Raja Boneka

Karya . Dikliping tanggal 9 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
ADA perasaan sedih menusuk hati Dretarastra ketika Yudhistira dan adik-adiknya hendak berpamitan. Walaupun matanya tak mampu melihat tapi mata hatinya dapat menyaksikan wajah-wajah tak bersemangat anak-anak Kunti. Sungguh, sebuah kemalangan yang teramat berat bagi mereka harus menjalani pengasingan selama tigabelas tahun di dalam hutan.
Semua berawal dari permainan dadu yang dilakukan anak-anak Kurawa dan Pandawa. Permainan judi yang tadinya iseng itu berkembang serius. Dari taruhan kecil-kecilan berupa uang, hingga meningkat menjadi taruhan harta benda, tanah, jabatan, hingga diri pribadi dan keluarganya. Yudhistira yang pada dasarnya tak pandai bermain dadu tertantang dan penasaran karena berulangkali kalah.
Puncaknya ketika Duryudana membuat taruhan siapa yang kalah bersedia diasingkan ke dalam hutan selama 13 tahun dan dilarang kembali ke Hastinapura. Yudhistira tertantang karena ingin mengembalikan kehormatan dan harga diri keluarganya. Tapi apa lacur, raja Indraprasta itu tak sadar bila dirinya telah dicurangi Sengkuni yang telah berpihak pada Kurawa. Drestarasta yang mencium firasat buruk akan bencana menimpa Pandawa berusaha mengingatkan Yudhistira.
“Sudahlah, Putra Pandu. Sebaiknya kamu akhiri permainan ini dan kembalilah ke Indraprasta. Aku merasakan firasat buruk bakal menimpa kalian,” kata Drestarastra mengingatkan keponakannya. 
“Tidak, Paman. Aku tak bisa pulang dengan membawa kekalahan.Aku mesti menegakkan kembali kehormatan keluarga. Aku yakin pasti menang!” tukas Yudhistira.
Ilustrasi karya Joko Santoso

Begitulah kelemahan manusia, tak terkecuali seorang pemimpin seperti Yudhistira. Ambisi meraih kemenangan telah membutakan matanya akan bahaya yang mengintai. Ia tidak mengukur kemampuan dirinya. Ia berusaha meraih sesuatu di luar jangkauannya.Apa yang dikhawatirkan Dretarastra benar-benar terjadi. Yudhistira kembali kalah dan mesti diusir dari tanah Hastinapura.

Bahkan lebih menyakitkan dari itu Drupadi, istrinya, ditelanjangi di depan khalayak ramai oleh Dursasana dan dilecehkan habis-habisan. Drestarastra sendiri tak bisa berbuat apa-apa dan hanya diam saja. Ketika Drupadi melolong memohon pertolongannya, Dretarastra bergeming. Tak mengucap sepatah kata pun. Karena ia sadar semua ini sudah menjadi kehendak dewata.
Sikap diam Dretarastra membiarkan kezalman dan ketidakadilan berlangsung di hadapannya sangat disayangkan oleh keluarga Pandawa. Kecaman dan sumpah kutukan pun berhamburan menyerangnya. Jiwa Dretarastra bergetar mendengar ungkapan kemarahan Drupadi dan saudara-saudara Pandawa lainnya. Karena kemarahan mereka didengar oleh para dewata.
Sebagai raja hati Dretarastra memang terlalu lemah. Apalagi bila menyangkut Duryudana dan anak-anaknya yang lain. Sejak awal ia sudah diperingatkan oleh Bisma dan Widura tentang kehancuran yang bakal menimpa kerajaan Hastinapura oleh kelahiran Duryudana. Namun rasa cinta yang besar kepada putranya itu mengalahkan kebeningan hati. Ia mengabaikan nasehat baik yang datang kepadanya.
Banyak kalangan menilai Dretarastra hanyalah sosok Raja Boneka. Meski secara de jure ia menduduki tahta dan orang nomor satu di Hastinapura, tetpapi pada kenyataan Duryudanalah yang menjalankan pemerintahan. Duryudana kerap membuat kebijakan yang merugikan Pandawa. Apalagi Duryudana dikelilingi orang-orang licik macam Sengkuni, semakin tidak jelas laju roda pemerintahan.
Padahal semua orang tahu, tahta kerajaan Hastinapura adalah hak Pandawa. Drestarastra hanya mengemban amanah dari Pandu, saudaranya, untuk menduduki tahta Hastinapura selama anak-anaknya belum dewasa. Dan ketika anak-anak Pandu sudah dewasa, semestinya Dreta-rastra menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Yudhistira. Tapi ambisi Gandari, istrinya, yang menginginkan putra mereka menjadi penguasa tunggal Hastinapura membuat hatinya bimbang.
Dretarasta sempat mengambil jalan tengah dengan membagi wilayah kerajaan Hastinapura menjadi dua. Menurutnya ini merupakan kebijakan yang adil. Pandawa pun bersedia menerima usulannya. Mereka diberikan sebuah wilayah yang kering dan tandus. Berkat kerja keras dan ketekunan anak-anak Pandawa wilayah itu menjadi daerah subur. Indraprasta menjadi sebuah kerajaan yang kuat dan makmur.
Dretarasta pun senang menyaksikan perkembangan wilayah Indraprastra. Ia berharap antara Hastinapura dan Indraprasta terjalin hubungan yang baik. Namun harapannya laksana menggantang asap di atas perapian. Anak-anak Kurawa yang diliputi hati culas tak menghendaki Pandawa berkembang maju. Mereka menganggapnya sebagai ancaman. Dan inilah yang kemudian terjadi, anak-anak Kurawa berhasil menjatuhkan Pandawa di meja judi.
Ada rasa bersalah menekan hati Dretarastra karena membiarkan keponakannya dizalimi. Lebih dari itu ia dihantui oleh pesan yang pernah diberikan Pandu. Ia sudah berjanji akan mengembalikan tahta kerajaan Hastinapura kepada anak-anak Pandawa jika mereka sudah dewasa. Tapi perkembangan yang terjadi sekarang sebaliknya, Pandawa terancam kehilangan apa yang menjadi hak mereka!
“Kamu harus kuat, Yudhistira! Semua ini adalah ujian. Kalian harus legawa menerima kekalahan. Aku yakin kalian akan bisa bangkit lagi. Kalian akan semakin matang dan bijaksana dalam pengasingan nanti,” kata Destarastra memberikan wejangan kepada Yudhistira.
“Terima kasih, Paman. Semoga Paman diberikan kesehatan dan umur panjang, sehingga kita bisa berjumpa lagi kelak,” jawab Yudhistira kalem.
Dretarastra terharu oleh kata-kata keponakannya. Meskipun sudah disakiti dan dizalimi, tapi Yudhistira tak pernah menyimpan dendam dalam hatinya. Dia bahkan masih menaruh rasa hormat kepada orang tua. Andai saja Duryudana memiliki perangai seperti Yudhistira alangkah senang dan bangganya aku, kata Drestarastra dalam hati berandai-andai. 
“Sudahlah,Bapa! Apalagi yang mesti dibicarakan? Biarkan Yudhistira dan saudara-saudaranya segera pergi ke pengasingan!” seru Duryudana tak sabar lagi melihat ayahnya bercakap-cakap dengan Yudhistira.
“Yang sopan sedikit, Duryudana. Jangan menyela ketika orang tua sedang berbicara!” hardik Dretarastra kepada putra sulungnya.
“Halah, apalagi yang mesti diomongkan, Bapa? Tidak penting!”
Dretarastra hanya bisa menahan geram. Ia tak pedulikan Duryudana. Ia kembali pada Yudhistira. Dretarastra tahu, tak ada lag kesempatan baginya untuk memperbaiki kesalahan dan berbuat yang benar karena waktu tak bisa ditawar. Siapa bisa menjamin bahwa esok hari dirinya masih bisa menghirup udara kehidupan? Sebab, kematian bisa tiba-tiba datang menelikung dari belakang.
“Yudhistira! Dan semua yang hadir di balairung ini dengarkan apa yang hendak kusampaikan!” ujar Dretarastra memancing perhatian semua orang.
“Jika nanti Pandawa sudah menyelesaikan pengasingannya di dalam hutan, maka aku akan menunaikan wasiat yang pernah dititipkan saudaraku Pandu. Yaitu aku akan menyerahkan tahta kerjaan Hastinapura kepada Yudhistira!”
Ucapan Dretarastra itu mengejutkan semua yang hadir. Yudhistira dan saudara-saudaranya tertegun, tapi sejurus kemudian berubah berseri-seri. Kabut duka yang tadi membayangi wajah mereka seketika sirna. Hukuman pengasingan seakan tak ada artinya lagi. Sebaliknya, wajah para Kurawa yang tadi bergembira berubah suram dan kelabu.
“Tidak bisa, Bapak! Tahta kerajaan Hastinapura hanya aku yang berhak mendudukinya!” seru Duryudana memprotes keras.
Dretaratra tak menggubris. Keputusan telah diambilnya. Tak bisa diubah lagi. Sabda pandhita ratu tan kena wola wali. Dretarastra ingin menunjukkan pada semua orang bahwa dirinya bukan Raja Boneka. Ia juga bisa mengambil keputusan yang benar dan adil sesuai hati nurani! []-g
Wonogiri, 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eko Hartono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 8 Maret 2015 

Baca juga:  Api Di Mata Sengkuni