Rindu Annuqayah – Kidung Asap

Karya , . Dikliping tanggal 12 Juni 2016 dalam kategori Arsip Cerpen

Rindu Annuqayah

Rinduku padamu merah darah
Yang mengalir di sungai urat-uratku
Undakan masjidmu tempat naik-turun ketakwaanku
Di dalam dekat sebuah pilar marmer aku dengan-Nya saling cumbu
Sambil menunggu allahummagfirlah guru
yang istiqamah
dalam mengajari kitab dan shalat jamaah
Rinduku padamu bunga yang mekar disentuh
pagi
Aromanya menguat ke jagat semesta
Menusuk hidung matahari
Menyegarkan segenap udara khatulistiwa
Rinduku padamu kian mengilau
Bergetar dalam peci
Mengingatmu penuh sakau
Kukenakan sarung diufuk sanubari
Dan jejak-jejak di bangku kayu putih
Menjelma warna-warni cahaya
Tersimpan dalam dinding waktu
Maka inilah sajak datang padamu
Untuk minta maaf atas kurang ajarku
Malang, 2016

Kidung Asap

Di sebuah kamar malam
Tubuh asap melambung menyeberangi langit
Sepasang jemari kami mengapit mimpi
Jiwa-jiwa kami berayun memanjat bintang
Yang jauh di ujung sebuah perjalanan panjang
Kami saling peluk dengan diri yang lain
Di antara rimbun lamunan
Hingga terdengar sebuah bisikan
Kidung asap itu mengabur dalam labur yang
menggenangi
Dalam suasana begini, alangkah damai
mengenang mati
Malang, 2016

Angin Pagi

Angin pagi terbelah membentur tubuh
Berhamburan dalam ruang sepi
Di pinggir jalan seonggok dingin jatuh
Dan penuh perhatian mengamati langkah diri
Mungkin di dalam hidup ini
Seperti halnya angin lepas dari rangkulan dingin
Dan tinggal sendirian menahan kehangatan
yang bakal padam
Malang, 2016

Angin Malam 

Angin malam bersenda dengan sunyi
Menambah riuhnya kenangan di dalam ingatan
Sampai saat ini, rinduku padamu terancam
Berkembang setiap pergeseran jarum jam
Dan seakan-akan aku sedang bersantai
Menimang-nimang puisi yang tak kunjung selesai
Dan aku semakin dekat
Setiap kali kecup ciumku mengerat
Selalu demikian aku terkepung dingin kesepian
Malang, 2016

Jumari HS. Penyair Otodidak, lahir di Kudus, 24 November 1965. Karya puisi dan cerpen banyak bertebaran di berbagai media massa.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jumari HS.
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” Minggu 12 Juni 2016