Sang Orator

Karya . Dikliping tanggal 4 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

“SELAMAT datang Bapak Matohar!” teriak penyanyi itu di sela-sela ia menyanyikan lagu Jaran Goyang. “Dimohon para hadirin semua berdiri!” lanjutnya lantang.

Para tamu yang duduk di depan panggung serentak berdiri. Matohar menebar senyum sambil melambailambaikan kedua tangannya. Empat laki-laki berseragam dan bertubuh kekar mencari jalan untuknya. Dua di depan, dua di belakang.

“Hidup Bapak Matohar!” teriak penyanyi tadi. Langsung disahut dengan tepuk tangan yang riuh oleh orang-orang di lapangan itu. Beberapa orang mengibar-ibarkan bendera. Ada juga yang melempar topi ke udara.

“Jaran goyang-jaran goyang…. Para hadirin boleh duduk kembali!” Orang-orang itu seperti kena hipnotis, langsung kembali duduk di tempatnya masing-masing.

“Apa salah dan dosaku, sayang,

Cinta suciku kau buang-buang

Lihat jurus yang kan kuberikan

Jaran goyang, jaran goyang…..

Hoooiiiii, terima kasih!” Penyanyi dengan rok ketat di atas lutut itu lalu membungkuk tanda ia akan turun panggung. Kembali tepuk tangan meledak di lapangan. Juga suitan-suitan nakal dari beberapa anak muda.

“Lagi! Lagi!” teriak beberapa orang.

“Bojo Galak! Bojo Galak!” teriak yang lain.

“Baik, baik. Nanti akan kita goyang lagi dengan lagu Bojo Galak. Sekarang saatnya kita semua mendengarkan pidato Bapak Matohar. Beliau idola kita semua. Pembakar semangat agar jiwa kita jadi berkobar-kobar. Jangan sampai jiwa kita melempem seperti kerupuk kena angin. Maka, kami mohon, Bapak Matohar untuk berkenan naik ke atas panggung!” teriak pembawa acara dengan suara lantang.

Matohar mengangguk-angguk. Ia membetulkan letak dasi dan merapikan jasnya. Sebelum berdiri ia menoleh kepada perempuan yang duduk di samping kanannya. “Jadi aku harus bicara sesuai rencana?” bisiknya.

“Ya. Samakan dirimu seolah-olah seperti Mahapatih Gajah Mada saat mengucapkan Sumpah Palapa!” jawab perempuan itu dengan suara lirih.

“Aku tidak hapal semua isi teks,” lanjut Matohar.

“Katakan saja semua yang kamu ingat. Mereka tidak akan protes! Suaramu jauh lebih penting dibanding isi teks.”

“Begitu ya?”

“Hemmm.”

Empat lelaki kekar tadi segera mengawal Matohar naik ke atas panggung. Begitu sampai di depan pelantang, Matohar langsung mengepalkan tangan. “Merdeka! Merdeka!” teriaknya.

Beberapa orang yang duduk di barisan depan menyambut yel yel itu dengan kata yang sama.

“Saudara-saudara, hari ini aku merasa seperti Mahapatih Gajah Mada saat mengucap Sumpah Palapa. Tahu di mana sumpah itu diucapkan?” Tidak ada yang menjawab. “Di Trowulan Mojokerto. Persisnya di belakang Pendapa Agung kraton Majapahit. Saat itu jagad seperti bergetar. Bumi berguncang. Namun angin berhenti. Daun-daun diam. Matahari pun seolah ingin tahu isi sumpah itu. Ada yang tahu isi Sumpah Palapa?” teriak Matohar.

Kembali orang-orang hanya saling pandang satu dengan yang lain.

“Isinya tidak penting kita ingat. Tetapi sekarang ini, ketika matahari selalu muncul dari timur dan tenggelam di ufuk barat, kita semua harus sadar. Bumi memang bundar. Tidak pernah rembulan muncul dari utara dan tenggelam di selatan. Benar?”

Orang-orang berteriak menyahut, “Benar!”

“Ehh, kamu tahu, ke mana arah pidato itu?” tanya seseorang kepada temannya.

“Mana kutahu. Biar saja dia mau omong apa. Kita di sini menunggu tampilnya penyanyi seksi tadi kok,” jawab yang ditanya.

“Jadi Saudara-saudara, kalian tahu?” Tanya Matohar

“Tidaaaakkkk!” jawab orang-orang itu seperti koor.

Matohar menelan ludah. Sangat pahit rasanya. Ia sendiri mulai bingung, tidak tahu lagi apa yang harus diucapkan.

“Bojo Galak! Bojo Galak!” teriak orang-orang itu tidak sabar.

Jakal, penghujung 2018


[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 3 Maret 2019