Saat Orang-Orang Terlelap, Matahari dan Rembulan Bertemu Diam-Diam

Karya . Dikliping tanggal 25 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

PERAWAN itu bernama Maria. Nama lengkapnya Gamaria atau Kamaria atau lebih fasihnya: Qomaria. Kata itu berasal dari bahasa Arab dan berarti rembulan. Setelah sebuah cerita yang kelak akan mengubah takdirnya, ia mengenal dirinya sebagai Perawan Rembulan. Tapi Maria, ia benar-benar tak mirip rembulan. Tubuhnya begitu kurus, kusam, dan tak bercahaya. Dari kejauhan ia tampak seperti pohon pisang yang telah diambil buahnya. Layu. Menyisakan kelaras kering yang compang-camping. Maria sedikit membungkuk dan agak tertatih saat berjalan. Betapa tak seorang pun akan percaya bahwa Maria yang demikian itu sejatinya masih sangat belia. Dan seharusnya ia sedang mekar-mekarnya.

Begitulah Perawan Rembulan kita. Perawan 18 tahun yang dianggap gila oleh ibunya sendiri. Yang dianggap terkena penyakit imsomnia kronis oleh ayahnya sendiri. Dan dianggap sebagai gadis paling aneh di jagat raya oleh adiknya sendiri yang baru berumur 12 tahun.

“Orang-orang tak akan memahamiku, seperti tak memahami ke mana rembulan pergi pada waktu-waktu tententu,” bisiknya kepada langit di atas loteng. Bisikan yang hanya bisa ia dengar sendiri.

Maria selalu percaya bahwa di malam hari, saat orang-orang terlelap, saat rembulan menghilang di ketinggian langit, sesungguhnya rembulan tengah menemui matahari secara diam-diam. Di sebuah tempat rahasia. Maria memercayai itu sama seperti memercayai keberadaan Tuhan. Karena itu, Maria jarang sekali tidur di waktu malam. Maria ingin membuktikan, ketika rembulan menghilang di malam hari, sebetulnya ia tidak menghilang. Ia hanya berada di suatu tempat di mana ada matahari di sana.

Nyaris saban malam Maria duduk berlama-lama di loteng rumahnya untuk memandangi rembulan. Maria mengintainya dari malam ke malam. Pada malam-malam saat rembulan tinggal separuh atau berbentuk sabit, jantung Maria mulai berdebar. Ia yakin sesungguhnya rembulan tengah menyeberangi sebuah pintu bulat yang membuat separuh tubuhnya tak tampak karena tertelan daun pintu bulat—yang juga tak tampak. Separuh dari tubuh rembulan tengah berada di suatu tempat di mana ada matahari di sana. Di sebuah tempat rahasia.

Maka ketika rembulan benar-benar lenyap, dengan hati diliputi kekecewaan, Maria berdengung murung bahwa tubuh rembulan sepenuhnya telah masuk ke dalam pintu bulat. Dan di seberang pintu bulat yang tak tampak itu, matahari telah menyambutnya dengan sepasang tangan yang siap memeluk. Seperti tuan rumah menyambut tamu kesayangan, menyambut kekasih yang ditunggu. Hanya, baik rembulan ataupun matahari, keduanya senang menyimpan rahasia hubungan masing-masing. Matahari dan rembulan tak mau jalinan kasih mereka diketahui dunia.

“Aku berjanji, aku akan menjaga rahasia ini. Orang-orang, dan bahkan malam itu sendiri, tak akan tahu bahwa sejatinya kalian kerap bertemu diam-diam,” ujar Maria kepada udara yang diam. Dan rembulan pun terus melaju ke balik pintu bulat. Mengabaikan Maria.

Demikianlah Maria. Ia bukan gadis yang mudah menyerah. Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri. Ia akan membuktikan bahwa matahari dan rembulan memang sepasang kekasih yang tak bisa dipisahkan. Dan ketika keduanya tak tampak di langit, tak diragukan lagi: keduanya tengah memadu kasih di sebuah tempat rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Tempat rahasia itulah yang selama ini dicari-cari Maria. Diintainya dari malam ke malam. Dari bulan ke bulan. Sampai tahun ke tahun. Maria ingin sekali pergi ke tempat itu. Mengintip matahari dan rembulan bertemu. Tapi Maria benar-benar tak tahu caranya.

“Andai saja aku dapat melayang-layang di udara.” Dan hanya tatapan Maria yang sanggup melayang-layang di udara, sampai ke tubuh rembulan yang hilang separuh, atau hilang sepenuhnya.

Selepas malam, jika rembulan tak muncul sama sekali, Maria memandangi kerlip gemintang yang jumlahnya bagai jumlah bulu kucing milik ibunya. Ya, jumlah bintang memang sebanyak itu. Maria pernah mencoba menghitung bulu kucing milik ibunya. Namun ia menyerah meski ia bukan gadis yang mudah menyerah. Menghitung bulu kucing lebih menjemukan ketimbang menatap langit malam.

Maria tak bisa menghitung jumlah bulu kucing sebagaimana tak bisa menghitung jumlah bintang-bintang. Keduanya sama. Sama-sama banyak dan sama-sama tak bisa dihitung. Jadi, siapa pun yang tak percaya bahwa jumlah gemintang dan bulu kucing milik ibunya itu sama, maka ia harus membuktikan bahwa jumlah itu memang tidak sama. *** Dengan cara menghitungnya satu per satu di hadapan Maria. Dengan memandangi bintang gemintang itu, biasanya kekecewaan Maria—karena kepergian rembulan yang diam-diam—akan sedikit terobati.

***

Perihal mengapa Maria begitu keras kepala ingin memergoki matahari dan rembulan memadu kasih, tentu ada mulanya. Sewaktu kecil, Maria pernah mendengar cerita dari seorang perjaka tua yang sekarang sudah almarhum. Mas Sam namanya. Ia tinggal sebatang kara di rumah peninggalan bapaknya. Konon Mas Sam pernah bekerja di kota, lalu pulang karena dipecat bosnya yang bangkrut. Sehari-hari Mas Sam mengurus ladang singkong di lahan mungil di tepi sungai yang juga peninggalan bapaknya. Dengan telaten Mas Sam membuat gaplek dan tepung tiwul. Lalu membawanya ke pasar berkarung-karung. Memanggulnya seorang diri. Menjualnya seorang diri.

Anak-anak suka sekali mengerubuti Mas Sam. Sebab, lelaki itu suka sekali membagi-bagikan permen selain pandai bercerita. Hingga satu hal menyedihkan kemudian terjadi. Suatu ketika, saat usia Maria tepat menginjak 10 tahun kurang 15 hari, orang-orang kampung menggerebek rumah Mas Sam. Mas Sam digebuki sampai wajahnya tak lagi berbentuk wajah Mas Sam. Mbak Jum, tetangga Maria, bilang Mas Sam pantas mendapatkan itu. Ia lelaki cabul yang berbahaya. Ibunya juga bilang, jangan lagi dekat-dekat apalagi main ke rumah Mas Sam. Mas Sam itu cabul.

Ketika itu Maria tak mengerti apa arti kata cabul. Apakah cabul itu sama dengan cabut. Mencabut. Entahlah. Yang pasti, dua hari setelah digebuki orang sekampung, Mas Sam dikabarkan meninggal dan mayatnya ditolak warga kampung. Hingga Mas Sam harus dimakamkan di pemakaman umum kecamatan. Dan menurut ibu Maria, Mas Sam harus membayar sejumlah uang. Sampai sekarang kalau teringat soal itu, Maria masih suka bertanya-tanya: bagaimana mungkin Mas Sam yang sudah mati itu bisa membayar tanah kuburannya sendiri?

Diam-diam Maria kecewa pada orang-orang kampung yang begitu jahat terhadap Mas Sam. Termasuk keluarganya sendiri. Menurut Maria, Mas Sam bukanlah lelaki jahat yang pantas digebuki banyak orang. Mas Sam adalah lelaki yang baik dan wajahnya sedikit manis. Kalau tersenyum, ada satu gigi taring yang mencuat dari gusi atas sebelah kanan. Yang membuat senyum Mas Sam semakin manis. Suatu ketika Mas Sam memang pernah menciumi leher Maria dan Maria merasa senang karena geli. Mas Sam memang suka bercanda seperti itu. Selebihnya, Mas Sam hanya membagi-bagikan permen sambil bercerita. Bercerita sambil membagi-bagikan permen.

Dari puluhan cerita yang pernah diterakan Mas Sam, Maria paling suka cerita tentang Pangeran Matahari dan Putri Rembulan. Maria masih ingat betul detail cerita itu. Kata Mas Sam, ketika ia menciumi leher Maria, cerita itu adalah cerita tentang mereka berdua. Mas Sam sebagai Pangeran Matahari dan Maria adalah Putri Rembulannya.

Sebagaimana cerita yang diyakini Mas Sam, Maria pun meyakini cerita itu. Bahwa sebenarnya malam adalah siang yang tertutup oleh jubah hitam seorang perempuan tua yang pemarah. Perempuan tua yang tak menyukai cahaya. Perempuan tua itu jatuh cinta pada Pangeran Matahari sudah sejak lama. Namun cintanya tak pernah terbalas karena ia perempuan yang sudah tua dan tak memiliki cahaya. Pangeran Matahari tak menyukai perempuan yang tak memiliki cahaya, apalagi sudah tua. Selain itu, sudah sejak lama Pangeran Matahari melabuhkan cintanya pada seorang putri jelita yang memiliki cahaya anggun nan sempurna, bernama Putri Rembulan.

Pangeran Matahari dan Putri Rembulan adalah dua sejoli yang sangat serasi, sama-sama agung dan sama-sama memendarkan cahaya. Melihat keserasian mereka, perempuan tua berjubah hitam itu dengki dan murka. Ia tak mau Pangeran Matahari dan Putri Rembulan bersatu. Keduanya tidak boleh hidup bahagia. Keduanya harus dipisahkan satu sama lain. Keduanya harus menanggung rasa sedih dan merana sebagaimana perempuan tua menanggungnya. Maka, dengan kekuatan gelapnya, perempuan tua itu membentangkan jubah raksasanya ke penjuru langit untuk memisahkan Pangeran Matahari dan Putri Rembulan. Pangeran Matahari terlempar ke langit terang di luar jubah. Dan Putri Rembulan terdampar ke langit gelap yang dikurungi jubah hitam. Sejak itu Pangeran Matahari dan Putri Rembulan tak bisa lagi bertemu. Mereka terpisah untuk selamanya. Gelap dan terang yang tak mungkin dipersatukan. Seperti juga perempuan berjubah hitam itu—yang tak bisa lagi beranjak dari takdirnya: menjadi malam. Pemisah antara terang dan gelap. Antara matahari dan rembulan.

Namun cerita cinta itu belum selesai. Mas Sam berjanji akan menyambung cerita itu pada hari Minggu. Sayangnya, Sabtu petang segerombolan orang mendatangi rumah Mas Sam dan menjadikannya bulan-bulanan hingga Senin sore Mas Sam dikabarkan sudah meninggal. Kelanjutan cerita tentang Pangeran Matahari dan Putri Rembulan itu pun terkatung-katung di benak anak-anak. Terutama di benak Maria yang merasa cerita itu tentang dirinya. Kepala kecilnya selalu membayangkan Pangeran Matahari dan Putri Rembulan pada akhirnya akan bertemu kembali. Bayangan itu kemudian mekar menjadi cerita yang ia sambung seorang diri dari hari ke hari. Dari tahun ke tahun.

Mula-mula Maria mengamati matahari yang kerap kali membuat matanya sakit dan kepalanya berkunang-kunang. Setiap hari matahari muncul dari ufuk timur, menyeberangi langit sampai ke barat. Ia yakin sepanjang siang itu matahari berjalan dari timur ke barat hanya untuk menyisiri langit, mencari di mana Putri Rembulan berada.
Hingga petang menjelang, matahari menghilang. Maria memikirkan itu: ke mana perginya matahari? Ia pun menemukan sebuah jawaban yang ia karang sendiri bahwa matahari sedang menyeberangi langit lain. Pada petang hari itu, untuk pertama kalinya Maria mengamati rembulan berbentuk pisang. Orang bilang bulan sabit. Bukankah rembulan itu seharusnya bulat, pikir Maria. Lalu ke mana separuh tubuh rembulan yang lain? Dari hari ke hari, kepala Maria dipenuhi pertanyaan itu. Seiring tubuh rembulan yang semakin tipis. Seperti alis segaris. Sejak malam itu, Maria mulai suka naik ke atas loteng pada malam hari.

Akhirnya, pada malam ketika rembulan menghilang dan tak tampak segaris pun, Maria meyakini bahwa rembulan pun tengah melewati sebuah pintu dan menyeberangi langit lain. Dan di langit lain itulah mereka akhirnya bertemu. Langit lain yang sampai saat ini kerap diintai Maria. Langit lain yang sampai puluhan tahun kemudian masih diintai Maria. Maria yang telah menjadi renta. Maria yang semakin jauh kemiripannya dari sosok rembulan. Maria yang segenap dirinya telah menyerupai malam. Malam yang tua. (*)

Malang, 2016

MASHDAR ZAINAL

lahir di Madiun pada 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang.


[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 24 Maret 2019