Sabda Tuhan di Kepala Orang Gila

Karya . Dikliping tanggal 19 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

Aku ingin makan, tetapi tidak punya uang. Jadi, kuminta uang kepada semua orang di pasar. Setiap kutemui punggung seseorang, aku berdoa supaya hati orang itu diketuk sedemikian rupa oleh-Nya sehingga membantuku yang sedang kelaparan. Lalu kutepuk punggung itu dan dengan wajah memelas kukatakan kalimat ini dengan begitu syahdu, “Minta uang dong.”

Aku tahu, mungkin jika tidak makan hari ini aku masih hidup. Baru sampai besok lusa, jika aku benar-benar tidak makan apa pun, aku akan mati di pasar ini atau di mana pun yang tidak jauh dari pasar ini.

Sulit membayangkan akan mati seperti apa dan di mana jika Anda hidup sebatang kara di suatu pasar, dan bermata juling, dan berotak separuh sapi, dan berbadan sebesar badak. Itulah aku, dengan segala ciriku. Hidup sendiri di pasar, pindah dari satu kota ke kota lain, hanya untuk makan.

Seharusnya orang kasihan kepadaku dengan mata julingku yang sulit membuatku bekerja di mana pun. Aku gampang lelah dan tidak beres menggarap hampir semua hal. Misalnya, aku tidak bisa menghitung dengan pas dan mungkin juga tidak dapat bekerja di tempat fotokopian dengan tugas memencet-mencet tombol mesin fotokopi.

Aku sering membatin bahwa mungkin Tuhan menciptakanku untuk ini; terkadang beberapa hal sulit diterima, tetapi kuyakin memang begitulah adanya, yaitu aku dicipta sebagai sarana manusia lain menuju surga. Aku didesain Tuhan menjadi pengemis yang dapat membangkitkan gairah kemanusiaan orang-orang. Aku dirancang sedemikian rupa oleh-Nya agar orang-orang tidak lupa sedekah. Jika sudah begitu, surga bakalan mereka dapat.

Memang seharusnya orang berpikir begitu, mengingat betapa melas wajahku saat berkata, “Minta uang dong.”

Biasanya kulengkapi kernyitan di dahi, lalu pada pipiku harus ada beberapa bercak kotoran. Aku tidak mandi atau cuci muka sebelum mengerjakan ini, demi orisinalitas dan bukan semacam tipuan. Aku tidak perlu membuat luka-luka palsu untuk menarik simpati; cukup wajah gembilku saja yang natural, yang kubuat semelas dan semalang mungkin, seakan tidak makan kira-kira dua tahun berturut-turut. Kukira, itu jauh lebih ampuh.

Buktinya, badanku tetap sebesar badak dan makanku tiada henti. Kadang-kadang sehari kuhabiskan empat mangkuk mi ayam plus dua bungkus roti bolu dan beberapa kemasan teh botol. Itu artinya akan selalu ada orang memberiku uang. Tuhan selalu saja mengerti dan mengabulkan doaku setiap kali kuamati punggung seseorang dan kuniati untuk meminta uang darinya.

“Memang betul Tuhan merestuiku karena Dia menciptaku sebagai sarana orang banyak dalam menuju surga,” kataku pada Bendi Afkir, seorang pengamen yang dahulu kala bermimpi jadi jenderal dangdut, tetapi gagal. Waktu itu kami makan di salah satu warung.

“Manusia koplak sepertimu benar-benar memalukan,” jawabnya.

Aku dan Bendi Afkir memang biasa makan berdua, dan dia biasa menyebut diriku sebagai manusia paling memalukan, manusia kalah, manusia berotak sapi, dan lain-lain. Aku diam saja dan tidak protes, karena apa pun yang kukatakan sudah pasti akan dapat dia bantah.

Meski begitu, Bendi Afkir sering meminta uang padaku, ketika ia tidak dapat uang cukup dari ngamen. Kadang dia menyesal dulu bermimpi menjadi jenderal dangdut, dan bukannya menjadi pengusaha, yang tentu tidak kalah pamor dengan raja dan pangeran dangdut sebagaimana kondisinya saat ini. Bendi Afkir sering menangis apabila teringat keluarga di rumah.

“Ibu pasti menangis melihatku begini di sini, hari ini, duduk di suatu warung nasi bersama orang menyedihkan. Lihat tubuh gendutmu ini, mata julingmu, segala padamu. Tidak ada apa pun yang membuatmu sadar untuk bekerja jujur ketimbang minta uang. Setiap kali kudengar kamu bilang, ‘Minta uang dong’, rasanya dunia seperti roboh dan di kepalaku semuanya serba abu-abu. Barangkali Ibu menyesal melahirkanku dua puluh tujuh tahun yang lalu,” katanya.

Aku tidak pernah ambil pusing omongan Bendi Afkir. Biasanya kami berpisah usai dia dengan puas menuduhku sinting dan tidak bertanggung jawab, juga pemalas, lalu kami ketemu lagi beberapa jam setelahnya dan makan berdua seperti ini untuk bicara hal-hal yang tidak jauh berbeda.

Aku tidak pernah bosan makan dengan Bendi Afkir, sekalipun dia tidak pernah ada niat membayar utang-utangnya. Dia selalu bilang, uangnya tidak cukup. Padahal Bendi Afkir mengamen di mana-mana sambil membawa suatu alat yang dibuat dari beberapa tutup botol yang dihimpun bersama sebatang kayu. Bendi Afkir laki-laki, tetapi dia tidak malu memakai rok dan berbedak seperti badut. Aku tahu dia terlihat sangat cantik dan tidak tampan, tetapi pernah kami buang air bersama di suatu sungai, dan kali itulah aku tahu dia laki-laki.

Aku tidak tahu rumah Bendi Afkir, karena katanya itu bukan urusanku. Aku sendiri tinggal di pasar dan kadang-kadang pindah ke seberang pasar, ke sebuah pagar kuburan, dan di sana dapat tidur sepuasnya tanpa diganggu, di bawah sebatang pohon yang tidak kutahu jenis pohon apa.

Di sana aku membayangkan dapat berbagai pekerjaan dan tidak betah, lalu Tuhan bersabda, “Kamu dicipta bukan untuk bekerja keras, tetapi sebagai sarana orang banyak menuju surga!”

Lalu aku pergi dari tempat-tempat kerjaku dan bos-bos yang kutinggalkan marah, dan aku tidak peduli. Kemudian aku pergi ke pasar ini dan meminta uang kepada semua orang dengan perasaan lapang.

Aku sering membayangkan itu setiap kali becermin. Maksudku, suatu sabda dari langit, yang mendukungku untuk semua ini. Aku tidak pernah kurang uang, tapi aku pun rela tidak menyewa kamar demi membuat Bendi Afkir senang. Jika uang yang kudapat kupakai semua, aku tidak dapat membantu Bendi Afkir dan beberapa temanku di pasar. Mereka semua rata-rata tidak punya keluarga.

Setahuku, aku juga tidak ada keluarga, karena dulu tahu-tahu aku sudah hidup tanpa bapak-ibu dan mengais-ngais makanan dari mana saja. Aku juga tidak dapat membaca, meski sudah diajari beberapa kali oleh orang-orang baik, yang hampir selalu kutemui di mana saja. Orang-orang ini memaksaku membaca, tetapi aku bilang tidak bisa. Aku tahu bedanya huruf O dan Q, tapi aku malas. Jadi, aku putuskan bahwa membaca itu bukan sesuatu yang penting.
Mungkin karena sudah takdirnya aku tidak bekerja di mana-mana dan hanya jadi sarana orang banyak menuju surga, maka timbul rasa malas dalam dadaku. Aku berpikir itulah anugerah Tuhan. Karena jika tanpa orang sepertiku yang malas dan membuat-buat wajah melas agar orang simpati, mungkin saja tidak ada yang ingat bersedekah dan tiap orang dewasa di dunia ini nanti dibakar di neraka. Itu tidak seharusnya terjadi, kukira.

Bendi Afkir tidak setuju waktu kukatakan hal itu. Jika mereka yang memberi uang padaku masuk surga, berarti semua yang meminta-minta uang akan masuk neraka?

Bendi Afkir dengan kesal berkata, “Kalau aku masuk neraka, harusnya kamu juga masuk neraka. Aku berada di neraka paling atas dan kamu paling bawah. Karena aku masih bekerja dan kamu tidak bekerja. Aku tahu, aku mungkin masuk neraka karena tak pernah sembahyang dan bahkan kadang-kadang meragukan pertolongan-Nya. Tapi, aku tahu Tuhan bilang, orang hidup harus kerja. Setahuku itu. Dia tidak menciptakan orang- orang bodoh dan kalah untuk jadi pengemis!”

Tapi kukatakan pada Bendi Afkir bahwa itu tidak mungkin. Dia tahu jika aku tidak makan hari ini mungkin aku masih hidup. Baru sampai besok lusa, jika aku benar-benar tidak makan apa pun, aku akan mati di pasar ini atau di mana pun yang tidak jauh dari pasar ini. Intinya, kalau aku tidak makan, baru aku mati.

Bendi Afkir kesal dan mengaku tidak tahu maksudku. Lalu kuingatkan dia bahwa di tempat fotokopian, sekalipun aku tidak kerja di sana, aku tahu benda-benda seperti buku dan setumpuk kertas, apabila ditaruh di sebuah kardus, yang lebih dulu diletakkan selalu di bawah.

Aku punya uang cukup untuk makan dan tidak mati dalam waktu dekat, dan justru Bendi Afkir yang sering minta uang. Jika misalnya kuputuskan untuk tidak memberinya uang lagi, dia bisa mati dan ditaruh lebih dulu dalam kotak bernama neraka. Maka, dia seharusnya berada di neraka bagian bawah.

Sejak kukatakan itu, Bendi Afkir tidak kelihatan batang hidungnya. Aku tidak tahu di mana dia tinggal. Jadi, kucari jenderal dangdut itu ke sekitar warung yang biasa kami datangi. Aku tidak menemukan Bendi Afkir dan aku kelaparan. Harusnya aku tidak telat makan, jadi saat itu juga aku makan tanpa Bendi Afkir. Selesai makan dan membayar apa yang kumakan, aku kembali mencarinya.

Aku memang harus mencarinya karena sesuai sabda Tuhan, bseharusnya aku ada untuk membuat orang-orang lain dengan lancar pergi ke surga suatu saat nanti. Aku tidak tahu kenapa Bendi Afkir berpikir dia bakalan masuk neraka. Aku yakin dia masuk surga jika mau sembahyang dan sesekali membayar utang padaku. Seharusnya dia tahu dia punya kesempatan.

“Kenapa kau kabur, wahai jenderal dangdut?”

Aku kelelahan mencari Bendi Afkir sampai kira-kira sepuluh jam lamanya dan aku pingsan di depan pagar kuburan pada subuh hari itu. Lalu aku bermimpi melihat kakek berbaju rombeng mendatangiku dan memberiku sebutir telur. Lalu kumakan telur itu dan aku kenyang. Tidak lama kemudian, masih dalam mimpi itu, perutku mulas. Aku buang hajat begitu banyaknya sampai-sampai semua orang yang jalan di depan kuburan itu menghindariku dan berkata, “Nggak sopan, ya!”

Aku baru bangun dari pingsanku saat hari sudah siang, dan kali itu Bendi Afkir ada di dekatku dan menangis. Dia bilang ingin mengakhiri hidup, tetapi tidak tega kepadaku. Dia bilang ingin hidup bersamaku selamanya demi membuatku sadar. Dia juga bilang di dunia ini harga bahan makanan meningkat, jadi cara berpikir harus ditingkatkan agar kami semua tidak mati dan ditaruh di neraka paling bawah. Aku tidak tahu maksudnya, tapi dia berbisik, “Tuhan juga menciptaku sebagai sarana menuju surga.”

Dan kami pun berpelukan layaknya saudara kandung. (*)

Gempol, 27 Juli 2016 – 5 Maret 2019

KEN HANGGARA

Lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya: Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018) dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).


[1] Disalin dari karya Ken Hanggara
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 17 Maret 2019