Rasanya, Bus Ini Teramat Lamban

Karya . Dikliping tanggal 6 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Aku pulang. Ya, aku pulang. Setelah dua belas tahun mengembara. Mengembara tanpa sebaris pun berkirim kabar. Mengembara ke kota-kota yang jauh. Kota-kota yang beraneka ragam. Ada Kota Pendapat. Kota Tidur. Dan Kota Hantu. Aku pulang. Ya, aku pulang. Pulang ke kampungku. Ke ibu. Ke ayah. Ke adik-adikku. Juga, mungkin jika masih menungguku, ke Rita. Lengkapnya Rita Prihatiningsih. Kekasihku.

Kekasihku yang mempunyai wajah bulat telur. Mata tajam. Bibir mungil. Dan kulit agak cokelat. Kekasihku yang setiap dulu aku terlambat menemuinya, selalu mengomel tak karuan: “Jika kau terus terlambat, bagaimana kelak bekerja? Jangan-jangan kau akan dipecat. Terus mencari kerja lagi. Lalu, aku yang sudah jadi istrimu, akan bagaimana?”

Akan bagaimana? Tentu saja aku mesem. Bayangkan, di zaman yang merdeka, kok masih saja ada yang waswas dengan kata akan bagaimana. Lagian, apa Tuhan begitu kejam. Sampai-sampai membiarkan ciptaan-Nya pada pusaran kata akan bagaimana itu? Rita, Rita, betapa lugunya dirimu. Tapi, meski begitu, (waktu itu) betapa aku cintai kau. Aku cintai dengan seluruh tubuh dan jeroanku. Juga dengan seluruh bayanganku.

Bayanganku yang gampang mulur-mungkret. Tergantung dari mana cahaya menyorot. Jika dari atas, akan mungkret. Tapi, jika dari depan atau belakang, akan mulur. Semulur lengan kawanku, Sahib, yang menjangkau motor Pak Kades. Tapi ketahuan. Dan karena kasihan, maka aku yang mengakuinya. Pak Kades kaget. Sebentar. Terus memaafkan. Tapi keluargaku malu. Dan aku pun memutuskan untuk pergi. Pergi dari kampung. Mengembara. Mengembara ke kota-kota yang beraneka ragam.

Oya, waktu aku akan pergi, ibu menangis. Ayah tak tahu ke mana. Sedangkan, adik-adikku (yang berjumlah tiga), hanya bisa melambai dari jauh. Dan Rita cuma mengirimkan secarik surat. Surat berwarna putih. Dengan tulisan yang singkat: “Kau pergi. Aku malu. Tapi aku menunggu. Menunggu bukti. Jika kau bisa berubah.” Tentu saja aku tercekat. Tapi itu cuma sebentar.

Sebab, aku tahu, jika Sahib yang mengakui, mungkin akan lebih parah. Sebab, saat memulurkan lengannya ke motor Pak Kades, Sahib butuh uang untuk menebus obat ibunya dan bayaran sekolah adik-adiknya. Padahal, siapa pun tahu, Sahib adalah tulang punggung keluarganya. Keluarga yang telah ditinggal mati si bapak. Keluarga yang ribut melulu. Keluarga dengan seorang ibu dengan enam anak. Termasuk Sahib yang paling besar. Keluarga yang harus bertahan dengan segala kekurangan.

“Kau baik sekali, Adib,” kata Sahib di terminal. Dia merangkulku. Aku merangkulnya. Tapi dalam hatiku, sebenarnya ingin menggampar wajahnya. Wajah yang kelewat polos itu. Dan kelewat tak bisa berpikir barang sejengkal pun. Gila. Benar-benar gila. Tapi, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Dan aku mesti menanggung semua yang tak aku lakukan. Maka, aku pun pergi dari kampung. Pergi mengembara.

***

Di pengembaraan itu, Kota Pendapat adalah kota yang pertama aku datangi. Sebuah kota yang sejuk. Tenang. Giat. Meski semua wajah penduduknya seperti rumus atau deskripsi teori keilmuan. Apa-apa yang mereka katakan dan kerjakan, selalu berdasar pada pendapat seseorang. Baik seseorang yang tersohor maupun yang masih merangkak. Seseorang yang berwibawa maupun yang pendebat. Misalnya:

“Apa yang ingin kita masak hari ini?” tanya seorang istri pada suaminya.

“Menurut pendapat Prof Mukri, ini bulan tiga. Maka angin timur datang. Hujan sedangan. Yang baik adalah memasak bayam dengan ikan mujair,” jawab suaminya.

“Lalu, tentang harganya, masih seimbangkah dengan uang belanja kita. Sebab, menurut Dr Krimuni, daya hidup keluarga harus seimbang antara daya beli dan kebutuhan?”

“Apa? Pendapat Dr Krimuni? Itu kan sudah didebat oleh Dr Ulab, bahwa selalu ada hitungan tak terduga dari setiap uang yang dibelanjakan.”

Dan begitulah seterusnya. Sampai keduanya sepakat. Sepakat membeli sayur bayam dan ikan mujair untuk dimasak. Dan ini tentunya membuat aku terhenyak. Kok bisa ya hidup diatur oleh pendapat, pendapat, dan pendapat. Lalu, bagaimana jika akan bercinta. Pastilah seru. Sebab, sekian pendapat tentang bercinta yang baik dan buruk, berguna dan sebaliknya, akan bertaburan. Dan bagaimana juga jika sekian pendapat yang bertaburan itu berseberangan? Pastilah percekcokan tak bisa terelakkan.

Tapi, untunglah, selama di Kota Pendapat, percekcokan yang aku temui hanya terjadi sekali. Yaitu ketika seseorang akan membuat onde-onde. Terus bertanya pada seseorang. Seseorang yang ditanya menyatakan, menurut Dr Limbuk, wijen yang menaburi onde-onde harus dihitung kerapatannya. Sebaliknya, yang bertanya menukas, menurut Dr Gimin, yang penting adalah jumlah wijennya. Hasilnya? Mereka tak jadi membuat onde-onde. Sibuk mempercekcokkan wijen.

Setelah puas di Kota Pendapat, aku melompat ke Kota Tidur. Astaga, jika di Kota Pendapat, penduduknya giat-giat, maka di Kota Tidur sebaliknya. Penduduknya lebih banyak berdiam di kamar tidur. Mendengkur. Dan bagi yang tak suka tidur, akan dianggap sebagai penduduk yang menganggur. Kenapa? Karena di Kota Tidur, pekerjaan yang paling mulia adalah tidur. Pekerjaan yang membuat kota ini jadi terkenal. Meski setiap saat selalu saja terdengar suara dengkuran seperti ini.

“Kur krzz kur krzz kur krzz&hellip…”

“Srup brrr srup brrr srup brrr&hellip…”

“Wur wuz wur wuz wur wuz&hellip….”

“Xrrr xrrr xrrr xrrr xrrrssss&hellip…”

Tapi, meski begitu, banyak penduduk dari kota-kota lain yang datang. Umumnya, ingin belajar tidur yang lelap. Tidur yang nyaman. Dan tidur yang ajaib. Tidur yang sudah jarang dialami oleh penduduk dari kota-kota lain itu. Oleh karenanya, meski membayar mahal, penduduk dari kota-kota lain itu tak keberatan untuk membayarnya. Tapi, di Kota Tidur aku tak kerasan. Kenapa? Karena seumur-umurnya, aku biasa terjaga, maka aku tak bisa untuk lebih banyak tidur di kamar tidur. Dan karena kebiasaan ini, oleh penduduk Kota Tidur, aku dijuluki sebagai pengangguran kelas berat.

***

Rasanya, Bus Ini Teramat LambanOya, ngomong-ngomong, 60 kilometer lagi bus ini akan sampai di muka jalan kampungku. Hatiku berdebar. Jantungku berderak. Seperti peluit kereta api, begitulah semua yang ada di sekelilingku. Sopir, kernet, penumpang di depan, di tengah, di belakang, semuanya seperti berbarengan berpeluiiittt… seperti mengantarku untuk kembali ke kampungku. Ke tempat masa kecilku. Ke masa, ketika kami (aku dan Sahib), tak bosan-bosan menangkapi ikan-ikan meliun di parit yang melingkari madrasah.

Ikan-ikan meliun yang besarnya setengah kelingking. Yang warnanya kelabu. Yang punggungnya ada garis biru, kuning, atau merah. Ikan-ikan meliun, yang ketika sudah tertangkap banyak, kami masukkan ke dalam stoples. Tapi sayangnya, umur ikan-ikan meliun biasanya cuma dua hari. Setelah itu mati satu per satu. Kami tak tahu apa penyebabnya. Yang jelas, setelah ikan-ikan meliun itu semua mati, kami pun kembali menangkapinya.

“Adib, kau siapkan seroknya.”

“Oke.”

“Aku sebelah sini.”

“Kau mesti cepet. Jangan lepas seperti kemarin, ya, Hib.”

“Sip. Beres.”

“Tangkap yang gede itu.”

“Mana?”

“Yang warna punggungnya biru itu.”

“Hup!”

Betapa, betapa, cerianya dunia kami saat itu. Dunia yang bagi kami begitu lepas. Begitu bebas. Dunia yang ketika dikenang saat ini, seperti mimpi yang cepat menguap. Akh, apakah ini yang disebut sebagai kenyataan yang tak mungkin bisa digenggam itu? Entahlah. Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Itu pertanyaan yang ngelantur. Seperti ngelanturnya Kota Hantu. Kota Hantu? Ya, ya, Kota Hantu, nama kota yang aku tuju setelah pergi dari Kota Tidur.

Dan di Kota Hantu, apa-apa yang ada, dan yang terlihat, memang ngelantur. Gampang berubah. Dan gampang merucut. Rasanya sudah terpegang, tapi tidak. Dan rasanya sudah yakin, tapi malah meragukan. Jadinya, di Kota Hantu, aku tak yakin, apakah aku memang ada di dalamnya, atau malah cuma berkitaran di tepi-tepinya. Malahan yang lebih aneh, siapa-siapa yang aku kenal, besoknya seakan-akan belum aku kenal.

Semuanya seperti hantu. Selalu berkelebat sesukanya. Seenak udelnya. Tanpa pernah diduga. Dan jika sempat diduga, itu pun cuma sesaat saja. Lalu apakah aku bingung? Tentu saja awalnya begitu. Tapi lama-kelamaan terbiasa. Seperti terbiasanya aku, yang mengenalkan diri mungkin sebagai Anton, atau Duki, atau Alek, atau ini, atau itu, pada siapa saja yang ada. Pengenalan diri yang tergantung pada keadaan hati dan waktu yang terus ngelantur. Termasuk ketika bertanya jawab:

“Dari mana kau, Bung?”

“Sop buntut.”

“Mau ke mana?”

“Satu tambah satu, satu.”

“Wah, keren.”

“Dan apa yang kau makan?”

“Pasar klewer.”

“Kolong ranjang?”

“Sedikit.”

“Burung emprit?”

“Mungkin tambah romantis.”

Kini, aku pikir, cukuplah ceritaku sampai di sini dulu. Sebab, setengah jam lagi bus ini akan sampai di muka jalan kampungku. Dan aku mesti turun. Aku sudah tak sabar. Apa gapura kampungku sudah berubah. Apa jalan yang dari batu kapur itu sudah diaspal. Apa warung tempat aku nongkrong dengan Sahib dulu masih ada? Aku, aku, lagi-lagi tak bisa menjawab.

Yup, aku membau masakan ibu. Memandang gerak ayah. Mendengar tawa tiga adikku. Juga membayangkan wajah Sahib. Wajah yang mungkin masih tetap kelewat polos. Wajah yang pelan-pelan berubah menjadi wajah Rita. Wajah kekasihku tercinta. Kekasihku yang mungkin benar-benar menungguku. Atau, malah sudah menikah. Menikah dengan siapa? Berapa anaknya? Satu, dua, tiga, atau kembar. Rasanya, bus ini teramat lamban.

Mardi Luhung lahir di Gresik, Jawa Timur, 5 Maret 1965. Dia lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Jember. Puisinya tersebar di berbagai media. Tahun 2010 mendapat anugerah Khatulistiwa Literary Award. Buku cerpen pertamanya adalah Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011).


[1] Disalin dari karya Mardi Luhung
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Akhir Pekan 3-4 November 2018