Rindu Najwa

Karya . Dikliping tanggal 11 Maret 2019 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Rindu Najwa

 
Tak pernah aku lihat namamu
Dalam buku-buku rindu
Meski lembaran-lembaran hujan
Selalu membasahi ingatan
 
Adapun mawar-mawar
Yang mekar dalam tulisan
Ia begitu pandai menyimpan alasan
Tentang bagaimana aku harus bersabar.
 
Lubtara, 2018
 

Di Perantauan

 
Keserasian cinta di ladang bayang-bayang
Merupakan nota-nota kebencian, ketika
Di antara senyum dan tawa mulai kausembunyikan.
Di sana, telah saya tanam sebuah rindu dari berbagai
Catatan yang bisu, walau hujan masih memburu
Dan kemarau pun baru saja berlalu, merabat per-
jalanan
Yang ragu, aku merasa asing dalam tatapanmu,
Sebab
Mata dan keindahan bukan lagi milik pengharapan,
Melainkan sebuah kesaksian yang bersimbang
dalam bayangan.
Sepertinya waktu telah berjalan kekal, tepat pada
pengujung
Musim kemarau, aku tanam mawar-mawar merah
Barangkali di antara kelopaknya akan jadi sejarah,
menukar
Kebencian menjadi luka yang sederhana, seperti tat-
apan rindu
Yang kausembunyikan di balik suasana.
 
Lubtara, 2018
 

Riak Rindu

 
Aku merindukan gerimis yang kaukirimkan
Menjelang kematianku yang pertama, alangkah
Harum aroma mawar di atas kuburanku, memikat
Rindu ketika dulu kita masih bermain cinta
Di bawah pohon bambu, di sana angin-angin meni-
upnya
Sedang aroma rambutmu telah aku lupa, pohon
Melati yang kautanam di dasar hati, rupanya selalu
berkembang
Dalam bayangan, seperti jatuhnya hujan di tanah
Titipan, yang tak pernah menemukan kesejatian.
 
Lubtara, 2018
 

Riak Luka

 
Pada kecerahan wajahmu
Sebuah rindu berwarna biru
Melukis cinta begitu syahdu
Dalam rona indah doaku
Aku telentang
Mengingat hujan di perantauan
Sementara di balik dedaunan
Seekor capung berdiam kedinginan
Warna renung bertutur kelam
Menceritakan perjuangan perempuan
Yang gagal dibunuh kenangan,
Apa yang terurai pada sinar purnama
Kecuali bayangan menjadi kepedihannya.
 
Lubtara, 2018
 

Melukis Rindu

 
Sudah aku lukis wajahmu
Dengan sunyi dalam mimpiku
Warna apaÖ? yang pantas untuk menjadi kesejatian
Kalau bukan kuning, biru dan merah
Yang menjadikan lekuk wajahmu kekal dalam
sejarah
 
Sungguh aku terhibas dalam keterasingan
Ingatan-ingatan aku pahat dengan pelan
Seperti memeluk bayangan, yang
Membingungkan jalan arah menju pulang.
 
Lubtara, 2018
 
BJ Akid, santri Pesantren Annuqayah Madura, pegiat Literasi SMK Annuqayah Sumenep, aktif di Komunitas Laskar Pena PPA Lubangsa Utara. (28)

[1] Disalin dari karya BJ Akid
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 10 Maret 2019.