Ratapan Kambing Korban Khianat Ayam

Karya . Dikliping tanggal 17 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Ratapan Kambing Korban 1

Pagi seperti kekal, seperti sebelum terlahir waktu. Angin berderit hanya, pelan dan macet; engsel pintu berkarat tanpa pelumas. Sudah kutahu ajal yang tiba, bahkan sebelum angin meringis. Karena sudah terhenti darahku sejak undian jatuh padaku.
Tiga pintu kemah suci, diapit empat tiang kayu penaga. Tiga pribadi maha kudus, empat kitab berkabar gembira. Sudah kulalui pintu yang tengah, tapi kabar padaku tak mungkin gembira.
Mengapa pias wajahmu, padahal tak segera mati kau? Matamu terluka, kita bakal tak bersua, bahkan bila tetap kau di sini. Matamu berkabut, tak mampu kuduga maknanya. Lantas kau diseret keluar tatkala leherku ditatah atas mezbah batu. Ada saat tak perlu berpikir, kendati tak menjawab pelbagai tanya, tatkala darah tertampung dalam bejana.

Ratapan Kambing Korban 2

Mati dan mati ada bedanya. Kita niscaya mati kelak, tapi demi sebuah bangsa aku dimatikan. Kau bergidik. Mata pisau ternyata tak seperih kilaunya. Tapi beban itu, dosa itu, alangkah berat menghimpit nyawaku. Tapi gentar tak lagi ada, karena ada yang harus dihadapi tanpa bisa kau pilih.
Di pelataran, dagingku bergerak masih walau nyawa sudah tak ada. Tapi api itu alangkah murka:
Beri aku daging! Beri aku daging! Ingin kujilat segala lemaknya, ingin kukunyah derak tulangnya hangus!
(Tapi darahku tak curahi mezbahMu).

Ratapan Kambing Korban 3

Melewati bejana pembasuhan, tak sempat kulihat wajahku.
Kandil kencana murni, diminyaki zaitun asli. Menyala sepanjang pagi dan sore.
Dua belas buah roti dari tepung terbaik berlapis kemenyan; persembahan diri utuh-penuh.
Meriak pula tabir berlapis dua oleh gemetar batuan mezbah.

Ratapan Kambing Korban 4

Menguak bawah tirai, kami hadir di depanMu, oh Allah Segala Kekelaman!
Dupa disiapkan tergesa-gesa. Antara rindu dan ngeri yang maha.
(Oh, lautan wangi asap ukupan! Mati cahaya kandil bercabang tujuh!
Oh, harum mur dan gaharu dan segala rempah! Tenggelam kami dalam pekat bisa tersentuh jemari!)
Lalu dipercikkan tujuh kali darahku atas tutupan Tabut. Gemetar ujung jemarinya, oleh kental darahku ataukah cambuk cemasnya sendiri? Tapi bibir yang hampir kelu itu berbisik – bagai mantera, “Kumasuki ruang maha kudus, dengan darah Anak Domba.”
Antara bentangan sayap dua kerubim menyembah, hadirlah Dia Yang Tak Terjamah. Di atas jeritan percik darahku.
Padamu hukuman dialihkan, lantas kau terhilang. Memang noda harus terbuang. Tak diingat lagi. Tapi aku disembelih sebagai korban, menutupi segala dosa.
Azazel, kita hanyalah kembar bernama tumbal dosa. Berdua melukis kebenaran, bahwa tebusanNya penuh dan lengkap.
Kupang, 25-05-2014

Khianat Ayam

di rumah Kayafas
Seperti terjebak dalam mimpi buruk yang aneh:
Hanya wajah asing, tembok kaku dan ngeri
sekonyong menangkup. Ngeri yang asing.
Dan perempuan cerewet insomnia
menyebalkan, tiba-tiba menuding,
“Engkau rombongan guru Galilea itu, bukan?”
Celingukan ia, tergagap. Tak siapa atau apa. Selain
ketakutannya. Menyangkal, ia bergeser ke gerbang,
“Perempuan, tak kupahami maksudmu.”
Tapi memburu jua tanya itu ke celah kerumun asing
sekeliling unggun. “Senantiasa ia bersama Yesus!”
Hanya kalimat sederhana seorang perempuan nyinyir.
(Guru, untuk musuhkah hanya, padaku kau minta bawakan pedang?)
Menyesali langkah yang buntu, bersumpahlah ia,
“Demi Allah segala semesta, tak kukenal dia!”
Langit – lengkung kaca retak belaka – siap tercurah ke batok.
Alangkah gairah kemarin, saat berseru: Engkau Mesias!
Tak mungkin tiga kali kusangkal Kau!
“Tapi kental logatmu, kau muridnya sungguh!”
(O, beri aku telinga Malkhus biar bungkam segala bunyi.
O, beri aku hati singa karena berkilat pedangku di lidahnya betina).
Sia-sia. Meratapi malang nasibnya pula segala jalan
yang mengatup di subuh paling sialan, ia pun mengutuk:
“Tidak kukenal jahanam kau sebutkan itu!”
Maka sepi pun cabik tersayat kokok teramat subuh.
Memintas ruang, sekilas tertangkap tatapan kasih guru.
Tercekat, dia mengerang. Lirih sekali.
“Ayam itu, Guru, ayam itu telah berkhianat….”
Januari-Maret 2015

Cyprianus Bitin Berek adalah alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Yogyakarta. Kini ia tinggal di Kupang dan bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Cyprianus Bitin Berek
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” 17 Mei 2015