Rambut Api Pamela Paganini

Karya . Dikliping tanggal 1 Januari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Gesekan biola dari tahun 1792, ketika Alessandro Rolla melihat lelaki kecil itu memainkan satu komposisi yang menggetarkan sarafnya. Rolla memejamkan mata, seperti aku memejamkan mata. Rolla mendengar gesekan biola, seperti aku mendengar denging serangga. “Bocah,” kata Rolla. “Tuhan telah memberikan cahaya-Nya untukmu. Aku tidak pantas menjadi gurumu,” Lalu ia menjura di hadapan bocah yang terheran-heran itu.

“Saya tidak bisa main biola. Main gitar bisa, tapi begitulah, pas-pasan,” katanya, lalu tertawa. Aku membuka mata. Ia masih berada di sana, sekitar dua meter dariku. Duduk di lantai dengan punggung menempel dinding. Aku merasa ia bisa membaca pikiranku, setidaknya ia tahu apa yang aku pikirkan. “Bagaimana kau tahu aku sedang memikirkan biola, aku tidak bertanya soal itu,” kataku. Ia kembali tertawa sembari menggerakkan bahunya. Di parasnya ada bayangan aristokrasi, tapi rambutnya membakar bayangan itu seperti api abadi. Kontras yang membuat kata-katanya terdengar seperti batang yang merendah lantaran sarat buah. Aku tahu, ia juga bisa memainkan biola. Aku memperhatikan jari-jarinya yang sesekali menekan-nekan udara. Tapi aku tidak mengatakan hal itu padanya.

Bocah lelaki yang memikat Alessandro Rolla itu juga bisa memainkan gitar, meski ia tak pernah menunjukkannya dalam konser-konsernya. Ia pernah bilang, “gitar adalah teman abadiku.” Karena itu ia hanya bercengkrama dengan gitarnya di saat-saat tertentu, dalam ruang tertutup, dan cuma disaksikan kawan-kawan dekatnya. Bocah itu mengenal gitar setelah pasukan Prancis menyerbu Italia, dan Genoa, kota kelahirannya terkena dampaknya.

“Niccolo Paganini. Apakah kau mengenalnya?”

“Tidak.”

“Well, kurasa kau tak perlu mengenalnya. Cukup mengenal diri sendiri,” kataku.

“Saya juga tidak mengenal diri sendiri, hehehe.”

“Oh ya? Tapi kau pernah ikut acara pencarian bakat di televisi. Bukankah biasanya mereka menganjurkan agar kita berupaya menjadi diri sendiri?”

“Tidak, tidak, hehehe, mereka menganjurkan kita agar bisa menaikkan jumlah penonton.”

Tiba-tiba aku ingin berlaku seperti Alessandro Rolla dan menjura di hadapannya. Tapi aku kira itu agak berlebihan. Lagipula serangga di kasa kembali berdenging. Sinar matahari yang dilembutkan pori-pori kain tergeletak di lantai seperti lempengan logam. Hari terasa lebih singkat, sebentar saja, aku rasa cahaya mulai meredup. Seperti juga cahaya di tahun 1828, ketika Paganini, bocah yang mulai dewasa itu, mengakhiri kisah cintanya dengan Antonia Bianchi.

“Saya lolos audisi pertama, makanya bisa tampil langsung di televisi. Tapi saya tidak lolos di sesi ini, cuma sedikit yang memilih,” ujarnya dengan ringan. Suaranya bersijingkat ke luar, melesat ke ketinggian, ke langit bersih tanpa awan. Seperti juga suara yang didengar oleh Antonia Bianchi beberapa saat sebelum Paganini memutuskan hubungan mereka. “Kita sudah melewati waktu yang panjang, tapi kita takkan berhasil untuk waktu yang panjang berikutnya,” begitu kata Paganini. Lelaki itu telah disergap depresi berkali-kali, ditambah oleh gaya hidupnya, sejumlah penyakit menjangkitinya silih berganti.

Aku bayangkan malam setelah pemutusan itu, Antonia Bianchi melepas penutup kepalanya. Seluruh komposisi yang pernah mereka mainkan bersama berubah jadi bunyi api yang meretak-retak. Bunyi yang memenuhi kepalanya, seakan-akan kepalanya adalah hutan gambut. Api membesar menembus tulang tengkorak, merambati helai-helai rambutnya. Seluruh rambutnya menyala. Antonia Bianchi mengambil biolanya dan berjalan ke luar rumah, melewati jalan setapak di antara kebun bunga, melewati tepian sungai, permukiman kaum pinggiran dan terus ke tengah kota tempat para borjuis menikmati waktu istirahatnya. Tepat di alun-alun ia menaiki tugu kota, lalu di sana ia mainkan biolanya. Seluruh kota tiba-tiba seperti disapu badai api. Orang-orang yang terlelap bahkan tak sempat keluar dari mimpinya ketika badai api mengubah mereka jadi debu.

Seorang gadis kecil yang berada dalam mimpi warga sedang menyisir rambutnya ketika badai api itu tiba. Sang warga lebur jadi debu dan gadis kecil itu terperangkap dalam mimpi. Di dalam mimpi itu ia tumbuh menjadi remaja yang mandiri. Ia menempuh pendidikan tinggi dalam bidang agama dan menghidupi dirinya sebagai penyanyi di kafe-kafe. Suatu ketika ia ikut audisi acara pencarian bintang di televisi dan hal itu mengangkat popularitasnya. Ia kemudian semakin sering tampil, baik untuk acara-acara komersial maupun amal. Aku tidak pernah melihatnya secara langsung ketika televisi menyiarkan sesinya, aku melihatnya di sebuah kanal video, ketika teman dekatnya, seorang aktor muda menunjukkannya padaku.

Sejujurnya, aku tidak terkejut dengan kemampuan bernyanyinya, tapi aku terkejut dengan namanya; Paganini. Nama itu mengingatkan aku pada dua hal; api dan biola. Lalu, bersama aktor muda itu, dia datang ke tempatku, dan selama kunjungan ia tak pernah beranjak dari tempatnya duduk; di lantai dengan punggung menempel dinding. Saat itu aku berencana menulis satu naskah teater perihal virtuoso biola itu dan tiada bukan, ketika aku melihatnya, kukira ia pantas memainkan tokoh Antonia Bianchi.”

“Paganini mati karena pendarahan dalam. Kukira itu stroke, karena hipertensi. Bertahun-tahun pihak gereja menolak pemakamannya karena reputasinya yang dianggap dekat dengan iblis,” kataku.

“Apakah para musisi main biola untuk mengiringi pemakamannya?”

“Hmmm, aku tidak tahu. Tapi pastinya begitu, kau tahu, selama hidup ia sangat dihormati.”

“Kalau saya mati, saya harap ada yang mau memainkan musik untuk mengiringi pemakaman saya.”

“Oh ya? Sebuah lagu khusus?”

“Ya. Sebuah lagu.”

“Lagu gubahanmu?”

“Tidak. Joan Osborne.”

What if God was One of Us. Aku ingat Osborne, lagunya yang rasanya cocok diputar dalam bus kota. Aku pernah melihat ia membawakan lagu itu dalam suatu acara amal untuk korban gempa. Waktu itu ia tampil tanpa alas kaki dan bernyanyi hanya diiringi papan-kunci. Rambutnya seperti menyala di udara malam, ada bayangan api di sekitar rambut itu. Beberapa saat sebelum ia tampil, si aktor muda sudah duduk di dekatku dan berkata, “Pamela tampil sekarang,” seakan-akan itu berita kematian seseorang yang aku kenal. Tentu aku tahu Pamela Paganini akan tampil, karena itu aku berada di sana. Aktor muda itu ada baiknya aku tendang supaya sedikit lebih peka. Tetapi karena aktor muda itu, seperti juga Niccolo Paganini, tampak memiliki gejala sindrom Marfan, aku tak jadi menendangnya. Dia cocok bermain sebagai Paganini muda, mungkin rambutnya yang perlu diubah, juga dilatih mengatasi trakomanya.

Ketika Pamela Paganini memainkan nomor itu, ia tak mengingatkanku pada Osborne, ia mengingatkanku pada Antonia Bianchi. Acara amal itu berlangsung di tengah kota, sama seperti ketika Antonia Bianchi memainkan biolanya dan membakar seluruh kota. Aku menatapnya dengan teliti, pelan-pelan aku lihat api merambat di rambutnya. Api itu membesar, butir-butirnya menetes ke lantai trotoar, menyatu lalu membentuk genangan api yang meluas. Sebentar kemudian area pertunjukan sudah dibanjiri api.

“Bagaimana cara menghadirkan api itu di panggung?” kata si aktor muda.”Oh ya, bisa pakai video mapping ya,” lanjutnya. “Tidak,” kataku.”Kita akan pakai api betulan.” Aktor muda itu terbahak-bahak, keinginanku untuk menendangnya bangkit kembali. Pamela Paganini tidak ikut tertawa. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Serangga yang tadi terperangkap di kasa sudah bisa melepaskan diri. Terbang berputar-putar seperti masih kebingungan. Sesekali melesat turun mengitari kepalaku. Tahun 1840, pada hari ketika Paganini mati, seseorang yang tidak pernah disebut namanya dalam sejarah telah bersaksi bahwa dari tubuh lelaki itu keluar asap yang sesaat sebelum lenyap di udara membentuk kode-kode partitur. Cerita itu minor, dan mungkin hanya pernah didengar beberapa orang saja. Tetapi cerita itu tetap bertahan di antara berjuta-juta cerita lain yang bagai asteroid berusaha menembus atmosfer untuk bertahan di bumi. Cerita itu salah satu yang berhasil menembus atmosfer dan bertahan di bumi meskipun hanya dalam bentuk partikel sangat kecil.

Aku menemukan partikel itu secara tidak sengaja ketika menonton tayangan video sains berjudul The Unseen World. Tepat saat video menampilkan gambar partikel-partikel tak kasatmata di sekitar kita, listrik tiba-tiba padam. Mesin pemutar video yang tidak bisa menyimpan daya turut padam. Layarnya hitam sepenuhnya. Aku menghela napas, kutatap layar hitam itu lama-lama seakan dengan begitu mesinnya akan menyala kembali. Persis di tengah-tengah layar, aku melihat sebintik noda. Kuhapus noda itu dengan telunjukku. Tapi noda itu bergeming. Bahkan ketika kuletakkan lagi telunjukku di atasnya noda itu kian menyembul, seolah-olah ia keluar dari dalam layar. Itu adalah butir kecil entah-apa, berpendar redup. Ketika hendak kusentuh lagi, butir itu menempel di telunjukku, lalu pelan-pelan melesap menembus kulitku dan lenyap tak berbekas.

Saat itu aku merasakan sensasi yang ganjil. Seperti berada di dalam gedung pertunjukan, di kursi penonton, di antara orang-orang asing berpakaian rapi. Di panggung, musik sedang dimainkan; 24 Caprices for Solo Violin. Dan di sana dia berdiri, Niccolo Paganini, sang virtuoso. Riuh tepuk tangan menggema di seantero ruang ketika dia menyelesaikan nomor tersebut dan para penonton berdiri dengan paras seperti baru saja mendapat pencerahan jiwa.

“Tapi api sulit dikontrol, bagaimana jika terjadi kebakaran? Lagipula akan sulit mendapat izin memakai api dalam pertunjukan,” kata si aktor muda.

“Itu tidak akan jadi masalah jika salah satu di antara kita adalah Tuhan,” jawabku sambil menatap Pamela. Aktor muda itu kembali terbahak. Entah terbahak karena perkataanku atau karena caraku menatap Pamela. Sesungguhnya aku tidak persis menatap Pamela, aku hanya menatap rambutnya. Rambut yang kembali menampakkan bayangan api. “Tapi tidak mungkin aku.” kataku sembari berpaling ke si aktor muda, “Kalau kau adalah Paganini dan Pamela adalah Antonia Bianchi, maka aku adalah iblisnya.”

“Benarkah?” ujar Pamela Paganini. Ucapanku rupanya mengusiknya. Aku lihat rambutnya mulai menyala. “Tapi bagaimana jika salah satu di antara kita benar-benar Tuhan?”

“Kita bertiga ini tampaknya tidak….”

“Bukan bertiga, tapi berempat.” Pamela Paganini memotong ucapanku lalu pelan-pelan mengarahkan pandangannya ke atas. Aku dan si aktor muda mengikuti pandangan itu. Di atas kami, serangga yang tadi terperangkap di kasa, kini mengapung, begitu tenang dan berbobot. Serangga itu tampak seperti sebutir partikel kecil yang membesar, dan terus membesar.

(Kekalik, 2018)

Kiki Sulistyo menulis kumpulan cerpen Belfegor dan Para Penambang (2018). Tahun 2017 meraih Kusala Sastra Khatulistiwa untuk buku kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (2017). Buku terbarunya adalah Rawi Tanah Bakarti (2018).


[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 29-30 Desember 2018