lekuk tubuhnya terlihat dan bukannya malu, dia malah tersenyum ramah. Jadi aku yang segan sendiri.

“Maaf, Kaede-san, aku datang tanpa pemberitahuan.”

“Tak apa-apa, aku baru selesai mandi. Ada apa memang?”

“Aku mau menitipkan kunci ruanganku padamu. Seminggu ini aku akan pergi ke Selatan, ada urusan. Sudah kukatakan pada Natsume kalau nanti dia pulang agar meminta kuncinya padamu.”

Kaede mengangguk dan tersenyum. Pintunya kembali tertutup, tapi ingatan itu tak pernah pungkas bahkan setelah diriku dihadapkan pada pintu. Sepanjang perjalanan naik kereta, aku merasa gelisah kala itu. Aku terbenam dan tertidur sejenak lalu bermimpi. Mimpi ini tak lagi kuingat, cuma rasanya masih jelas tergenggam. Lembut, tenang, dan begitu melenakan seperti sekujur tubuh Kaede.

Semua urusan telah selesai. Aku pulang dan bercinta dengan Natsume hingga fajar. Alasanku begitu kasar pada Natsume pada jam-jam itu adalah kerinduan semata. Meski aku berbohong. Seharian aku memikirkan alasan itu dengan kemurungan yang luar biasa. Aku telah melukai Natsume dengan sebilah belati kalau dia tahu bahwa saat bercinta itu aku bukan membayangkan dirinya.

***

Hari terakhir kegembiraan kami tiba dalam bunyi kejut yang mengerikan. Kalau diungkapkan, rasanya daya kejut itu membuatmu bangun untuk selama-lamanya dari ranjang maut dan merasa bahwa dirimu berdosa setelah itu. Aku takkan melupakan malam itu, bahkan hingga kini. Surutnya karier kepenulisanku adalah karena aku masih mengingat apa yang terjadi malam itu. Suara gedebuk keras membangunkan tidurku. Natsume ikut terkejut karena selimutnya tertarik tubuhku.

“Ada apa?”

“Aku dengar suara benda jatuh keras sekali.”

Kami berdua melihat benda yang jatuh itu lewat jendela. Meski hari tanpa terang bulan, benda yang jatuh itu jelas terlihat. Itu tubuh manusia. Tepatnya tubuh Kaede. Kami tak bisa lagi berkata apa-apa. Semenit kemudian, terdengar langkah gegas dari balik pintu.

Aku membuka pintu dan muncul wajah panik Yotsuba dan para penghuni lain.

“Kaede jatuh!”

Kami pun turun ke lantai pertama dan menemukan Kaede dengan tubuh hancur. Darahnya luber ke mana-mana. Sebagian penghuni apartemen tak tega melihatnya. Lima belas menit kemudian, polisi datang lalu menanyai orang-orang sebagai saksi. Kemudian tubuh Kaede diangkut dalam mobil ambulans. Aku dan Natsume masih sempat memeriksa unit Kaede sebelum tempat itu ditutup garis polisi.

Surat wasiatnya kami temukan di meja. Surat itu terbuka dan ujung-ujungnya ditindih manik-manik dan sebuah kunci agar tak bergeser kena angin. Jendela ruang apartemennya memperlihatkan pemandangan dinihari dengan langit yang mulai terang. Kisah dalam surat itu kami baca dengan segumpal kesedihan tak dinyana. Tercium harum teh apel di ceret yang berada di atas kompor.

Jadi selama ini Kaede menanam bunga sebagai simbol cinta untuk Natsume. Akan tetapi, sebagaimana semua orang tahu, Natsume mencintai lelaki, bukan sesama perempuan. Natsume jatuh cinta padaku dan dia menyesal Kaede bunuh diri dengan lompat dari atap dan pesan terakhir dalam surat itu adalah pengakuannya tentang rahasia atap. Untuk membuktikan apa yang Kaede tulis, kami pun naik ke atap. Di sana kami disuguhi pameran rekah nagami hinageshi yang saat itu kembang sebab telah beranjak fajar. Jingga dan mendayu-dayu sebentar karena angin. Para penghuni lainnya pun mengikuti kami dan terpana menyaksikan bunga-bunga itu.

Nagami hinageshi. Bunga poppy yang kadang mencuat di rel kereta atau tepi jalan. Kaede berkeras menanam bunga tersebut di atap sebagai perlambangan kasih sayang tulus pada Natsume. Mengingatnya sekali lagi membuatku terkenang tebakan pertama yang dilontarkan Yotsuba. Tebakan yang menurutku tak sepenuhnya salah. Satu dari beberapa jenis poppy merupakan bahan candu dan akan dimusnahkan kalau tumbuh terlalu banyak. Namun nagami hinageshi adalah poppy lembut yang sepele tumbuh dan tak begitu dipedulikan.

Atap apartemen kami kala itu tersulap bagai ladang mini nagami hinageshi, dan barangkali tak ada yang berpikir semiris diriku kini pada kali pertama menyaksikan jerih payah Kaede. Dugaan dan ketidakpercayaan pada kisah cintanya masih sering dipertanyakan para penghuni apartemen selepas dia meninggal. Kami berbisik-bisik, saling menghibur dan meneguhkan apa yang dilakukan Kaede, meski dari suara dan getar bibir masing-masing, ada yang merasa enggan atau bahkan jijik. Natsume pun begitu, barangkali. Tapi aku tak pernah menanyakannya. Apartemen lalu diurus paman jauh Kaede yang datang dari Osaka.

Enam bulan setelah itu semua berlalu, tak kuat oleh bisikan jubah mandi Kaede yang seperti desir laut malam hari, menghantuiku selama setengah tahun pasca-kematiannya-aku pun memutuskan jadi pengecut: menyudahi hubungan dengan Natsume dan pergi dari apartemen di Shibuya itu untuk selama-lamanya. Sejak menyewa tempat tinggal di sana hingga enam bulan setelah kematiannya, salah satu dari sekian hal yang tak pernah kukatakan pada Natsume adalah bahwa aku mencintai Kaede. Sungguh mencintainya.


________________________________________
Bagus Dwi Hananto, tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Menulis prosa dan puisi. Novelnya berjudul Elegi Sendok Garpu (Buku Mojok, 2018).


[1] Disalin dari karya Bagus Dwi Hananto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 9-10 Februari 2019.

 

Beri Nilai-Bintang!