Sang Maut

Karya . Dikliping tanggal 11 April 2017 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
KARIM sedang mengajar di depan
kelas ketika tiba-tiba handphone
bututnya berdering.
Istrinya menelpon. Dari seberang sana,
dengan suara terputus-putus, istrinya
terisak dan bilang bahwa anaknya yang
terserang demam sejak tiga hari lalu
barusan muntah-muntah darah. Karim
yang tengah menjelaskan definisi kalimat
utama pada murid-muridnya
memilih untuk diam sejenak, seperti patung
di muka kelas. 
Selanjutnya, dengan gegas ia meninggalkan
tugas pada murid-muridnya: untuk
mengarang pendek sepanjang satu
paragraf dan memilah kata utamanya.
Satu menit kemudian, Karim telah melesat
ke jalanan dengan motor bebeknya. 
Di sepanjang jalan menuju rumah, tubuh
Karim terasa sangat dingin. Kuduknya
bagai meremang. Ia membayangkan
bocah ciliknya tengah terkulai di atas dipan,
dengan mata memejam, dengan
tarikan napas berat. Seperti hari-hari sebelumnya.
Bocah empat tahun itu mengalami
demam tinggi sejak tiga hari lalu,
dan Karim maupun istrinya belum sempat
membawanya ke dokter. Istri Karim
tengah hamil tua, tak mungkin memboyong
bocah itu seorang diri ke dokter. 
Di balik helm dengan kacanya yang
sudah buram, air mata Karim mulai
menggenang. Semua itu pasti salahnya. Ia lebih mementingkan
murid-muridnya. Ia lebih khawatir
kalau murid-muridnya ketinggalan pelajaran daripada
anaknya sendiri yang tak doyan makan. Kini,
semuanya sudah terlambat. Istrinya bilang bocah itu
muntah darah. Pasti ada yang tidak beres.
Sesampainya di rumah, Karim berjanji akan langsung
pergi ke rumah Pak Haji untuk meminjam kol.
Ia akan minta tolong pada Nurman, tetangganya,
untuk menyopiri kol tersebut sampai ke rumah sakit
di kota kabupaten. Mereka pasti bersedia, mereka
adalah para tetangga yang baik dan peduli. 
Karim terus melaju, dan langit mendadak kelabu
oleh mendung. Sekelabu nuansa hatinya. Mohon jangan
hujan dulu, pinta Karim dalam hati. Namun
langit tak mendengar. Gerimis perlahan turun,
gemertap menimpa kaca helm yang dipakai Karim,
hingga membuat kaca buram itu semakin buram.
Pakaian dan tubuh Karim mulai kuyup. Ia lupa
membawa jas hujan. Kemarin lepas ia pakai, jas hujan
itu ia jemur dan ia lipat, tapi lupa dibawa. Kini,
hawa dingin itu semakin menyusup ke kuduk
Karim. Ia benar-benar ingin mengumpat. Namun,
mengumpat hujan rasanya seperti mengumpat
Tuhan. Dan tentu ia akan merasa berdosa bila harus
mengumpat Tuhan gegara hal sepele macam hujan. 
Apapun yang akan turun dari langit detik itu,
Karim tak akan peduli, ia akan terus melajukan motor
bututnya, menembus apa saja, demi sampai ke
rumah. Ke muka anaknya yang tengah berjuang
melawan sakit. Bahkan seandainya dari langit akan
turun hujan batu, Karim akan tetap melaju, tak
peduli batu-batu itu meremukkan tubuhnya. Selama
ia masih bernapas, ia akan berusaha untuk sampai
ke muka anaknya. 
Hujan batu tidak turun, hanya angin dan luapan
air yang semakin menjadi-jadi. Bagai sebuah muslihat.
Karim melajukan motornya lebih kencang lagi.
Tak peduli pada jalanan yang licin. Tak peduli pada
deru angin yang seakan menumbangkan tubuh
ringkihnya sekaligus motor bututnya. Tak peduli pada
lalu-lalang kendaraan lain yang berkali-kali hendak
menyambar motornya yang kuyu itu. Tak peduli
pada apapun, selain anaknya. 
Hingga di jalanan menurun itu, segala diri Karim
telah dikuasai emosi. Ia lupa bahwa ia juga harus
menjaga dirinya tetap utuh sebelum sampai rumah.
Di jalanan menurun itu, sebuah truk pengangkut
batubata berhenti mendadak di hadapannya. Hingga
motornya yang melaju kencang itu menubruknya
tanpa ampun. Sebuah benturan yang kelewat keras.
Motor butut itu terperosok nyaris masuk ke kolong
truk, tubuh Karim terpelanting. Benturan itu seakan
redam oleh deru angin dan hujan. Para pengendara
berhenti untuk menolong Karim atau sekadar
menengok keadaannya. Di bawah guyuran hujan,
Karim merasakan nyeri yang begitu hebat di
kepalanya. Darah encer itu terbilas guyuran hujan
sampai ke muka. Ada rasa asin di mulut. Ada air mata
yang samar bercampur air hujan dan asin darah. 
Karim bangkit, tak memedulikan kerumunan
orang yang menatap cemas kepadanya. Tak
memedulikan pakaiannya yang amis terendam
cairan merah. Karim menoleh kesana-kemari, mencari-cari
motor bututnya. Beberapa meter di hadapannya,
motor itu tergeletak dengan setang remuk
dan pelek roda depan melengkung bagai diremas
oleh tangan raksasa. 
“Tolong! Tolong antar saya pulang! Saya harus
segera pulang! Anak saya sakit! Barusan istri saya
menelpon, dan anak saya muntah-muntah darah!”
ujarnya terbata, mengiba-iba. Seorang lelaki yang
mengenakan jas hujan warna putih meraih tangannya
dan memapahnya pelan-pelan. 
“Saya akan antarkan bapak sampai
ke rumah,” seru lelaki berjas hujan
putih dengan wajah samar tertutup
kerudung yang juga berwarna putih. 
“Bapak tak apa-apa, kan?” Tanya
yang lain. 
“Hati-hati, pelan-pelan saja,” ujar
yang lain pula. 
“Saya titip motor saya,” bisik Karim
entah pada siapa, “Tolong bawa ke
bengkel. Di atas jalan tanjakan itu, di
kanan jalan ada bengkel.” 
“Iya, Pak, beres,” jawab entah siapa.
Dua orang yang juga mengenakan jas
hujan, melangkah ke arah motor remuk
itu. Sementara lelaki dengan jas
hujan putih itu membantu Karim naik
ke motor, sebelum akhirnya melesat
menembus hujan yang tak juga reda.
Dalam sisa perjalanan pulang itu,
Karim bagai mengantuk. Ia menyandarkan
kepalanya ke punggung lelaki
berjas hujan putih yang melaju dengan
tenang di bawah hujan. Tak ada katakata
sepatahpun muncul antara keduanya.
Perjalanan itu terasa begitu
lama. Begitu jauh. Dan hujan seperti
turun untuk selamanya. Seperti orang
mengigau, Karim membisikkan arah
jalan ke rumahnya di setiap belokan
dan perempatan. Lelaki yang memboncengnya
itu hanya mengangguk. Hingga sampailah
motor itu di muka rumahnya yang becek dan telah
dijejali orang. 
Lelaki berjas hujan putih itu melaju pergi, bahkan
sebelum Karim mengucapkan kalimat terima kasih.
Melihat para tetangga telah berjubal di rumahnya,
rasa cemas itu memaharaja. Karim tahu, pasti sudah
terjadi apa-apa dengan anaknya. Sambil menyeru
nama anaknya, Karim menghambur tanpa kata permisi,
melewati orang-orang yang bercakap pelan di
teras rumahnya. Di ambang pintu, di muka ruang
tamu, tubuh Karim gemetar, hampir melorot. Beberapa
orang tengah duduk bersila mengitari jenazah
yang telah ditutupi kain batik, membacakan doa dan
ayat-ayat suci. Tak butuh waktu lama bagi Karim
untuk menyadari keberadaan istrinya yang hamil
tua tengah duduk memangku anaknya dengan mata
sembab di muka jenazah. Bocah itu baik-baik saja.
Lantas, yang tertutup kain itu jenazah siapa? 
Bagi Karim, pertanyaan itu masih belum terjawab
dengan gamblang, bahkan meski ia telah melihat
seonggok nisan yang tersandar di dinding dan ditulisi
huruf arab sambung: kaf fathah, ra kasrah, ya
sukun, dan mim. Di bawah tulisan arab itu, terleter
pula tanggal, bulan, dan tahun kelahiran yang sama
persis dengan kelahirannya. Juga tanggal kematian. 
Karim menyapa orang-orang, bertanya-tanya, siapa
yang mati di rumahnya? Dan… sekarang pukul
berapa? Tak seorangpun menghiraukannya. Lantunan
doa dan ayat suci terus mengguyur sederas hujan
di luar sana.*** 
Malang, 2016 


Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni
1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa.
Kini bermukim di Malang.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya  Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 9 April 2017