Rongga

Karya . Dikliping tanggal 29 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
ENTAH kapan peristiwa aneh ini mulai kerap terjadi pada Han. Serasa ada rongga yang muncul di dalam dada atau kadang kepalanya. Sesuatu yang semula ia rasakan kecil, kemudian semakin tumbuh dan tumbuh membesar. Saat rongga itu mulai penuh menguasai Han, tanpa ia sadari, lamun akan membawanya ke berbagai realita yang sering mengganggu ketenangan. Orang-orang sekitar yang tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, akan mendapati lelaki ini hanya tampak sering merokok dan melamun saja.
Adalah perasaan yang merajalela tiap kali rongga itu berhasil mengurungnya. Ia bahkan kerap merasa asing dengan diri sendiri, denganrutinitas yang kerap ia lakoni. Misalnya seperti malam itu, ketika ia sedang makan bersama sang istri.
Sesuatu itu tiba-tiba saja muncul dan terus tumbuh di dalam dadanya. Seperti sepi. Seperti terasing. Seperti tengah tersesat  ke dalam sebuah dunia lain. Meskipun ia ditemani sang istri, yang tengah berusaha riang mengajaknya bercakap dari mulai pekerjaan, isu-isu seputar tetangga, sampai ke urusan kamar. Suara istrinya hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Sesekali saja ia menanggapi, ketika sepi dalam rongga itu terkuak sedikit, sehingga suara istrinya berhasil menyeruak ke dalam liang telinganya. Hal itu membuatnya harus berjuang keras melawan keinginannya untuk kembali merokok, karena ia sudah janji dengan istri.
Sadar jika gejala itu berbahaya dan akan memengaruhi kehidupannya, Han pun berupaya mencegah kemunculannya. Pernah dengan cara nonton bioskop, sekadar jalan-jalan di taman pusat keramaian kota, atau hanya memutar DVD film romantis, seperti malam itu. Tujuannnya agar rongga itu segera pecah sebelum ia masuk kamar bersama sang istri. Jika ia gagal keluar dari rongga itu, seriuh apa pun sang istri memancing gairahnya di atas ranjang, akan sia-sialah hasilnya. Ia tak mau dianggap impoten. Ia justru amat merindukan suara gaduhnya anak-anak di dalam rumahnya. Sudah hampir lima tahun pernikahannya belum menghasilkan keturunan.
***
TAK ada seorang pun yang membisiskinya. Pemikiran itu muncul atas inisiatifnya sendiri bahwa kemungkinan rongga itu bisa tumbuh menguasai lantaran hidupnya yang teramat membosankan dan kurang berwarna. Sepertinya ia butuh tikungan-tikungan tajam sekadar untuk memacu adrenalin  agar hidupnya tak begitu-begitu saja.
Mula-mula, ia memilih sebuah kompleks pelacuran di luar kota. Dengan alasan lembur dan berbagai dalih rapi lainnya, ia berhasil membohongi istri. Dua hari dalam sepekan ia mengunjungi seorang perempuan muda di kompleks itu. Ia pikir, dengan kenakalan yang seperti itu, hidupnya akan sedikit lebih berwarna dan menggairahkan. Setidaknya otaknya akan terpicu untuk mengarang-ngarang kebohongan ketika istrinya bertanya ia pergi ke mana untuk urusan apa.
Dan hal itu terjadilah. Semangat itu tumbuh seiring keinginannya sendiri untuk memuaskan hasrat kelelakiannya. Sang istri tak pernah tahu, dan jangan sampai tahu. Ia menutupi permainan kecil ini dengan cara melebihkan perhatiannya ke istri, dengan tampak berhasil melawan kebiasaannya merokok. Seolah semangat kesehariannya itu muncul sebab bermuara dari kelengketannya dengan sang istri. Padahal tidak. Rasa was-was dan keiunginan menyimpan rapi sebuah permainan besar membuatnya seolah selalu terjaga, dan terutama bisa membebaskannya dari dalam rongga aneh yang kemarin-kemarin kerap memerangkapnya.
Ia mulai meyakini bahwa rongga itu muncul akibat  alur hidupnya yang mulus-mulus saja, datar-datar saja. Maka ketika ia sudah mulai bosa dengan perempuan muda di kompleks pelacuran itu ia pun ganti melampiaskan kekosongannya kepada salah seorang teman perempuan sekantor. Tentu saja ia lakukan secara diam-diam, seperti petak umpet.
Han merasa hanya hal-hal yang sanggup meletup-letup gairah itulah yang sanggup meletuskan rongga-rongga kekosongan dalam dadanya. Meski kerap juga terpikir, apakah mungkin ia bertahan dalam keadaan yang seperti itu selamanya.
Untunglah, pada suatu malam menjelang tidur, tepat di sisi istri tercintanya, saat Han mulai merasa bahwa ia tak mungkin hidup dengan cara mencuri-curi seperti ituselamanya, rongga itu pecahlah lagi. Ternyata oh ternyata, permainan nakalnya dengan seorang perempuan muda di kompleks pelacuran dan teman sekantor itu adalah sebuah realitas lain dalam sebuah rongga lain yang memerangkapnya. Ternyata oh ternyata, setiap jelang tidur, setiap ia bermain-main di atas ranjang dengan sang istri, rongga itulah yang memerangkapnya. Entah sudah berapa lama hal buruk itu menguasai malam-malamnya. Saat rongga itu pecah tadi, air matanya tiba-tiba meleleh. Kalimat istrinyalah yang seperti jarum itu,  yang memecahkan rongga itu, yang menelusup lembut dalam telinganya namun terasa tajam ketika telah sampai di dalam dadanya.
“Kita mengadopsi anak saja ya, Mas?” Sambil menyeruak manja dalam dekapan Han.
“Tapi kita kan tidak mandul, Dik.” Han mengingatkan. Bahwa mereka telah berusaha keras untuk hal itu. Dalam sebuah evaluasi seorang dokter pernah mengungkapkan bahwa mulut rahim sang istri miring akibat sebuah kecelakaan di masa silam. Perkara itulah yang membuatnya sulit hamil.
“Tapi aku sudah tidak betah menunggu, Mas. Kita ambil salah seorang keponakan kita saja ya? Kata orang-orang, itu bagus juga sebagai pemancing.” Istrinya sudah kehilangan kantuk.
Meski ia tak begitu menyukai ide itu, tiga hari kemudian toh sepi dalam rumah mereka akhirnya terusir oleh tangisan bocah. Baru sembilan bulanan umurnya. Mati-matian istrinya membujuk salah seorang adik perempuannya yang sudah direpotkan dengan tiga bocah dalam lima tahun perkawinan.
Maka setelah hari itu, resmilah Han menjalani hari-hari sebagai seorang ayah. Ia mulai direpotkan dengan perkara-perkara yang berhubungan dengan statusnya sebagai ayah baru. Dari mulai mengganti dan mencuci popok si kecil, membuatkan susu botol, sampai menidurkan kembali si kecil yang terbangun di tengah malam.
Hidupnya jadi sedikit memiliki tujuan. Dari kemarin yang tak memiliki ambisi lebih apa pun, kini berubah, mulai merancang angan dan janji akan mewujudkannya kelak, demi si kecil. Rongga yang kerap memerangkapnya dalam kekosongan dengan ajaibnya mampu dipecahkan oleh suara tangis bocah yang kerap mengusik lamunan.
Di kantor, di jalan, di supermarket, di apotek, atau ke mana pun Han beranjak, kepalanya tak lagi kosong melompong. Rongga yang seperti gelembung-gelembung itu tak begitu mengganggu kehidupannya lagi.
“Kita akan menjadikannya seorang dokter,” desisnya tanpa sadar, ketika duduk bersama istri dan bayinya di teras rumah. Menghadang cahaya pagi.
“Keapoa dokter? Biaya sekolahnya kan mahal, Mas?” Sahut si istri.
“Agar kita tak capek ke sana ke mari lagi jika ingin memeriksakan kesehatan. Agar setimpal dengan jasa kita membesarkannya.”
“Dokter kan banyak spesialisasinya, Mas. Kalau aku malah lebih ingin agar ia kelak menjadi hakim atau jaksa. Melihat kasus korupsi yang sudah membuat kronis keadaan bangsa ini, rasanya pasti menantang sekali jika kita berniat membesarkan seorang singa hukum.”
Alangkah banyaknya rencana yang ingin mereka persiapkan. Alangkah banyaknya endapan angan yang ingin mereka wujudkan. Kesibukan semacam itulah yang mampu memperkecil frekuensi kemunculan rongga dalam dada dan kepala Han. Meski pada beberapa kesempatan, ketika rasa jenuh telah begitu menumpuk, rongga itu kembali memerangkapnya dalam kebekuan.
***
SEPERTINYA, kemunculan rongga itu adalah sebuah gejala yang tak bisa diobati. Ternyata episode si kecil yang kemarin mereka adopsi itu pun bukanlah realita, melainkan hanya kejadian dalam sebuah rongga yang memerangkapnya lagi. Yang sebenarnya terjadi, istrinya bahkan tak menyukai usul adopsi tersebut. Ia takut dan tak mau kecewa dengan kemungkinan bahwa anak yang telah susah payah mereka besarkan akhirnya tetap pulang kembali ke ibu bapaknya.
Sampai detik ini Han masih terobsesi dengan bagaimana caranya bisa terbebas dari rongga itu. Kadang, ia menanyakannya (dalam percakapan yang samar) kepada siapapun yang kebetulan berbincang dengannya. Apakah hidupnya pernah dikuasai oleh suatu keadaan kosong, tiada gairah, beku, bosan, dan segala yang sejenis dengan itu? Bagaimana cara mereka membebaskan diri dari masalah itu?
Banyak ragam jawaban yang Han dapat. Dari mulai dibawa ke psikolog saja, dibawa rekreasi saja, dimanjakan dengan hobi, perbaiki kualitas hubungan dengan sang istri, sampai saran-saran aneh berbau klenik seperti misalnya dibawa menyepi. Beberapa saran itu sudah pernah dicoba Han. Namun rongga itu seperti punya mata, selalu tahu kapan han bisa disekapnya dalam kekosongan, kehampaan, dan kejenuhan akut.
Sampai suatu ketika ia bercakap dengan seorang lelaki yang mengaku pernah hampir dipeluk kematian akibat penyakit yang menderanya. Pertemuan singkat di depan sebuah apotek, ketika ia hendak membelikan susu tulang untuk istrinya. Lelaki yang menurutnya misterius. Sosoknya menghilang begitu saja ketika Han menoleh ke lain arah. Han bahkan belum sempat menanyakan nama. Hanya ada sebuah angkutan kota yang kemudian menjauh pergi, yang bisa dicurogai telah menelan tubuh lelaki itu dengan kecepatan yang mustahil. Han takkan pernah lupa dengan apa yang pernah dikatakan lelaki itu.
“Aku pernah hampir dilumpuhkan kematian. Namun ketika sadar bahwa kematian itu sebenarnya sudah membuntutiku sejak lahir, kaupun akhirnya masih bisa melihatku seperti sekarang ini,” ujarnya sengan raut berseri.
“Bagaimana bisa seperti itu?”
“Mungkin karena aku digerakkan oleh ketakutanku dengan kematian.”
Percakapan singkat itu mengingatkan Han dengan vonis dokter yang pernah diterimanya sejak ia masih seorang perokok berat. Jantung koroner. Dan kata dokter, nyeri yang sangat membunuh itu bisa datang ke dadanya kapan pun saja. Seolah dirinya selalu dibuntuti Malaikat Maut.
Han pikir, peringatan dokter itu hanyalah taktik agar ia berhenti merokok. Kebiasaan yang tak pernah bisa ia hentikan selulus kuliah dan kemudian bekerja di sebuah divisi perusahaan periklanan. Tapi dokter itu ternyata bersungguh-sungguh dengan omongannya. Sebelum pertemuan dengan lelaki misterius itu, Han telah mendatangi dokter itu kembali. Amarah istrinya meledak ketika mendengar cerita Han, bahwa paru-parunya sudah paarh terbakar nikotin, dan sudah sulit disembuhkan.
Saat sadar bahwa kini malaikat maut selalu membuntuti tubuh kurusnya, Han justru tak ingin mati. Keingiannnya untuk terus hidup menggebu-gebu. Setiap kali rongga itu datang menyekap, anehnya ia tak pernah merasa kesepian. Seperti selalu ada yang menemani. (k)

❑ Kalinyamatan, Jepara 2014

Adi Zamzam (Nur Hadi): tinggal di Gg Masjid Baitush Shamad Kalinyamatan Jepara

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zamzam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 27 September 2015