Rumah Dekat Stasiun – Kehilangan Uang – Pertemuan Kita adalah Doa

Karya . Dikliping tanggal 8 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Rumah Dekat Stasiun

Sesungguhnya, setiap kota, setiap sisi hidup
dan setiap ruang telah terbatas,
maka tak ada yang istimewa selain rumah,
Rumah ini telah melindungiku
dari hujan dan terpaan angin malam
yang bisa membuat siapa saja sakit
bahkan mencapai kematian.
Aku berutang banyak pada kulkas, TV, 
kompor gas, kamar mandi, dan tempat ibadah.
Aku sering sendiri. Diam-diam menulis puisi malam
sambil menunggu teman yang belum pulang,
kudengar suara kereta yang lelah dan payah.
Kubayangkan aku pernah naik kereta ke Solo,
kepala stasiun melepas lokomotif dengan bunyi pluit.
Kubayangkan pernah duduk di kursi tunggu,
ada denting yang menggigil kedinginan,
tasku yang berat, dan rel yang memanjang
tak bisa mengubah kenangan dan masa depan
dengan gerbong-gerbong yang terus berlalu.
Rumah ini bukan milik kami. Milik orang 
yang tak pernah kulihat foto juga wajahnya.
Kami tinggal berempat, mengenal pemilik rumah,
dari rekening listrik yang tertunggak tiga bulan.
Kami bertetangga dengan sawah dan sungai kecil
yang selalu menyimpan rasa dingin,
juga orang-orang yang lebih dingin dari pagi.
Aku lebih mengenal lapangan
tempat anak-anak bermain sambil meniru adegan film,
sambil merasa menemukan kesejatian diri.
Di situ ada pedagang keliling menunggu uang.
Tak ada yang bertamu ke rumah kontrakan ini
satu-satunya yang datang pada kesunyianku
adalah suara kereta yang terlambat
Pernah ada teman yang datang, matanya menyala
selalu ingin bicara sastra dan negara
lewat bir dan anggur, tapi hanya ada kasur.
Kami tidur bersama dengan mimpi tak tertemui.
Kadang, di malam terang cahaya
Aku pergi ke stasiun dalam mendengar musik di HP,
makan rames di bawah jembatan, atau nasi goreng
dan berusaha memiliki hidup sebagai waktu lain
dari sibuk keseharian mengajar di kampus
Kehidupan butuh sisi lain dari pekerjaanku
seperti lampu yang jadi persembunyian kabut
dan menghilang tanpa jejak
untuk memahami pengertian tentang ada dan tak ada
Ingatlah, di rumah ini, kami hanya sementara,
kenangan selalu mencatat apapun, walau sementara
selalu muncul sebagai jejak yang pernah ada
Suatu waktu aku datang lagi ke stasiun
sambil mendengar serita leluhur
tentang kota ini semasa ruko dan mal belum dibangun.
Desember 2014

Kehilangan Uang

Tak pernah ada uang yang kumiliki
setelah kupercayakan masa depanku padamu,
pada mesin yang berbaris sepanjang jalan
dan perasaanku tersimpan dalam dingin.
Aku hanya berdoa pada pekerkjaanku
agar tak pernah terlambat menghitung keringat
yang bercucuran setiap detik
Setiap waktu, aku bisa membeli keinginanku
dan merasa hidup ini telah abadi.
Betapa dunia ini mudah berlalu, tapi selalu ada
dengan jalan-jalan yang makin terbuka
untuk merasakan bahagia dalam hujan
Aku melihat rahasia yang terbuka
pada setiap layar yang kutatap.
Pada seorang penjaga, kubilang uangku hilang.
Ia menuliskan semacam surat
yang lebih miirp peta
agar aku mengunjungi ingatanku
di dalam sebuah kuburan.
Dengan nama Tuhan, aku menangis
melihat tubuhku yang terbeli
dan siap dikirim ke alamat tak jelas.
Kudengar lagu hujan mengiring
pada setiap inginku
pada orang-orang
dengan hidup yang berjalan lambat
Aku telah membeli diriku sendiri
dengan keterbatasan agar bebas
dari apapun yang telah menipuku.

Pertemuan Kita adalah Doa

Wahai, kau yang kutemui dalam doa subuhku
Kaulah yang menjadi pengantinku
seperti telah ditampakkannya seberkas cahaya
untuk membangun rumah dan masa depan kita
Aku sering melihatmu pulang dalam gerimis,
juga berangkat pagi di hari kamis.
Dan waktu menjawab atas malam kesendirianku
untuk menjumpaimu di suatu pagi
pada semesta raya yang telah ditakdirkan
seperti sesuatu yang telah mekar
dan harus tumbuh bersama.
Dengan menyebut nama Allah,
aku berjanji untuk menempuh waktu bersamamu,
berjalan bersama seperti dalam sebuah kapal
yang akan menuju tempat impian,
di mana kita akan hidup denganselalu bersama.
Biarlah tumbuh, biarlah mekar
segala yang selama ini menjadi kerinduan 
Aku akan menjadi gerimismu
dan kau akan mengamini doaku
sehingga sujud yang hening itu beraroma mawar.
Wahai, kau yang terkasih
yang selalu mengisi hidupku
aku percaya pertemuan kita ada;ah doa.
Arif Hidayat: Dosen IAIN Purwokerto, Universitas Muhamadiyah Purwokerto, dan Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom Purwokerto. Bergiat di Beranda Budaya. Tinggal di Banjarsari RT 04/7 Bobotsari Purbalingga.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arif Hidayat
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 8 Maret 2015
Beri Nilai-Bintang!