Riwayat Cermin

Karya . Dikliping tanggal 2 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

MALAM ini Benu sulit memejamkan matanya. Pikirannya kembali teringat permintaan Surti yang sekarang tengah tidur pulas di sebelahnya. Perempuan yang dinikahi lima bulan lalu itu, empat hari lalu punya permintaan agar dibelikan sebuah cermin yang ukurannya cukup besar.

Bagi Benu, permintaan Surti seperti itu dianggap wajar, sederhana, dan tidak neko-neko. Selain di rumahnya belum ada cermin untuk berkaca atau dandan setiap harinya, jika membeli barang itu tentunya tidak harus mengeluarkan uang banyak. Permintaan istrinya itu pasti bisa dipenuhi.

Karena itu, untuk memenuhi permintaan istrinya itu pagi-pagi Benu sudah berangkat ke kota untuk membeli sebuah cermin. Di sepanjang perjalanan pulang sambil membawa cermin yang diboncengkan dengan sepeda motor tua, hati Benu tiba-tiba merasakan kebahagiaan luar biasa karena bisa memenuhi keinginan istrinya yang baru sekali ini dilontarkan setelah dinikahi.

Cermin dengan ukuran cukup besar itu kemudian dipasang di dalam kamar. Setiap hari cermin itu dipakai untuk berkaca dan dandan Benu sewaktu akan berangkat kerja atau acara lainnya. Begitu pula dengan Surti, merasa amat senang karena sekarang bisa dandan di depan cermin sebagaimana yang diinginkan.

***

Beberapa pekan kemudian, setelah di rumah itu terpampang sebuah cermin, perubahan pun terjadi. Surti, yang sebelumnya jarang dandan, kini berubah total. Hampir setiap hari dia sering berlama-mana di depan cermin. Melihat perubahan pada diri istrinya itu, Benu pun bertanya-tanya sendiri.

“Sur, boleh aku tanya?” ucap Benu suatu malam ketika akan tidur.

“Mau tanya apa, Mas?”

“Tapi, janji tidak boleh marah ya.”

Surti hanya menganggukkan kepalanya.

“Aku melihat perubahan yang terjadi pada dirimu. Sebelum rumah ini ada cermin kamu jarang dandan, tetapi sekarang tidak demikian. Kamu sering berlama-lama berada di depan cermin.”

Surti tersenyum tipis. Benu ditatap lekat-lekat. “Mengapa masalah seperti itu kamu tanyakan, Mas? Jika setiap hari aku sering di depan cermin dan dandan mestinya Mas merasa senang. Bisa memandang istrinya yang kelihatan bersih, segar, dan tambah cantik. Mestinya begitu.”

Benu hanya diam.

“Mas, sekarang aku yang ganti bertanya. Apa Mas merasa cemburu jika sekarang aku sering berada di depan cermin? Tidak mungkin aku melakukan hal yang tidak semestinya. Percayalah, Mas, cintaku hanya untuk kamu. Sumpah!”

Benu sekarang menarik napas panjang.

“Bukan itu maksudku,” ucapnya kemudian terdengar agak berat.

“Kalau bukan itu, apa yang menyebabkan Mas bertanya seperti itu?”

“Aku hanya merasa heran dengan perubahan yang ada pada dirimu.”

“Mas, setiap kali aku berada di depan cermin dan dandan sebenarnya ini hanya untuk Mas. Maksudku, agar Mas semakin sayang dan cinta padaku. Seperti waktu pacaran dulu,” ucap Surti lalu memeluk Benu erat-erat.

Pembicaraan antara keduanya berhenti sampai di situ. Benu dan Surti lalu tidur. Merangkai mimpi-mimpinya.

***

Perubahan di rumah itu ternyata tidak sebatas itu saja. Ada perubahan lain yang terjadi pada diri Surti yang mau tidak mau membuat Benu semakin tidak mengerti dan bingung.

Suatu hari Surti bercerita kepada Benu jika setiap kali berada di depan cermin, menurut penglihatannya, wajahnya terlihat semakin cantik. Cantik sekali. Seperti bidadari dari kahyangan.

Tidak hanya itu. Setiap kali melihat cermin itu, saat itu pula muncul bayangan seperti kalung, gelang, cincin, dan barang-barang berharga lainnya. Mendengar penuturan Surti seperti itu tentu saja menjadikan Benu seketika kaget bukan kepalang. Tidak masuk akal, pikirnya.

“Benar, Mas, setiap kali aku berdiri di depan cermin itu tiba-tiba bayangan barang-barang itu selalu muncul. Tampak jelas di depan mata. Jika Mas tidak percaya bisa dibuktikan sendiri,” ucap Surti meyakinkan.

“Itu jelas tidak masuk akal,” Benu bersikukuh dan tetap tidak percaya dengan omongan istrinya.

Karena rasa penasarannya yang meletup-letup Benu pun akhirnya ingin membuktikan omongan istrinya. Pelan-pelan kakinya diangkat mendekati cermin yang ada di kamarnya. Setelah berdiri tepat di depan cermin, dengan tatapan mata yang tajam, cermin itu pun diamati dengan saksama. Tetapi setelah diperhatikan beberapa saat lamanya bayangan yang terlihat hanya bayangannya sendiri. Bayangan seorang buruh pabrik dengan upah yang tidak begitu besar dalam setiap pekannya.

“Mana bayangan barang-barang seperti kalung, gelang, dan lainnya yang kau katakan itu? Aku tidak melihatnya.”

“Masak sih, Mas. Setiap kali aku berdiri di depan cermin itu bayangan barang-barang itu pasti muncul.”

“Kenyataannya aku yang sekarang berada di depan cermin tidak melihat barang-barang yang kau sebutkan itu.”

Karena Benu tetap tidak percaya dengan bayangan barang-barang itu, Surti akhirnya mendekati Benu yang masih berada di depan cermin. Setelah keduanya berdiri berjajar di depan cermin, Surti pun lalu tersenyum dan mengatakan kalau barang-barang yang disebutkan itu terpampang jelas di depan matanya. Sementara Benu yang juga melihat cermin tetap tidak bisa melihat barang-barang itu. Bayangan yang terlihat hanya Surti dan dirinya.

Kejadian di depan cermin itu mau tidak mau menjadikan perdebatan yang tiada habisnya. Bahkan hari-hari berikutnya perdebatan antara Benu dan istrinya semakin menjadi-jadi. Untuk mencari jalan keluar akhirnya Benu memutuskan akan mengajak Surti periksa mata ke dokter spesialis mata. Dengan hasil pemeriksaan itu nantinya akan diketahui mata siapa yang sebenarnya tidak normal.

***

Riwayat Cermin“Menurut hasil pemeriksaan, mata Pak Benu dan istri normal. Sehat,” kata dokter spesialis mata, setelah melakukan pemeriksaan.

Mendengar perkataan dokter itu hati Benu pun menjadi lega. Tetapi tidak demikian dengan Surti. Ia tetap bersikukuh dengan penglihatannya yang telah dialami.

“Sungguh, Dok, setiap kali saya berdiri di depan cermin di kamar saya, bayangan seperti kalung, gelang, dan lainnya itu selalu muncul. Tampak jelas sekali.”

“Tetapi mata Ibu normal.”

“Ini kenyataan yang saya alami, Dok. Saya tidak berbohong.”

“Tetapi dari hasil pemeriksaan secara ilmiah ilmu kedokteran, mata Ibu tidak ada gangguan.”

“Itu kan menurut ilmu kedokteran. Tetapi mata saya yang melihat itu kenyataannya……”

Belum sampai Surti melanjutkan perkataannya Benu cepat-cepat mengajak istrinya pulang. Sementara dokter yang sekarang sendirian di ruang praktiknya itu masih amat penasaran dengan pasien yang baru saja ditangani. Baru kali ini ia mendapatkan pasien dengan kasus mata seperti itu.

Meski matanya dinyatakan normal oleh dokter yang ahli di bidangnya, kenyataannya tidak membuat hati Benu merasa tenang. Sebab dalam kesehariannya istrinya selalu terus mengajak berdebat tentang penglihatannya di depan cermin. Kenyataan itu pun menjadikan Benu semakin bingung sendiri.

Tidak ingin larut dalam perdebatan yang mengakibatkan keluarganya tidak harmonis, suatu hari tiba-tiba Benu mengambil kursi kayu dan kemudian dilemparkan dengan sekuat tenaga ke arah cermin. Cermin itu pun hancur berkeping-keping. Sementara istrinya yang melihat dari kejauhan hanya bisa diam dan tidak bisa berkata-kata lagi.

Irul S Budianto lahir di Boyolali, 22 Juli. Selain cerpen juga menulis puisi dan esai sastra-budaya. Kini tinggal di Boyolali, Jawa Tengah.


[1]Disalin dari karya Irul S Budianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Republika” edisi Minggu 30 September 2018