Sang Hakim

Karya . Dikliping tanggal 12 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
BEBERAPA koran minggu ini benar-benar membuat mataku ketagihan menyelinap dari satu berita ke berota lain yang disuguhkannya. Judul-judul yang selalu menjadi buruan mataku adalah yang menerakan nama ayah, dengan segala polah terduga maupun tak terduga yang ada di sekitarnya.
Lihat saja ini di tanganku. Koran nasional yang bertanggal hari ini, jadi kau pun akan bisa menemukannya dengan mudah. Ayo lihat halaman pertamanya, yang ada ‘frasa’ bola panas itu. Baca tuntas hingga ke sambungannya di halaman sebelas kolom empat.
Lihat juga di majalah berita mingguan yang terkenal kritis ini. Bacalah. Selain fotonya yang dijadikan cover bulan ini, profilnya juga dikupas tuntas dari A sampai Z. Bacalah riwayat hidupnya, pengalaman-pengalaman hebatnya sejak masih sekolah, lalu mahasiswa, lalu perjalanan kariernya sejak  masih seorang pemula hingga seperti sekarang. Bacalah kasus-kasus yang pernah digetoknya. Nanti, aku yakin, kau akan dengan mudah bisa menerka bagaimana sifat ayahku itu. Atau, kau mungkin bisa mencarinya di koran lokal. Aku yakin nama ayahku saat ini juga ada di koran-koran lokal di mana pun kau tinggal.
Nama ayahku memang sedang melambung saat ini. Saat korupsi mulai dipandang menjijikkan. Tapi lupakan dulu soal ketenaran itu. Yang membuatku terobsesi dengan ayahku sendiri sebenarnya bukanlah hal itu.
Baiklah. Akan kuceritakan kepadamu tentang kebiasaan misterius ayah yang selalu membuatku penasaran. Masalahnya, aku yakin kebiasaan itu sedikit banyak pasti berpengaruh terhadap pencapaian beliau saat ini.
***
Malam yang hening. Seperti dugaanku, ayah pasti akan melakukannya lagi. Aku hening mengintipnya sekarang. Mataku menyusup di lubang pintu. Kulihat beliau sudah membuka laci bawah lemari arsipnya, lemari yang sampai saat ini masih menjadi larangan ayah untukku. Kulihat beliau mengeluarkan sebuah kotak dan lalu meletakkannya di meja kerja.

Menit berikutnya kulihat beliau seperti sibuk dengan tubuhnya sendiri. Seperti hendak membuka baju, Seperti menepuk-nepuk dadanya sendiri. Seperti bermain-main dengan kotak di hadapannya. Lalu setelah itu terlihat diam selama beberapa saat.

Selama bertahun-tahun apa yang dilakukan ayah dengan kotak itu menjadi misteri yang membuatku penasaran setengah mati. Pasalnya, pintu kamarnya selalu dikunci setiap beliau melakukan hal itu. Dan yang aku catat, seusai beliau melakukan itu pasti kelakuannya kemudian menjadi aneh dan berubah drastis. Rautnya terlihat serius dan dingin. Tak pernah tersenyum. Rasa hangat tiap kami berdekatan tak lagi kurasakan. Dan terutama keesokan paginya, yang pasti akan ada kehebohan di media-media perihal kasus besar yang sudah digetoknya.
“Apakah pagi ini giliran kasusnya orang itu, Yah?” tanyaku memastikan, saat kami sarapan bersama. 
“Hmmh…” Hanya menoleh sekilas dari piringnya.
Kemarin aku menduga, perubahan drastis ayah yang  seperti itu dikarenakan semacam beban mental sebelum menghadapi sebuah kasus. Tapi entah mengapa, prasangkaku kini telah bergeser. Aku justru mulai curiga dengan kotak misterius di laci bawah lemari arsipnya itu. Apa yang sebenarnya dilakukan beliau dengan kota itu.
“Ayah akan memvonisnya berapa tahun?”
“Jangan mengurusi sesuatu yang tak penting buatmu” Jawaban yang sudah dapat kutebak pula
Dari nada bicaranya, aku justru berprasangka bahwa beliau khawatir jika keusilanku berkomentar ini-itu perihal kasus yang tengah digenggamnya, dapat memengaruhi atau setidaknya membuatnya merasa terganggu setelah keputusan yang telah dimatangkannya sendiri. Beliau pun selalu memutus pembicaraan atau kadang mengalihkannya ke tema lain acapkali aku menyinggung perihal orang-orang yang tengah dalam penanganannya.
“Apakah menurut ayah, Rani adalah seorang gadis yang baik?” Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya kuputuskan mengalihkan pembicaraan.
“Dia selalu mengingatkanku pada Ibu.”
“Hmmh…” Lagi-lagi hanya kalimat pendek itu yang keluar. Selalu begini setelah laki-laki itu melakukan hal aneh tersebut. Ia seperti bukan lagi ayahku. Ia berubah tak acuh, seperti telah kehilangan perasaan.
Ibuku telah meninggal sepuluh tahun silam dalam sebuah insiden yang menyedihkan. Pada suatu siang, sehari setelah ayah menggetok sebuah kasus besar (yang melibatkan orang-orang besar), perempuan itu tertembak di depan matanya. Sasaran yang sebenarnya adalah ayah. Mungkin malaikat telah menaburkan debu ke mata penembak misterius itu. Biidkannya justru meleset ke arah ibu. Waktu itu orangtuaku baru saja keluar mal, belanja. Setiap akhir pekan mereka berdua memang kerap menyisihkan waktu untuk masak bersama.
Hingga detik ini para penembak misterius itu belum diketemukan. Aku pikir ayah sudah bisa menduga dari kelompok siapakah mereka itu. Tapi beliau lebih memilih diam. Entah diamnya itu karena takut ataukah karena belum ada kesempatan membalas.
Aku masih ingat betul dengan saat-saat paling menyedihkan itu. Hampir setahun ayah tenggelam dalam kesedihan. Lelaki itu menjadi seorang yang paling pelamun dan pendiam. Mengabdikan diri di kampus bahkan ia tinggalkan. Sejak saat itulah lelaki itu suka mengurung diri dalam kamar kerjanya. Dan aku pun masih ingat betul, hal pertama yang diakukan lelaki itu sebelum bangkit ke dunianya sekarang adalah hal aneh yang sampai saat ini masih menjadi misteri buatku.
***
AYAHKU hakim yang disegani banyak orang. Baik teman sendiri maupun orang-orang yang belum pernah bersua dengannya. Nama besarnya kerap menghias halaman depan koran-koran. Harumnya sudah tersebar kemana-mana.
Banyak kasus besar telah ditangani ayahku dengan tangan dingin. Tak peduli teman dekat sekali pun, jika sudah terendus hidung polisi dan dilemparkan ke hadapan ayah, maka janganlah berharap belas kasihan kecuali jika terjadi keajaiban Tuhan.
Ketegasannya sudah dikenal banyak kalangan. Masih kuingat dengan jelas, sewaktu aku masih kanak, kami kerap dikirimi hadiah-hadiah. Tapi kesenangan itu selalu diinterupsi ayah dengan sebuah pertanyaan “Dari siapa itu?” Tak terhitung hadiah-hadiah yang menggiurkan mataku namun akhirnya dikembalikan lagi oleh ayah begitu tahu siapa pengirimnya.
Beliau kerap menjadi incaran orang-orang yang membenci sepak terjangnya. Ibuku adalah korban nyatanya. Di negeri ini hakim yang seperti ayah jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Bukanlah hal gampang untuk bisa mencapai kepribadian setaraf kepribadian ayah. Mungkin orang tersebut harus merasai kepahitan hidup seperti yang pernah dirasai ayah. Konon, masa kecil ayah juga memprihatinkan. Sebagai anak dari seorang polisi yang jujur, keadaan tak pernah memanjakannya. Hanya ada satu hal yang sampai saat ini belum aku ketahui tentang ayah. Dan tersebab hal itulah aku berada dalam kamar ini sekarang.
Semasa kecil, yang aku ketahui tentang kamar ini hanyalah ruang kerja ayah. Semuanya masih sama seperti dulu. Kukira hanya suasananya saja yang sedikit berubah. Ada sedikit aroma kesedihan dalam ruangan ini. Suara abu yang akan langsung memanggilku keluar dari sini jelas takkan terdengar lagi.
Beberapa foto yang mengabadikan prestasi kerja ayah masih terpajang di dinding sebelah barat dan utara. Tumpukan koran bekas menggunung di sisi lemari arsip. Lembar koran-koran yang hanya memuat berita-berita tikus-tikus berdasi. Sementara koran-koran yang memuat berita tikus-tikus yang sedang dalam pengejaran, tertidur manis di atas meja kerja.
Lemari arsip ayah terletak di sisi utara atau sebelah kanan meja kerja yang menghadap ke barat. Perihal meja kerja yang diletakkan menghadap ke sisi barat, aku pernah bertanya. Jawab ayah, agar saat bekerja ia selalu teringat Tuhan. Ia ingin mengabdikan pekerjaannya kepada Tuhan. Ia ingin mempersembahkan kematian ibu kepada Tuhan, agar tidak sia-sia.
Lemari arsip itu adalah benda paling terlarang untuk kusentuh. Tebakanku, semua data-data tentang ‘korban’ ayah pasti tersimpan di sana. Baik yang sudah berhasil dilemparnya ke teralis, maupun yang masih dalam tahap pengendusan. Dan dalam rangka demi lemari arsip itulah kini aku bersembunyi di bawah kolong tempat tidur ayah.
Aku sangat yakin bahwa malam ini lelaki itu akan kembali melakukan ritual anehnya lagi, sebab dari kabar santer yang kudengar, besok pagi beliau akan menggetok nasib seorang petinggi partai yang terjerat kasus korupsi. Di tempat persembunyian kini aku berdoa, semoga saja ayah tidak curiga dengan pesan yang aku tinggalkan kepada mbok Inah, satu-satunya pembantu rumah tangga yang sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Malam ini aku menginap di rumah teman, besok pagi aku baru pulang. Pesan itu juga telah kukirimkan ke HP beliau.
Dadaku berdenyar hebat ketika terdengar pintu kamar ini dibuka. Aku melihat separuh kakinya. Berjalan ke arah meja kerja. Kertas-kertas dibuka. Gelas beradu meja. Lalu lelaki itu akhirnya pun bergerak ke arah lemari arsip.
Inilah saat yang paling kutunggu. Dengan sangat hati-hati aku beringsut ke tepi, hingga bisa kudapati sosok utuh lelaki itu. Setelah meneguk tehnya, ayah membuka kotak itu. Kotak kayu warna coklat yang entah berisi apa. Dan detik berikutnya, terngangalah aku.
Lelaki itu, maksudku ayahku, merogoh sesuatu dari dadanya. Kemudian dapat kulihat tangan kanannya yang menimang sebuah benda warna merah darah. Benar-benar darah! Aku langsung beringsut membenamkan diri ke kolong lagi. Ya Tuhan, apakah ada yang salah dengan mataku?!
Ketika kudengar helaan napas lelaki itu, tubuhku gemetaran. Terbayang seorang lelaki tanpa hati yang memimpin sebuah sidang. Seorang hakim yang disegani banyak orang. Dan dia ayahku. (k)
Banyuputih Kalinyamatan Jepara,
2013-2014


Adi Zamzam alias Nur Hadi, Tinggal di desa Banyuputih Kalinyamatan Jepara.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zamzam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 11 Januari 2015
Beri Nilai-Bintang!