Rantai Babi – Jimat Qiu – Pertempuran Bakarti – Bakarti: Setelah Pertempuran – Asmara Dua Serampai

Karya . Dikliping tanggal 15 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Rantai Babi

yang bertaring mesti bertarung dengan yang berdengking, yakni si anjing
tapi hela dulu ke hulu ladang, ke gatal bulu batang pohon birak
pabila ia siluman akan terdengar siulan dari balik bilik si tuan
dian tak sekali-kali padam, uang logam direndam di pemandian
lalu orang bikin sandi, orang bikin sandiwara bagi penghuni candi
pandai besi gaib, ini rantai, sepandai-pandai pantun bikin andai
mesti sampai ke leher tambun, supaya tercekik, supaya mendelik mata si rabun
dan rampung tarung dalam sekali gulung, meninggalkan yang mati, yakni palasik
penyebab paceklik, paku picik di dinding bilik, memercik darah, biji-biji jadah
lalu orang bikin gawai, orang ramai-ramai menggadai, tanah, rumah, hasil sawah
tukang joged bersiap, tukang pelet bersiap-siap, ke gelanggang, gemerincing gelang
satu perawan untuk satu tiupan, satu tiupan satu siluman diberi makan
di bilik si tuan tinggal terdengar bunyi nguik, babi pulang kandang, demikian kanjang
berkampuh apa yang tak bisa disentuh jari, apa yang menyepuh caya bagi sigi, yakni api
(Bakarti-Pagesangan, 2016)

Jimat Qiu

tidak ada jin di gili ini, hanya ada makam tanpa jisim
jadi tak sangkil kami kalaupun di pasar pagi orang ramai bagai tersepai
menyebut-nyebut kami dengan bulu tengkuk tak mau runduk
di meja-meja judi kami selekas kulacino, lenyap oleh gelas berikutnya
tapi di tidur kaum perenung, kami ini gunung, gunung sembilan tampuk
sembilan tampuk jumlah kami, sembilan wali tersampuk di batas akli
orang mencari kami agar peruntungan datang sedulang-dulang
meski marka kejut bikin murka mereka dan sawala menjalar ke mana saja
di birai tempat pandai ramal memberi amal, kami semata candala
tak mangkus dan selalu pupus oleh debu dari kulit kitab tua
ke mana lenyapnya manzil ulama kalamana rasi menyala di barat daya
gugusan terang, kilau benang-benang terjulur ke luas wahana
serta komet yang melintas cepat antara mata kanak
dan hari terakhir seorang budak, seorang budak tak bernama
malam diserpihkan garam laguna, makam dibersihkan caram pemuja
setelah purnama melepaskan unsur-unsur cahayanya
ke dalam mantra, tepat saat genta dipukul kali ketiga
mengikat kami, jadi sekali jadi, didaki, didaki setanggi-tanggi
sampai sembilan, sembilan kali sembilan kali sembilan kali
(Bakarti, 2016)

Pertempuran Bakarti

mendarat. tepat di hari kabisat. pecahan roket. seringan perca songket.
pembungkus pelet. para rompak sapi. tombak api. tegak di cadas-cadas sungai
ikan mati. di bawah. ikan mati. sebab darah. racun dari keping maja
melarutkan sisa merah. sisa ramuan. setelah perjamuan. sebelum pertempuran penghabisan
menggeser garis peta. menunjuk tempat yang tak pernah ada.
ini bakarti. tiga jemari lagi. seluruh jampi tak lagi berarti
sabak batu bersinar. kapak batu berpendar. serangga-serangga padam sayapnya.
kobar dari gerumbul. kibar umbul-umbul. untuk tuan guru yang kalah.
dengan kain berlumur sumpah: kami juga akan mati. tapi mati kami.
menyalakan mata kami. bagi mereka yang nanti kembali.
roket-roket dilepaskan. roket-roket pelet. terus dilepaskan.
(Bakarti, 2016)

Bakarti: Setelah Pertempuran

mereka yang kembali. telah mencuci sumpah kami. hingga putih.
seperti daging srikaya. seperti lengking anjing buta.
tangan mereka tak bergaris. dingin dan dingin. setiap pergantian rasi
menukar rupa dan nama-nama.
kami lihat dua belas konstelasi. menaungi apa yang pernah terjadi.
bermilyar kali. agar hidup yang sia-sia.
tetap sia-sia.
sementara kami. terus bermimpi. melihat piring terbang mendarat di ladang kacang.
cacing-cacing bercahaya di permukaan samudra. satu per satu. lelaki berlalu.
lelaki menyeberang. lelaki merenggut ringgit. dari sawit ke sawit.
siapa lagi yang bakal datang ke tanah ini
dengan pedang di bahu kiri
memanggil-manggil penunggang bumi.
rumah-rumah kami. telah penuh oleh kisah orang mati.
maka dengarlah. sebelum kunci malam diputar ke kanan
akan kami nanti. komet melintas di ambang pagi.
saat dua belas konstelasi bersalin tali. dan yang lahir kembali
terlahir lagi bermilyar kali.
(Bakarti, 2016)

Asmara Dua Serampai

: Maywin

1.

itu lingkaran, di mana kita tak tahu mana mulai
mana mulai lagi. itu ujung, di mana kita tak kunjung
rampung, atau berhenti mengitari garis yang makin
tebal menambal kesalahan, menambah kebebalan
kecup sebintik rintik di rambut perdumu
membasahi jalan bercabang antara aku,
kusut baju dan anggur merah untuk ibu
juga pagi perunggu yang bisu di payung kayu
kau hidup untuk bertandang atau berkandang padaku
setelah binatang itu keluar dari tubuhmu, menyisakan
ragu dan hantu yang bersiap di tiap jalan menujuku
di palungmu tumbuh benalu berbulu
di betingku lumut melumat bening getahku

2.

dirundung ragu kau lagu yang membunyikanku lagi
bunyi dingin di seberang tidurmu, rusukmu, ruh birumu
ciumanmu tiang yang kepalang pada simpang-simpang
manakala aku pulang dan berpaling dari semua pelukan
kemarin kemarau, sekarang tali-tali air berpukang
tanganmu rindang melindungi aku dari kebisingan
kukira orang mati-matian untuk hidup, berharap maut
luput menyebut, surut sebelum sempat mencabut
tapi seluruh yang bisa luruh ada pada tubuh yang tak
bisa utuh, tubuhmu yang berhantu,
tubuhku yang runtuh
setiap kali tumbuh.
(2015)
Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Kumpulan puisinya antara lain Penangkar Bekisar (2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Sabtu 14 Mei 2016