Sajak Nenek Tua – Jabat Tangan – Tafakur – Wanita di Sudut Gang Sepi – Panggung Sore

Karya . Dikliping tanggal 6 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Sajak Nenek Tua

Nenek tua itu tak ingin membuat Tuhan
Sedih
sebab tangan dan kaki yang dititipkan
tak digunakan mencari sambungan detak napas
Rambut memutih
membacakan puisi kesedihan dengan lantang
Recehan dan senyum mengumpul di tangan
nenek itu membiarkan tangannya menengadah
membiarkan rambutnya membaca puisi
sambil menderaskan maaf kepada Tuhan

Jabat Tangan

Di tengah jabat tangan itu
ada mawar hadir
baunya tercium sampai batin
Tertanam mawar di mata
melebat membuat mabuk kepayang
Dari jabat tangan itu
mengalir sungai kerinduan
yang lalu menjadi banjir
saat kusebut namamu
Di beberapa waktu
kujumpai mozaik
gambar pertemuan kita

Tafakur

Aku masih terduduk di ruang sepi
bersandar kenangan yang datang
ketika air mata lelah kutapaki
rasa yang berpelangi
Aku belum pernah memandangi hari esok
dan wajah elok yang disimpan jarak dan waktu
sementara jalan berbatu belum kutemukan ujungnya
Harus kutempuh meski suara langkah kaki
orang-orang mengajak ke jalan lain
menjauhkan wangi doa
yang kurindu sumbernya
Dalam keramaian cuaca yang berbicara
tentang kemarau dan hujan
aku maish bermusim semi dan semangat
sedang melebat
Aku akan kembali berjalan
setelah ellah kubunuh
di alam bawah sadar

Wanita di Sudut Gang Sepi

Tombak matanya melesat
puisi sepi terbaca jelas
dinding hanyalah penjaga tubuhnya yang dikuasai lelah
sandarkan kepasrahan doa
Hari ini berhijab
Menutupi aurat dan kisah malangnya
Dia biarkan jalan dan kesunyian mendengarkan
jeritan jiwa semakin memanjang
tak ingin membuka hijabnya
dan emmbiarkan dua bibir membuat dosa
lagi

Panggung Sore

Laki-laki itu menggenggam senyum bidadari
pada acara malam saat pantai membaca puisi
berkolaborasi semburat sinar
Ikan-ikan menari mengitari air laut
ombak lebih suka menggoda kaki
Laki-laki itu menumpahkan senyum
di udara
menjadi kata-kata melangit
bersama wajah bidadarinya
Irma Agryanti: lahir di Mataram Lombok.
Buku antologi puisi tungalnya Requiem Ingatan (2013). Bergiat di Komunitas Akarpohon.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irma Agryanti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 4 September 2015