Sakit Gigi dan Sakit Itu

Karya . Dikliping tanggal 23 Januari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

KUE tart tumpang tiga memang menggiurkan, memancing liur. Dengan pembauran warna pekat dan cerah. Hitam. Cokelat Putih. Merah. Saat disesap lidah, manis lezat Dan tawaran-tawaran berulang tak dapat ditolak.

KEGEMBIRAAN perayaan ulang tahun anak yang kesembilan tadi sore ternyata berbuah penderitaan di malam hari. Pukul 23.20 terbangun. Bukan karena ingin pipis atau haus, bukan pula mendengar suara gaduh.. Tapi alat pengunyahku senat-senut, owh, linu, sakit. Tadi sore itu lupa, bahwa gigi geraham pertama telah berlubang. Di sampingku, istri terlelap, tidur bahagia telah melaksanakan hajat ulang tahun anaknya. Biarlah usah dibangunkan. Akupun mencoba lagi tidur.

Ah susah. Rasa sakit tetap tak reda. Mengganggu. Aku beranjak dari ranjang. Hendak abaikan rasa sakit dengan menonton TV di ruang makan.

Setiap langkah adalah berat. Melewati ruang tamu, balon-balon yang bergantung di dinding berbagai ukuran seakan serempak bertanya. “Kenapa bangun? Apa kabar?” Ah sialan! Saat tiba di meja makan, owh, sisa kue tart itu teronggok! Bekas potongan pisau tajam jelas terlihat licin di pinggir belahan tart. Menambah rasa ngilu gigi melihatnya. Istri lupa menaruh kembali di lemari pendingin. Hampir saja tanganku refleks mengempaskan kue tart itu agar berhamburan ke lantai, kalau saja tidak ingat siapa tadi yang berulang tahun. Dengan berbesar hati, aku simpan ke tempatnya penyebab musibah itu. Lalu aku ke meja makan. TV dinyalakan.

Suara pembawa acara di TV membuat tak nyaman. Aku matikan. Duduk tepekur. Tangan kiri menempel di pipi kiri. Sesekali mengusap-usap. Memohon agar gigi ini tak marah. Ya aku tahu, tak ada sakit yang sembuh tanpa obat. Berjuta harap menuju kotak P3K. Owh. Tak ada obat penahan sakit gigi. Hanya betadin dan kain kassa.

Lunglai.

Balik lagi ke kursi makan. Tertunduk. Dengan posisi seperti tadi, tangan kiri menempel erat di tangan kiri. Mencoba bertahan menahan sakit. Owh. Tidak. Pekerjaan kantor yang belum selesai berkelebat. Laporan bulan Januari harus ada perbaikan, belum cocok angkanya. Ba-han makalah untuk minggu depan belum siap referensi-referensinya. Owh. Owh. Menambah semakin nyelekit itu sakit.

Tidak! Aku ayah dua anak. Harus tegar. Tak boleh ada air mata yang menetes. Tak boleh marah-marah tak karuan.
Baiklah, untuk melupakan rasa sakit, aku akan mencoba tiduran, kali ini kembali ke ranjang, berbantal lengan kiri dan bantal. Mata dipejamkan.. Namun mataku terbuka terpejam, menahan derita. Nyut-nyut. Rasa sakit dapat mengalahkan kantuk. Sia-sia saja untuk tidur. Sepasang mataku tetap terbuka.

Tiba-tiba aku teringat cicilan motor matik sudah terlambat dua hari. Tadi siang ada WA. “Angsuran Saudara sudah terlambat dua hari. Mohon dilunasi.” Owh. Gigi ini terasa semakin sakit. Mencoba abai, bangkit, berjalan-jalan di selingkungan rumah dengan tangan tetap melekat di pipi. Dan, ketika melewati lemari pendingin tempat tart itu bersemayam, owh, owh..!Kini jam sudah berpindah angka. Rasa sakit tak sudi pergi. Aku menyerah. Harus minum obat. Dengan lembut, istri yang tengkurap dibangunkan. “Ada apa?” “Gigi sakit. Aku mau ke grosir di pangkalan ojek dulu yang buka 24 jam.” “Ya hati-hati.”

Motor melaju perlahan. Udara dingin malam menyentuh tengkuk, juga ke sumsum tulang gigi yang berlubang. Nyelekit. Untung saja malam itu, bukan malam Jumat. Di pertigaan keempat ada pemakaman lokal. Kata tetangga sekitar, di benteng tembok sering ada penampakan. Wanita bergaun putih kerap kali duduk-duduk bersantai. Tapi yang melihatnya tentu saja tidak bisa bersantai kan? Biasanya langsung berlari secepat-cepatnya. Lalu setiap melewati polisi tidur adalah goyangan derita. Di satu pertigaan, udara malam itu kali ini menembus sampai ke akar gigi. Owh..

Di pertigaan itu, di tepi jalan pinggiran kota, api unggun sedang menyala. Beberapa tukang ojek butuh hangat. Pelayan toko pria bujangan meladeniku. Di satu jam setelah pergantian hari, matanya terlihat lelah. Sekalian aku beli 4 kaplet. Hampir saja amarah meledak ketika dia berguyon menawari es krim. Bisa semakin menjadi rasa sakit ini. Ada salah satu tukang ojek yang mendoakan. “Semoga cepat sembuh..”

Kembali tiba di depan rumah, pintu terkunci. Nyelekit itu datang lagi. Mauku istri yang membukakan pintu, sebagai sambutan hangat. Agar sakit tak begitu terasa. Aku tak mau mengetuk. Terpaksa aku yang membuka. Istri sedang tertidur di kamar. Dan sebelum minum obat, aku terbiasa makan nasi dulu biarpun seperempat piring. Satu kaplet sudah masuk ke dalam perut Lalu berharap keajaiban, obat ini bisa melumat sakit. Agar tak ada aduh-mengaduh lagi. Kini rebahan di kursi ruang tamu. Sandaran kursi menjadi alas kepala. Dengan lengan kiri tetap menempel di pipi. Mencoba memejamkan mata. Beberapa saat merasakan nyaman, namun masih terjaga. Pekerjaan kantor yang belum beres, cicilan motor yang terlambat dibayar, kembali berkelebat. Owh. Datang lagi itu.

Jam berpindah angka lagi. Suara bertalu-talu di gigi tak juga pergi. Malah kini ada pening di kepala. Owh. Kiranya sakit gigi ini yang terparah. Obat warung kurang membantu meredakan. Pandangan mataku nanar. Lalu tertuju ke balon-balon yang menggantung. Tapi seakan memberi saran baik. “Bukankah biasanya kau cocok memakai obat berbentuk plester di pipimu?”

Sakit Gigi dan Sakit ItuAku pikir ini yang kutunggu. Merasa bodoh sendiri. Kenapa tadi tidak sekalian membeli? Itulah sakit gigi, bisa lupa diri. Penuh semangat kembali mengeluarkan motor. Menembus dingin malam, tak peduli misalnya nanti bertemu dengan yang bergaun putih pucat yang suka bersantai di tembok pemakaman.

Setelah plester berpindah tangan, langsung saja ditempel di pipi kiri. Hangat meresap. Dalam perjalanan pulang, ya mendingan. Adem. Walaupun nyut-nyut tidak hilang semuanya. Iramanya itu, tak seperti awal mula ketika mulai terasa.

Sudah satu pertiga malam. Belum juga tidur. Bagaimana bisa tidur?

Pipi kiri padahal sedari tadi didekapkan erat ke bantal. Lumayan dapat meredam rasa sakit. Bertekad harus bisa tidur. Sekarang sudah masuk hari Senin, pagi-pagi harus bekerja. Kiranya karena kelelahan menahan sakit, lalu tak ingat apa-apa.

Dan sampailah ketika tubuhku merasa bergoyang. Yang kemarin berulang tahun membangunkanku. Gadis kecil. “Sudah siang. Pukul delapan.”

“Ayah maafkan bila kue ulang tahun yang kemarin menjadi penyebab sakit gigi.” Wajahnya sedikit memelas.

“Tahu dari Ibu?”

“Iya.”

Tidak apa-apa. Memang salah Ayah juga. Tak berhenti mengemil.” Yang berulang tahun merangkul pinggangku.

“Kuenya masih ada kan? Di lemari pendingin?” Tanyaku.

Anakku dan istri saling pandang. Termangu. Buru-buru aku meralat. “O tidak, Ayah tidak menyalahkan kue tart itu..” Anak kecil bila disudutkan berakibat tidak baik. Lagi pula aku tak ada niat. Terlebih ini, di salah satu momen terbaiknya.

Istri dan anak menyarankan agar izin tidak masuk bekerja. Aku bertahan hendak tetap memaksakan. Istri ngambek, anak memohon. Aku mengalah. Memang seyogiyanya mendingan beristirahat, kalau sedang sakit gigi sedang berkurang konsentrasi, bila memaksakan bisa fatal akibatnya: bagaimana kalau nanti sering salah mengetik angka.

“Owh!” Tiba-tiba sakit itu hadir. “Tolong ambilkan obat perekat sakit gigi. Aku akan menggantinya dengan yang baru.”

“Sudah ke dokter gigi saja. Mendingan dicabut itu gigi.” Istri memberi masukan. “Iya nanti..”

Lalu istri beranjak ke kotak P3K. “Apa kataku. Jangan dulu bekerja.” Aku menurut Kini aku meminta dibuatkan secangkir kopi saja. Istri kembali ngambek. Alisnya naik sedikit. “Bagaimana sih? Katanya mau sembuh?”

“Oh, aku lupa..”

“Jangan mentang-mentang sudah mendingan..”

Saat mengganti plester, sayup-sayup terdengar berita duka dari mesjid terdekat. “Pengumuman.. Innallilahhi wainailahi rojiun.. Telah meninggal dunia, Bapak Fulan Bin Fulan, tadi pagi jam 7.00…”

Kami bertiga saling berpandangan. “Kok tiba-tiba padam suara speakernya? Mungkin padam listrik. Coba tanya ke tetangga depan rumah, apa penyebab meninggalnya?” Tanyaku pada istri.

Aku dan anak menunggu.

“Katanya sakit jantung….” Mataku berlinang. Almarhum sahabat karib sejak kecil dan remaja.

“Semoga dosa-dosamu diarnpuni oleh-Nya sobat. Sakit gigi saja sakitnya sedemikian. Apalagi menjelang sakaratul maut. Betapa sakit yang tak bisa dibayangkan, yang akan dialami setiap manusia.”***


[1] Disalin dari karya Gandi Sugandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 20 Januari 2019