Sajak Tata Ruang

Karya . Dikliping tanggal 25 Februari 2019 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Sajak Tata Ruang

kupanggil dan kunyinyiri awan
sebebas itu kau pergi
dalam arak-arakan semesta
laksana puisi kolosal
para penyair yang dimobilisasi
terbang bersama koloni burung putih
lalu kukirim pesan kemurkaan
jangan kautoreh langit
dengan kemuraman
kuhardik dan kusesali hujan
teganya kau datang sebelum siaga
janji kampanye penguasa
untuk meredam genangan
pesta bah dari banjir di tata ruang
menerjang menyindir kebijakan
dan kita saksikan pesta itu
dari tepian kanal muram
puisi tak punya kuasa mengubah
hanya menguatkan jiwa meronta
awan yang kehilangan perlindungan
hujan yang kehilangan kanal kendali
banjir yang unjuk ekspresi kemurkaan
dan kalian tahu
penguasa saling melempar dan menuding
menjanjikan perubahan
genapkan keyakinan
tentang perasaan
puisi-puisi yang meronta
mencari pembebasan
seperti keluhuran awan
bagai kebajikan hujan
ala kegagahan banjir
yang menyempurnakan cermin
pilihan keberpihakan politik tata ruang
sambil memandang pekat mendung
mari, segeralah berkemas
menghindari tamu
air yang tak sopan…
Januari 2019

Di Tepi Cangkir Kopi

wajah siapakah di tepi secangkir kopi
yang kuhirup dengan seruput hasrat
di pekat hitam itu berkecamuk nikmat
meronta di keremangan malam
ada yang bergelantung di bibir cangkir
samar bayangan di kepul wangi
dan kita mendapat semesta segala
hasrat siapakah yang terbenam
di kristal kerak terakhir
meninggalkan endapan kisah
ada bibir yang meronta memaksa
ada teguk yang menyisakan makna
mengaduk cerita tentang robusta
gula, dan seduhan mesra
kuhirup sembari memejam menanti
dari teguk pertama kau hadir
di teguk berikutnya kau resah
meronta merajang gelisah
panas yang menguarkan aroma
sepagi itu kau tengkurapkan cangkir
seperti setimbun hasrat
sesiang itu kausingkap makna
seperti sejumput gula
sesore itu kauseduh kopi
seperti rangsangan berahi
sepetang itu kaunikmati
kopi, cangkir, kepul aroma, dan kerinduan…
Januari 2019

Jarak Waktu, Sajak Ruang

jarak dan waktu
jarak dan ruang
menjauhkan jejak dan kenangan
mendekatkan hati dan getaran
kaubilang semua sia-sia
kubilang kisah yang sempurna
jarakkah yang menyiksa
waktu yang meronta
apakah ruang senyap menganga
pada impian yang urung
mewujud di haribaan nyata
kaujaga waktu
kujaga ruang
dengan saling memunggungi
dengan hati makin meronta.
Januari 2019
Amir Machmud NS, jurnalis, menulis puisi dan cerpen. (28)


[1] Disalin dari karya Amir Machmud NS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 24 Februari 2019