Rahasia Maria

Karya . Dikliping tanggal 18 April 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
PELAKU penembakan itu sudah mati, tapi Maria belum bisa hidup tenang dan masih didatangi mimpi menjengkelkan. Waktu kutanyakan mimpi macam apa itu, ia bercerita tentang lelaki bertopeng dengan pistol di tangannya. Lelaki itu menunggu setiap orang di terminal pada malam hari dan membunuh siapa pun yang bisa dibunuh. 
“Terminal itu bukan sembarang terminal. Bus-busnya membawa setan dari neraka. Dan semua bemo berisi tuyul-tuyul,” katanya.
Maria tidak pernah selesai menceritakan mimpi buruknya, karena pertemuan kami tidak pernah lebih dari setengah jam. Setengah jam itu selalu saja berisi kisah-kisah yang nyaris sama; bagian cerita yang harusnya telah lama ia selesaikan, tetapi aku tidak berani memotong atau mengingatkan. 
Sebenarnya satu jam adalah jadwal kunjunganku, tapi setengah jam pertama selalu berlalu sepi. Demikianlah bagaimana cerita itu selalu berhenti di tengah jalan dan tidak pernah benar-benar selesai. Setengah jam pertama, Maria diam dan aku tidak punya apa-apa untuk ditanyakan. 
Ketika hari-hari ini ia berada di sini, segala pertanyaan tidak ada gunanya. Di sini, aku hanya perlu mendengar apa yang memang ingin Maria ceritakan. Jika ia tidak ingin cerita, aku tidak memaksa. Ia yang mengundangku. Memastikan alur cerita tidak salah, karena ia ingin kisahnya terbit menjadi novel. 
“Buang semua opini publik itu. Aku ingin cerita yang datang dari sudut pandangku sendiri,” itulah kata Maria di saat kami teken kontrak.
Belasan tahun menggeluti profesi ghost-writer , aku tidak pernah merasa sesulit ini menggali data. Aku tidak bersikap penuh rasa ingin tahu seperti wartawan. Mereka biar pergi dari hidupku, kata Maria ketika itu. Aku datang bukan sebagai wartawan dengan segudang tanya yang mencuat di kepala publik, yang belum tentu benar . Aku datang sebagai pendengar dan sahabat. 
Kadang-kadang Maria menyambutku dengan membawa boneka babi kecil. Boneka itu ia peluk dan timang, lalu sekali waktu pernah juga disusui di depanku. Katanya, dia anaknya. Boneka itu anaknya. Orang jelas menuduhnya sinting sejak lama. Jujur saja, bagiku Maria tidak sesinting itu. Ia melakukan itu bukan tanpa alasan. 
“Anakku tidak berdosa. Dia dibawa musuhku pergi dan ditembak,” katanya suatu malam, di satu pertemuan kami. Itu terjadi sebelum ia mulai mengaku soal mimpi buruk menjengkelkan. 
Ketika soal mimpi ini mencuat, Maria bicara lebih banyak. Tidak ada satu kalimat pun luput membawabawa lelaki bertopeng seakan makhluk itu datang dari dunia nyata. Seakan lelaki itulah yang membunuh anaknya, setelah keluar dari dalam kepalanya dan mulai mencari hari yang tepat untuk eksekusi. Seakan lelaki itu arwahnya masih hidup dan bergentayangan di kepala perempuan ini. Padahal semua orang tahu, penembak itu tidak lain cuma pria berbadan gendut dengan rambut setengah botak, dan kini sudah jadi makanan belatung di kuburan. 
Aku kenal lelaki itu. Mandor pabrik rokok beristri dua. Otak cabulnya terbukti dari banyaknya koleksi video tak senonoh yang polisi temukan di ponselnya. Ia memperkosa Maria, buruh pabrik yang tidak punya siapa-siapa dan tidak bekerja untuk alasan lain, kecuali agar bisa makan. 
Mula-mula kedekatan mereka terjalin sewajarnya. Maria tidak terlalu sulit bekerja karena kebaikan si botak, atau orang sebut sebagai sesuatu yang mendasari tujuan sang mandor . Mereka lumayan dekat sejak keringanan-keringanan diberikan lelaki tersebut pada Maria. Teman-teman sesama buruh cemburu dan meneror perempuan ini dengan berbagai upaya. 
Mengenang ini, Maria menangis. Ia ingat bagaimana suatu kali merasa seisi dunia membencinya. Hanya Pak Mandor yang baik padanya. Suatu malam ia diperkosa dan ia tidak berani melaporkan kejadian ini. Begitu hamil, ia tidak lagi bekerja, kecuali hidup dari kiriman uang rahasia sang mandor. Anak itu lahir normal dan sehat, tetapi nyaris seperti babi kecil warisan fisik sang bapak yang bisa digolongkan lelaki kontet. 
Mandor tidak mau tanggung jawab lagi, tapi Maria ingin anak ini dijamin, walau tidak kenal siapa bapaknya. Sang mandor tidak sudi. Ia kabur dari Maria. Ia nyaris kepergok cekcok dengan mantan buruh itu oleh sang istri. Ini mendasari penembakan. Bayi Maria mati dan sejak itu perempuan ini dianggap gila. 
Lelaki itu mendapat balasan setimpal. Ia ditangkap dan dipenjara sesuai ketok palu hakim. Tapi di sel, ia bunuh diri dan sekarang jasadnya sudah habis dirubung belatung. Maria dibawa ke penampungan khusus orang-orang sinting yang berbahaya karena ia pernah membawa gergaji ke mini market, sambil menggumamkan nama sang mandor , “Mudakir , Mudakir …” Orang berpikir ia lebih baik dikurung di tempat khusus. 
Suatu hari Maria menelepon, “Datang ke alamat bla-bla-bla.” Ia sebutkan tempat di mana ia dirawat, dan berkeinginan aku menulis kisah nyata ini agar bisa diterbitkan dalam bentuk novel. 
“Apa yang istimewa dari ceritamu?” tanyaku. “Ada banyak kejadian. Sebut kenapa aku layak menulis semua ini.”
Tidak ada jawaban selain, “Kamu tidak tahu bagaimana lelaki busuk itu bisa masuk mimpiku. Lelaki busuk itu dahulu pernah juga masuk ke mimpiku, tetapi dalam wujud lain. Ia masuk lewat bawah dan mendekam di perutku sedemikian lama. Aku menikmati saja, karena toh ia kukenal waktu kecil dulu. Kami berpisah setelah orangtuaku mati dan ia jadi lebih sukses dari adiknya yang tak berguna ini.” 
Aku tidak tahu apa cerita ini patut, tetapi Maria sekali lagi menimang boneka babi tersebut, dan menatapku seakan baru saja membuang beban besar dari balik tempurung kepalanya. θ -k
Gempol Sidoarjo, 7-4-2016 
Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan esai. Karya-karyanya terbit di berbagai media lokal dan nasional.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ken Hanggara
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu 17 April 2016