Reinkarnasi Ibu

Karya . Dikliping tanggal 2 Juli 2010 dalam kategori Arsip Cerpen, Tribun Jabar
AKHIRNYA mobil itu meninggalkan lapangan parkir yang basah. Hujan sedari pagi membasahi jalan-jalan kota yang dipenuhi guguran daun. Di dalam mobil terlihat seorang perempuan menangis dengan hening. Tak ada yang ditatapnya selain jalanan yang sepi. Tangannya sibuk di belakang kemudi. Sesekali dia mengusap air mata. Tak ada yang abadi, pikirnya. Tak ada yang abadi selain perubahan.

Dia ingat ketika tiba-tiba saja ayahnya mengabarkan kematian seorang ibu. Kenangan yang berlompatan muncul di tidur malamnya. Ibu yang disayangi harus pergi tanpa dimengerti. Perempuan itu bertambah dewasa dan selalu riuh dengan keseharian. Akhirnya dia berusaha melupakan siapa ibunya, bagaimana rupa wajah, dan berusaha melupakan siapa yang melahirkannya. Waktu telah mengubah dia dengan segala fisiknya.
Tapi, pagi ini perempuan muda itu menemukan kembali bayangan ibu kandungnya. Di tempat dia bekerja: sebagai tukang sapu. Kenyataan tak diterima perempuan itu, ibu yang dia lupakan hadir kembali dengan status yang lebih rendah.
Kelebat waktu yang berloncatan menimbulkan lelatu pada bayangan masa lalu. Ditemuinya tukang sapu yang sedang sibuk mengelap kaca-kaca jendela di dalam ruangan ber-AC itu, ditatapnya lekat-lekat. Mulutnya tiba-tiba saja kaku tak dapat berucap apa pun. Kata-kata yang sudah diaturnya tiba-tiba saja tertahan di pita suara. Perhatiannya tak lepas dari wajah yang mulai memunculkan keriput-keriput. Ira tak mau kalah seperti kemarin yang langsung pulang untuk menghilangkan ketidakpercayaan. Jalinan masa lalu membawa Ira pada ibu di tahun 80-an. Pada penderitaan sebuah hati yang harus pergi bersama waktu untuk berubah.

***
Tapi mencapai reinkarnasi itu membutuhkan waktu ratusan tahun di alam sana. Perputaran lahir dan mati bukan waktu yang sekejap. Ada proses yang rumit, dan aku sendiri tak mengerti. Tak semudah membalikkan keadaan. Sekarang ini baru beberapa tahun berlalu. Dia muncul dengan keadaan yang begitu istimewa di kantor ini. Tukang sapu! Sosok yang aneh muncul setelah proses yang rumit. Aku pikir akan hadir seorang sosok yang lebih baik. Ternyata…. Tak kubayangkan dia harus menjadi ibu kedua dalam hidupku. Ibu yang tak pernah aku sangka dan pernah aku lupa. Kubayangkan ibu baruku seorang tathagata, tapi bukan. Dia hanya seorang yang mungkin kusesali kehadirannya.
Begitu saja lelatu itu menyulut kerinduan akan sosok ibu yang tak pernah aku ungkit selama ini. Di mana duniaku bersatu bersama keriuhan kota yang menjelma menjadi kesibukan-kesibukan. Ah… kusingkirkan sosok itu, tak kubiarkan pusat perhatian beralih pada perempuan yang belum kukenal. Entah siapa dia, dan dari mana datangnya aku tidak tahu. Kembali aku sibuk, membiarkan perempuan itu bekerja sampai meninggalkan ruang kerjaku.
Pada titik-titik kejenuhanku, muncul keinginan untuk mengenang masa lalu. Kembali ke desa sejenak, mengunjungi keluarga ayah di sana. Tapi kuhentikan keanehan ini, mungkin ini timbul karena hadirnya perempuan itu. Tak aneh jika itu yang  terjadi, karena selalu saja tanpa diperintah tukang sapu itu selalu mencuri perhatianku. Seolah tahu bahwa aku pernah memiliki seorang ibu yang mirip dengan dia.
Kuangkat telepon dan terdengar seorang yang berusaha meyakinkan aku bahwa tukang sapu itu ibuku yang kembali setelah bereinkarnasi. Kutanyakan siapa penelepon itu tapi seseorang di sana tak menjawab dan menutup sambungan telepon. Aku tak memedulikan semua itu, aku kembali sibuk dengan pekerjaanku.
Satu sore ketika hendak meninggalkan kantor, aku dan tukang sapu itu berada dalam satu lift. Turun lalu menuju luar gedung. Aku tunjukkan sikap sebagai pimpinan tapi apa yang terjadi tukang sapu itu sengaja mendendangkan sebuah lagu. Lagu yang tak asing lagi bagiku, lagu yang sering mengantarkan aku ke dunia mimpi. Ya, lagu yang aku hafal bahwa itu adalah lagu yang Ibu buat untukku karena aku sulit tidur ketika kecil.

Baca juga:  Perjumpaan Terakhir - Sinopsis (1) - Tembang Gaduh Penagih Mimpi - Melampaui Nasib Baik - Aku Punya Tangis Sendiri
Setelah melihat gugusan bintang dan sabit malam, aku segera mendorong Ibu ke kamarku untuk menunggui aku tidur. Karena juga tak terlelap, Ibu menyanyikan lagu pengantar tidur untukku. Lagu yang menceritakan hujan, angkasa, bidadari, dan istana langit. Mendengar lagu Ibu, aku semakin tak dapat tidur. Aku meminta Ibu bercerita tentang hujan, angkasa, bidadari, dan istana langit. Aku ingin ke sana ke istana langit, tempat kakek dan nenek yang tak pernah aku jumpai dan selalu mendoakan aku yang ada di bumi. Tapi Ibu berkata bahwa yang akan bersama kakek adalah Ibu terlebih dahulu dan kemudian Ayah. Aku hanya merengut tanpa mengerti apa yang Ibu maksud dengan kata-katanya. Aku pun terlelap setelah lelah mendengar dongeng Ibu.
Lagu yang saat ini digumamkan oleh tukang sapu itu adalah lagu pengantar tidurku. Aku tak mengerti mengapa dia tahu tentang lagu itu. Aku tak jadi bersikap pongah terhadap tukang sapu itu. Tapi aku tak mau ia masuk ke dalam kehidupanku sebagai ibu yang sekian lama aku tunggu kehadirannya.
Memang setelah kepergian Ibu, beberapa tahun kemudian Ayah turut menyusulnya. Aku dititipkan pada salah satu keluarga di Jakarta, sampai akhirnya Jakarta menjadi tempat hidupku sampai kini. Kejadian yang Ibu pesankan lewat lagu pengantar tidur itu baru saja aku sadari setelah keberadaan tukang sapu dalam lift tadi sore.

Baca juga:  Suatu Malam di Rumah Sakit

Kembali aku ke kantor pagi hari. Aku temukan surat tak bernama.

Ira, aku ibumu yang telah kembali
Mengapa tak kau akui aku sebagai ibumu
Ira, Ibu tahu kau selalu rindu akan sebuah kasih sayang
Bersama surat tak bernama itu, aku temukan setangkai bunga sedap malam. Sedap malam yang masih kuncup hijau. Sedap malam yang kemudian aku hirup wanginya dalam-dalam. Belum begitu harum, tapi aku suka sedap malam yang tak mekar dan yang mengetahui ini hanyalah Ibu. Aku cari tukang sapu itu, tapi aku mendengar dia tak masuk kerja hari ini dan tak ada yang melihatnya sejak pagi. Jadi, siapa yang membawa bingkisan masa lalu bersama surat tak bernama itu?
Telepon berdering dan aku mendengar seseorang berkata. Aku kenal suara itu, suara Ibu tengah menyuapi aku waktu pulang bermain.
Ira kau suka ini, Sayang. Bacem tempe asam manis, kau suka, bukan? Ayo makan yang banyak, nanti main lagi. Cepatlah Ira, Ibu sedang menunggu kedatangan Ayah siang ini.
Siapa? Aku tanya dan telepon langsung diputus. Setelah itu aku tak pernah menjumpai tukang sapu itu. Dia pergi seperti lelatu yang hilang terkena oksigen. Aku pastikan dia bukan ibuku, tapi apa yang dikatakan hatiku bukan itu. Apalagi aku mulai merindukan kehadiran tukang sapu itu.
***
Ibu tahu kau akan merindukan kasih sayang, Ira
Kau tak boleh merendahkan aku sebagai tukang sapu
Ira, aku ibumu tapi kau tak mau mengerti
Ibu mau kau menghargai waktu, tukang sapu, dan perubahan
Secarik kertas kembali aku temukan di meja kerja. Bersama kuncup sedap malam yang cantik. Kini aku tahu bahwa tukang sapu itu ibuku, tapi semuanya terlambat.
“Ibu, aku belum siap engkau bereinkarnasi lagi!”
***
Sebuah mobil mewah meninggalkan lapangan parkir yang basah. Di dalamnya seorang perempuan menangis memanggil sebuah nama.
“Ira, Ibu takkan bereinkarnasi lagi!”***
Keterangan
1. lelatu: bunga api
2. tathagata: orang yang telah tercerahkan

Baca juga:  Perahu-perahu Kecil
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Dian Hartati
[2] Pernah dimuat di Tribun Jabar