Rawa Linge

Karya . Dikliping tanggal 8 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
BULU kudukku merinding saat berada di dekat Rawa Linge. Spontan kaki berhenti melangkah, kemudian mundur perlahan. Alang-alang kaku menunjuk langit, mendong seperti keberatan menyangga bunga di dahannya. Elang rawa memekik nyaring. Alang-alang yang berada tak jauh dariku tiba-tiba bergerak. Dan pada detik itu jarum jam berhenti bergerak ….
Seekor makhluk bermulut gurita –badannya ditumbuhi bulu– keluar dari balik alang-alang. Perawakannya menyerupai tikus tanah Amerika Utara. Hanya saja tikus tanah tak lebih besar dari tapak tangan manusia. Tapi ini? Kutaksir tingginya lebih dari dua hasta. Makhluk itu menyeringai menatapku. Kaki ini memaku bumi. Lumpuh tak bisa bergerak.
”Jangan berjalan-jalan terlalu jauh,” ujar mak tadi pagi. Tak ada maksud hati untuk melanggar sabda wanita tersebut, tapi aku butuh sesuatu untuk ditulis. Rugi saja sampai ke Bener Meriah kalau tidak menemukan apa-apa. Tapi menatap makhluk yang kini berdiri di depan, rasanya aku sudah tidak butuh itu lagi. Hewan aneh berbulu abu-abu kehitaman itu bergerak mendekat ke arahku. Lututku bergetar hebat. Tidak lama lagi tak akan mampu menopang badan.
”Jangan takut, Manusia. Ikutlah denganku.” Binatang itu berbicara kepadaku? Kucubit kulit lengan. Sakit! Aku tidak sedang bermimpi. 
Binatang di depanku bukan ilusi. Binatang itu berbalik membelakangiku. Tungkaiku benar-benar
tak bisa diajak berkompromi. Begitu saja melangkah di belakang makhluk aneh itu.
Makhluk itu berlenggak-lenggok di depan. Ia terus berjalan memasuki rawa. Otakku memberi perintah untuk berhenti. Gambut rawa bisa menenggelamkanku. Tapi kaki terus berjalan. Aku mulai mengikutinya ke dalam air bergambut itu. Mula-mula sampai mata kaki, kemudian sampai lutut. Mendong, alang-alang, kalakai, bahkan enceng gondok menyibakkan diri, memberikan jalan untukku. 
Aku terus melangkah hingga air encapai dada, kemudian mencapai dagu. Kakiku benar-benar bukan milikku lagi. Otak sudah memperingati bahaya, tapi kaki tak mau berhenti. Beberapa menit ke depan, orang-orang akan menemukan tubuhku mengambang di rawa. Pada langkah selanjutnya, rawa menjadi begitu dalam. Aku terjatuh dalam lubang hitam tanpa dasar. Semua menjadi gelap.
***
”Selamat datang di kerajaan kami, Tuan Putri.” ujar makhluk berbulu yang kini duduk di atas singgasana. Mungkinkah itu penguasa rawa? Ular piton melingkar di kursi di sebelah kiri. Kura-kura dengan tempurung berduri duduk di samping kanan. Seluruh tubuhnya hitam legam. Aku mencoba menebak, seberapa berbahaya makhluk itu? Mataku melirik ular piton yang mendesis. Elang rawa terus terbang berputar-putar di ruangan aneh itu. Satu yang pasti. Semua perhatian tertuju padaku.
”Duduklah!” Kembali binatang aneh itu berbicara. Sepertinya hanya dia yang bisa berbahasa manusia. Sejenak aku teringat pada petuah guru agama di Ibtidaiyah dulu. Bila hari kiamat tiba, akan keluar makhluk aneh yang bisa berbahasa manusia. Semoga saja itu bukan makhluk yang dimaksud guruku. Aku belum siap bertemu El Maut. Banyak noda hitam yang masih tercatat di buku amalan.
”Siapa kamu? Apa maumu? Kembali kan aku.”
”Duduk dulu, ada yang ingin kubicarakan padamu.” 
Aku menghempaskan pantat di sebuah kursi yang bertatahkan batu. Gurat-gurat berwarna merah hijau membentuk serat batu tersebut. Giok Gayo, bisik hatiku. Mungkinkah ini kursi hukuman matiku? 
”Apa maumu?”
Makhluk itu menarik napas panjang. ”Kamu ingin mendapatkan bahan untuk tulisanmu, bukan? Sebentar lagi akan banyak yang bisa kamu tulis.”
Sialan, binatang itu mampu membaca isi hatiku. Aku harus berhati-hati menyembunyikannya. 
”Katakan saja maumu, jangan berbelit-belit.” 
Lagi binatang itu menyeringai. Tentakel di mulutnya mengembang sempurna. Kupikir dia menyembunyikan kemarahannya. Tiba-tiba ruangan itu dipenuhi asap. Mataku perih. Aku mengerjap-ngerjap. Jarak pandang terhalang asap tebal.
”Letakkan api di sudut sana juga. Iya benar . Ikuti arah angin.” 
Telingaku mendengar suara manusia. Syukurlah aku masih hidup. 
”Ini belum cukup, bawa kemari jerigen minyak!” ujar suara yang sama.
Aku berusaha membuka mata. Di depanku terlihat lima orang sedang membakar semak tempat aku berlindung. Rasa cemas menyusupi hati. Aku berada di tengah-tengah kobaran api.
”Lari, Nak!” Seekor makhluk berbulu menyambar tanganku. Aku stres melihat bulu yang sama juga memenuhi lenganku. Bahkan seluruh tubuhku. Aku tak sempat berpikir jernih, kecuali berlari mengikuti kawanan. Api terus membesar, tapi kami berhasil selamat.
Dari atas pohon mereka melihat asap yang mengepul di sarang. Mereka menangis dan menjerit. Aku pun ikut menangis, tapi bukan menangisi pohon-pohon yang dimakan api. Lebih tepatnya aku menangisi diri sendiri. Makhluk sialan itu benar-benar telah mengubahku menjadi seekor lutung. Seekor lutung tentu tak memerlukan bahan untuk menulis sebuah cerpen. Apa yang harus kulakukan?
Aku salah telah mendatangi Rawa Linge. Mak ampuni anakmu ini.
Baru kemarin aku tiba di dataran tinggi Gayo. Hutan perawannya menggodaku untuk menemukan sesuatu untuk ditulis. Bukan berarti aku ingin menjadi lutung. Sesosok mata elang dengan alis tebal muncul dalam benakku.
”Jarimu bagus, Jeumpa. Lentik, identik dengan makanan enak.”
”Ya Tuhan, Bang Az lapar?”
”Bukan begitu. Perhatikan jari-jarimu. Semakin ke ujung semakin kecil kan?”
Aku mengangguk, kemudian memandangnya tak mengerti.
”Orang tua bilang, carilah istri dengan jari seperti itu jika ingin makan enak setiap hari. Artinya jari seperti itu pintar masak,” Bang Az memberi penjelasan panjang lebar. Aku tersenyum malu-malu kala itu.
Kupandangi lagi jemariku. Aku menggeleng-geleng kepala. Tentu Bang Az tidak akan mengatakan itu saat melihat jari penuh bulu milikku. Lutung tak pernah bisa memasak. Tidak! Bang Az bahkan tidak akan mengenaliku lagi. Air mata kembali menetes di pipi.
Aku memandang sosok lain yang berada di dekatku. Dia juga menangis sepertiku. Sosok itu yang tadi menyelamatkanku. Apakah lutung itu adalah Ibuku di sini. Mak! Kau di mana?
Aku ingin pulang. Aku merasakan sebuah tangan memegang bahuku. ”Kita harus pergi dari sini, Nak. Kalau tidak kita akan kelaparan. Sebentar lagi manusia-manusia itu akan membuka kebun kopi baru.  Jika melihat kita mereka akan sangat kejam. Aku tidak mau kehilangan anak lagi.”
Aku memandangnya lekat-lekat. Kutemukan kesedihan yang mendalam pada wajah itu.Aku teringat mak yang mungkin akan merasakan kehilangan aku seperti ibu lutung kehilangan anaknya. Tiba-tiba dia begitu mirip dengan mak.
Aku tidak tahu pasti sudah berapa lama mengikuti kawanan lutung ini. Ada Japra si pemimpin kawanan yang selalu membuat keputusan untuk kami. Mungkin puluhan bukit sudah kudaki. Kami berpindah-pindah tempat terus menerus. Dimana ada makanan di situ kami singgahi sampai makanan
itu habis. Lama-lama aku terbiasa dengan wujud baruku. Bergelantungan dari pohon ke pohon. Memakan buah-buahan seperti lutung lainnya. Aku mulai melupakan tikus tanah raksasa yang mengirimku ke sini. Atau aku mulai memaafkan makhluk itu dan melupakan kehidupan lamaku. Hanya satu yang tak kupunya di sini. Kekasih hati. Tak ada satu pun pejantan yang tertarik padaku.
Hingga hutan menjadi begitu pelit pada kami. Makanan menjadi langka. Bahkan hampir tidak ditemukan. Manusia-manusia itu begitu serakah. Tak hentinya mereka membakar hutan untuk membuka lahan baru. Kami semakin terjepit, terancam mati kelaparan. Aku untuk pertama kalinya merasakan susahnya menemukan makanan. Sebagai mantan manusia yang beriman aku pernah menjalankan puasa, tapi kami berbuka puasa setiap menjelang magrib dengan beraneka ragam makanan. Dan sahur saat sebelum imsak. Saat ini kadang aku tidak makan selama dua hari dua malam. Lapar itu benar-benar menyakitkan. Dan lapar itu bukan milik manusia semata. Lapar juga dirasakan lutung dan makhluk Tuhan lainnya.
Pada suatu hari Japra mengajak kami mencari makan di jalan yang dilalui oleh mobil-mobil milik manusia. Jika beruntung mereka suka melempar pisang dan biskuit kepada kami. Aku menunduk tak berani melihat wajah-wajah yang tersenyum di balik jendela mobil. Bagaimana jika terlihat wajah Mak? Apa yang harus kukatakan? Dan bagaimana jika itu Bang Az. Aku tidak ingin terlihat dalam kondisi sangat menyedihkan ini. Selera makanku hilang.
Seekor pejantan mendorongku untuk menyeberang. Dia menunjuk-nunjuk ke arah biskuit yang baru dilempar seorang penumpang. Aku hendak menggeleng, tapi kuurungkan saat melihat sebungkus biskuit coklat tergeletak begitu saja di jalan. Sudah sangat lama aku tak mencicipi makanan favoritku
itu. Sambil menunduk aku berjalan perlahan menyeberang. Entah mengapa kesedihan menyergap hatiku. Memungut makanan yang dilempar begitu saja layaknya seorang pengemis. Dan rasa manis coklat yang memanggilku. Ah! Lutung tahu apa tentang harga diri? Aku sedikit bersemangat melihat bungkus biskuit.
Kawanan tiba-tiba menjadi resah dan berteriak. Spontan aku melihat ke kiri. Sebuah minibus sedang melaju cepat ke arahku. Aku tak sempat mengelak. Masih sempat terdengar teriakan menyayat hati dari Ibu Lutung sebelum semuanya menjadi gelap. 
***
”Lihat, dia mulai bergerak-gerak. Kupikir dia akan sadar .” ujar salah seorang yang membaringkan sesosok tubuh di teras menasah.
”Siapa dia?” tanya yang lain.
”Bukankah ini kerabat Bang Sempena yang menghilang di daerah ini setahun lalu?.”
”Masa, si?” seorang warga menyibak kerumunan dan melihat sosok yang terbaring tidak sadar itu.”Iya, Ini memang Jeumpa, kerabat Bang Sempena yang datang kemari bersama ibunya. Bang Sempena sudah diberi tahu?”
”Seorang warga sedang mendatangi rumah Bang Sempena.”
”Kenapa gadis ini bisa pingsan di dekat Rawa Linge, ya? Jangan-jangan,” tebak warga pertama. Jeumpa sudah membuka matanya, gadis itu langsung duduk dan berkata, ”tolong, jangan bakar hutan lagi.” Semua menatapnya kebingungan.
Aceh Timur, Agustus 2015
Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Aceh Timur
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ida Fitri
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 6 September 2015