Rumah Tembakau Menunggu – Sajak Main Catur 29 April 2016, Sebatang Pohon – Pantai Pelabuhan Tua Ampenan – Penari Topeng CS

Karya . Dikliping tanggal 19 Juni 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Rumah Tembakau Menunggu

rumah tembakau ini menunggumu
tanganmu yang kelam, mengetukkan salam
lima Maulid berselang
kau tak kunjung pulang
melanglang sebagai buruh migran
ke negeri jiran
lima Lebaran topat berlalu
dedare rummah sebelah tamat madrasah
lelah menantimu, berangkat ke akad nikah
namun,    kau pergi ke negeri tanpa hujan
ke mana menghapus berkas
dari hitam pasir kali mati
namun,     kau pergi ke negeri tanpa bulan
memendam dalam-dalam
angan membawakan aku bunga temmbakau
di atas tembikar, membakarnya hingga layu
guna mendapatkan wangi tanahnya
namun,   kau pergi menghapus janji
membawaku sampai ke Tanjung luar
membawaku sampai ke Tanjung ujung langit
2016

Sajak Main Catur

Aku hanya ingin menjadi raja
bertakhta di tempat gelap,
karena tubuhku hitam
aku bersinggasana di istana yang putih
aku cuma melangkah,      selangkah
karena ancaman pembunuhan atau
tawaran kematian
aku tinggal mengorbankan
para penjaga yang setia
bidak-bidak yang bergerak ke masa depan saja
aku hanya ingin menjadi raja
di sbeuah kerajaan seluas 8×8 tahun cahaya,
menjadi orang terakhir
yang membunuh atau dibunuh
2016

29 April 2016, Sebatang Pohon

        untuk Asvin Janottama

siapakah nama sebatang pohon
yang tumbuh
dalam lukisna taman kanak-kanakmu!
pohon yang tumbuh ke langit
dan mata akarnya menikam bumi
di setiap lebar daunnya
tertulis nama tuhan
yang tak sanggup kau eja
ke dalam lukisna kanak-kanakmu itu
aku tanam pohon mudra
aku tanam pohon samsara
pohon yang berdoa sepanjang hidupnya
hingga,        sajak hari tuaku pun
kehabisan kata-kata
untuk membacanya
2016

Pantai Pelabuhan Tua Ampenan

tiada puisi, di tengah sajakku
kata-kata basah kuyup, kehilangan raut
di Ampenan
memasuki bagian malam yang paling gelap
penyair bisu itu
menuliskan syair pada basah pasir;
laut beku, bulan biru, dan di kejauhan
seorang nelayan dengan cahaya di tangan
menyelami palung paling rahasia
baca?      penyair itu berseru
aku jualah nelayan itu!
tetapi, tetap saja, tak aku temukan puisi
dalam sajakku
kata-kata menopause, kehabisan birahi
sanggupkah lagi, aku berbagi daun-daun
mengenakan warna bunga naga, dan
meraih bintang tanah
yang cahayanya meraup wajahku yang menggigil,
tinggal tanganku yang masih meludah
api itu membasahi tubuhku yang menyala-nyala
tempat aku kumpulkan benda-benda mati,
meski,      nama tuhan di mana-mana
hanya nama tuhan,      namun
bukan dalam sajakku
2016

Penari Topeng CS

aku hanya ingin menjadi raja
membisu sepanjang pertunjukan
aku sembunyikan wajahku
di balik topeng kayu
yang tersenyum sepanjang hayat
segala hasratku
aku isyaratkan dengan gerakan tangan
tangan yang lumpuh layu
karena aku
raja dari sebuah kerajaan pentas
yang berperang sepanjang sejarahnya
2016

Sindu Putra, lahir di Denpasar, Bali, 30 Juli 1968. Kini tinggal di Mataram, Lombok. Kummpulan puisinya antara lain Biografi Burung (2013)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sindu Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “KOMPAS” Sabtu 18 Juni 2016