SANTA ZOMBIE (Atau: Perasaan dari yang Mati Disiksa)

Karya . Dikliping tanggal 13 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

MESKIPUN mayat Marciena Vilanxa ditemukan di tempat itu, tapi mereka tidak membunuh di sana-mereka membunuh di tempat lain dan memindahkan mayat itu ke sana. Meski luka di selangkangan itu masih mengalirkan darah-dan kata beberapa orang, di sana itu selalu ditemukan genangan darah segar, serta: selalu hadir lagi darah segar meski itu telah lama dibersihkan dan berkali-kali diselenggarakan ritual doa dan pemberkatan. Terpikirkan, kenapa roh Marciena Vilanxa masih tertambat di tempat ia sekarat-bukan di tempat ia disiksa-masih ada di tempatnya mati dengan roh dipaksa membubung karena tak kuasa lagi menghayati tubuh didera sakit yang maha hebat?

Kekal tertambat di momen kala tubuhnya itu seperti yang tidak mau kehilangan roh, karena tak punya kuasa lagi memegang tali roh, bahkan tidak kuasa buat sekedar menahan roh di dalam tubuh meski, dan dengan lirih terus memanggili roh buat tetap menunggu-padahal tubuhnya sudah kejang, sudah terlalu banyak mengeluarkan darah. Karena itu, roh terus menghadirkan isyarat telau darah segar secara irasional, meski tubuh telah lama dikubur-seperti simbolikum Jesus yang disalibkan, yang sampai kini darahnya terus menetes, memberkati. Sekaligus, sepertinya, roh Marciena Vilanxa menuntut agar kami mencari tahu-meski itu mensyaratkan kami harus berani untuk mencari tahu, padahal kami terlalu takut dan tak cukup punya keberanian untuk mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Kami ketakutan, dan cuma bisu membacakan Doa Pemberkatan-penebusan dan penawar bagi sakit disiksa.

Mereka membunuh Marciena Vilanxa secara sungguh-sungguh. Rahang kiri pecah, meski hanya dua gigi yang tanggal dan tak pernah ditemukan, lidah tergigit, tangan kanan setengah keseleo yang terjadi mungkin karena dipelintir dan disengkelit ke belakang tubuh lantas diikat tak dalam proporsi yang benar, dua rusuk kanan patah menusuk ke paru-paru, dan kedua paha memar dengan ibu jari kaki kanan pecah. Semua itu-terutama luka di rusuk-pasti membuat setiap helaan nafas jadi siksaan tidak terhingga. Itu pasti penderitaan bernafas yang sangat menyakitkan dan lama, memicu derita di setiap helaan nafas serta getar tubuh-mungkin memacu peningkatan derajat pening seiring darah menetes tanpa ada tindakan menghentikan alirannya.

Kalau memang disengaja untuk membiarkannya berlama-lama di dalam kondisi seperti itu: hal apa yang diminta dari Marciena Vilanxa hingga tindakan pertolongan pertama diabaikan? Kami tak tahu-tak ingin tahu. Meski, bila berani, kami bisa lebih tahu tentang peristiwa itu, dengan ritual voodoo: memanggil roh untuk masuk di dalam tubuh siapa pun dari orang sekampung. Tapi apa gunanya lebih tahu? Apakah itu tidak jadi sebab hingga salah satu dari kami akan diperlakukan kejam, seperti siksaan pada Marciena Vilanxa? Dijadikan si bukti penggertak, suatu peringatan dari orang asing-yang kini ada di kampung dan memata-matai kami? Apa ada orang yang ingin agar kami melupakan Marciena Vilanxa, tapi ia tidak pernah berterus terang menjelaskan kenapa kami harus melupakan teman sekampung yang sekarat perlahan-lahan itu.

Marciena Vilanxa memang mengalami sekarat panjang-kondisi yang menyebabkan roh ada di luar tubuh meski ia terus menginginkannya abadi dalam tubuh, terjangkar meski tubuh telah dikuburkan, roh tertahan dalam kondisi munting, tidak beranjak bagai layang-layang tidak imbang diserut angin. Ingin bebas dari jangkar tubuh dalam fakta hidup di dunia, tapi tubuh dan ambisi untuk bertahan tetap hidup tak memperkenankannya terbang ke keluasan langit mati. Fakta sakit yang sudah tak tertahankan, hingga meski dipertahankan dengan ambisi terus bertahan hidup, yang membuat pertolongan pembebasan roh ke dalam mati dan lepas dari tubuh jadi mustahil.

Ngerinya, kematian yang nyaris lengkap itu sengaja mereka labi dengan penyiksaan perkosaan: sebilah sangkur dimasukkan vagina, lantas kasar digerakkan merobek ke tiga sisi. Lukanya amat parah, melebihi luka koyak karena melahirkan (alami) bayi tujuh puluh lima sentimeter dengan berat dua puluh lima kilogram. Dan ihwal pelabi itu, siksaan itu sengaja dilakukan ketika Marciena Vilanxa masih hidup dalam hanya setengah mati, dan laku pelabi siksa yang sengaja itu diharapkan akan memicu pendarahan hebat yang tidak berhenti—bahkan ketika dipindahkan ke tempat itu. Darah segar, yang selalu hadir lagi serta terus hadir di tempat mayat Marciena Vilanxa ditemukan-meski mayatnya telah lama dikuburkan.

Dan sesekali, mungkin, muncul di kendaraan pembawa tubuh (sekarat) Marciena Vilanxa itu ke sana, di tangan para penyiksa, serta di tempat di mana laku penyiksaan sistematik itu berlangsung intensif–dengan memperhitungkan batas daya tahan tubuhnya ketika berlama-lama dan berlambat-lambat menyiksa, serta itu, tanpa sadar, telah menjerembabkannya jadi roh yang tidak mau membubung dan meski tubuh telah ditinggalkannya. Tapi disiksa di mana? Tapi bagaimana penyiksaan sadis itu berlangsung? Ada berapa orang penyiksa? Apa dengan itu pelaku merasa terhibur?

SANTA ZOMBIESaya tidak tahu-tepatnya: tidak ingin tahu-bahkan percaya kalau pertanyaan tentang itu akan membuat saya tak selamat. Selain para pelaku, penyuruh, serta si aktor intelektual sistem penyiksaan yang efektif, mungkin hanya rohnya yang tahu-meski kini akan selalu kebingungan mencari tubuh yang telah dikuburkan, karena itu roh terus mencari ke mana-mana: ke tempat dibunuh, ke mobil yang membawanya ke sana, dan ke seputaran orang-orang yang menyiksanya. Dan (terutama) ke tempat penyiksaan itu. Dulu-beberapa orang segera tahu dan berpura-pura baru tahu saat mayat Marciena Vilanxa ditemukan-sebenarnya beberapa orang kampung yang tahu kapan dan oleh siapa meski hanya sosok-mayat sekarat itu diletakkan di pinggir jalur utama angkutan ke Los Bravos, dan memilih bungkam-: hingga rohnya gentayangan.

Di malam hari, katanya, roh itu senang mencegat bus, buat sesaat ikut barat atau timur, serta menghilang kalau ditagih karcis. Sehingga, di malam hari, semua bus dari Mediolexa atau yang langsung dari Los Sraguena, atau sebaliknya, tidak mau berhenti bila distop siapa pun di sana. Bus-bus itu memilih melaju kencang, dengan lampu kabin dan di luar dimatikan-melaju dengan hanya memakai lampu pendek. Semua bisu. Sopir, kernet, kondektur, serta penumpang membisu dan intensif dalam Doa Pemberkatan bagi si mati. Bahkan, sekitar 3-4 bulan, orang-orang kampung tidak berani ada di luar rumah di malam hari, terlebih nekat berjalan kaki melewati tempat itu–meski petang baru mulai, dan remang sangat lama akan kelam.

Meski tidak mengganggu, kehadiran sosok termangu dari Marciena Vilanxa, yang selalu terdengar terisak itu mengiris perasaan-melukai rasa keadilan lebih tepatnya. Bahkan fenomena penampakan yang terdiam kebingungan itu, yang merupakan pertanda ada tuntutan keadilan atau sekedar kejelasan sebab kematian itu, tapi tak terlampiaskan dan tak pernah demonstratif dilampiaskan karena kami takut, dan bahkan memikirkan ide itu malah membuat kami makin ketakutan. Takut bablas nila memaksa buat menyelidik alasan, kapan dan di mana dibunuh. Sesuatu yang membuat kami itu sampai di titik mulai mengerti siapa yang membunuhnya. Pendek kata, kami takut pada siapa yang bersekongkol di balik penyiksaan itu-dan siapa dan apa sistem yang berperan menyiksanya. Dan bukan takut oleh kehadiran si roh yang gelisah mencari tubuh itu.

Bukan takut kepada kepenasaranan roh itu, yang berubah jadi kemarahan yang dilampiaskan pada kami, karenanya Doa Pemberkatan selalu diucapkan, tapi oleh kekuatan rahasia yang telah sistematik membunuhnya-si komplotan yang kini secara amat mencolok hadir sebagai si orang asing yang diam-diam mengawasi serta memata-matai kami, dengan sengaja bermukim di kampung. Emang! Setidaknya, roh itu cuma jadi yang termangu dan kebingungan, hingga kehadirannya itu tidak pernah menimbulkan celaka, atau insiden jalanan yang membuat penumpang bus atau si pengendara sepeda motor panik dan tergesa ngebut.

Ia hantu baik-identik dengan Casper. Saya yakin, ia memang hantu baik, karena berasal dari manusia baik. Memang Marciena Vilanxa itu cuma lulusan lycee desa, yang terpaksa pergi ke Los Bravos untuk bekerja di pabrik. Supaya bisa punya penghasilan, bisa menabung sen demi sen agar suatu ketika mampu kuliah. Setidaknya bila ada dana sisa selalu dipakai Marciena Vilanxa buat sekedar membeli buku apa saja di loak, dan gairah terus membacanya terus berkembang dan bercabang-cabang ke aneka bidang. Tapi, nyatanya, Marciena Vilanxa itu lebih banyak mengumpulkan koran bekas, yang dibeli kiloan, mengumpulkan guntingan (kliping) artikel-artikel pengetahuan yang kemudian ditempelkannya pada buku tulis bekas.

Tahun demi tahun mempelajari semua itu. Dengan ikut menambah pengetahuan dengan ikut pendidikan di Persatuan Buruh. Mendengarkan siapa pun berbicara. Ikut berdiskusi, dengan berpendapat dan menanyakan banyak hal tentang pendapat orang lain. Aktif mendapat beberapa pelatihan. Ikut penyadaran. Mendapatkan keberanian berpendapat karena adanya dari back up advokasi. Karenanya semakin nyaring berbicara tentang hak-hak kaum buruh yang dirampas oleh jam kerja yang panjang, upah yang minim yang bahkan sukar memenuhi kebutuhan hidup minimal di kota, dan depolitisasi sengaja yang membuat buruh tak bebas buat berserikat menuntut hak atas keuntungan perusahaan yang melimpah tapi dikutip oleh aparat Negara yang koruptif dan tak bertanggung jawab, dan seterusnya. “Tapi apa itu tidak berbahaya?” tanyaku.

Marciena Vilanxa tersenyum. Katanya, “Memang itu berbahaya, tapi harus ada yang mau merintis-supaya di satu hari, nanti, perubahan terjadi. Buruh sejahtera….” Saya tersenyum-bangga. Marciena Vilanxa itu salah satu lulusan lycee desa kami, anak didik kami yang terbaik, muridku, karena kini pengetahuannya telah melampauiku, meski kemiskinan telah membuatnya tidak bisa total mengeksploitasi potensi ingin tahu dan berpengetahuan, hingga ke tingkatan sarjana, bahkan S-2 atau doktoral. Tapi kehausan akan pengetahuan itu amat tinggi, dan itu sudah terdeteksi sejak ia jadi salah satu murid dalam perwalianku, ketika ia sering bertandang ke rumah buat membaca koleksiku setelah buku-buku di perpustakaan lycee habis dibacanya.

Setelah kerja, ketika liburan, ia sering sengaja mampir-seakan-akan rumah dan orang tuanya itu ada dua. Aku ingat, Marciena Vilanxa selalu memakai uniform tak resmi, karena tak ada duit lebih untuk membeli pakaian baru. Uang sisa dicadangkan untuk membeli bacaan di loak, serta sisa dari sisa itu yang dipakainya untuk ongkos pulang kampung dan ketika berangkat lagi. Memburu kerja shift malam, dengan berangkat siang, agar bisa mampir dulu ke tempat kos untuk memakai baju kerja. Bukan: celana jins, kaus murahan atau kaus promosi dagang, dan jaket lusuh.

Dan dengan uniform seperti itu, tubuh penuh darah Marciena Vilanxa itu digeletakkan dan kemudian berpura-pura ditemukan-berbareng rohnya kelayapan seperti layang-layang yang putus benang, men-jaul ingin ke awan tapi dipaksa benang ingin terus hidup untuk kembali ke bumi. Meski terlihat bila jaket itu dipaksakan buat terpakai, sebab mungkin ia disiksa dalam keadaan bertelanjang, seperti fakta kaus promosi bumbu masak yang tak terlalu berlumuran darah. Kaos dan jaket yang diabaikan, sengaja jadi bukti yang disisihkan saat dikesankan menyertai prosesi panjang dari berlebihan pada celana jins melorot, dan celana dalamnya yang dibuka paksa dan diturunkan ke paha, sebelum selangkangan dan vaginanya robek dirudapaksa, lalu dipakaikan lagi hingga darah rembes di pinggang, pantat, dan paha belakang-mulut disumbat bra.

Saya tak tahu kapan mayat itu dibuang ke sana, tapi roh Marciena Vilanxa terus kelayapan ke mana-mana, mencari tubuhnya. Sesaat saya hendak bilang-dengan ritus voodoo-bahwa itu pendekatan yang salah, karena seharusnya: mencari tahu kapan ia mati, hingga di saat itu juga akan ditemukan tempat ia dibunuh dengan petunjuk saat tubuh bertransformasi jadi mayat. Dan dengan tidak perlu bertemu tubuh lagi Marciena Vilanxa akan tahu, lalu ikhlas melayang sebagai uap air diserap awan keabadian, mengembun di surga dan tidak menitik menjadi gerimis berpelangi di bumi ini. Setidaknya sejak ia ditemukan, dan kami segera tahu bahwa itu mayatnya Marciena Vilanxa, salah seorang warga kampung kami.

Tapi siapa yang telah membunuh? Kami mengendusnya, tapi kami tidak berani mengatakannya bahwa awal dari semua itu demo buruh meminta peningkatan kesejahteraan, meminta peningkatan upah lembur, serta adanya cuti haid tanpa potongan upah bagi para pekerja wanita. Kata si beberapa teman sekerja, kepada Serikat Buruh, Marciena Vilanxa diambil dari tengah-tengah keriuhan demo. Tapi mereka terus memaksa kami agar percaya penuh pada cerita versi mereka: Marciena Vilanxa mati diperkosa, karena ia sembarangan berbicara dan berkenalan dengan sembarang lelaki dalam bus ketika pulang di hari teman-teman buruhnya berdemo.

“Ia anak baik,” kata si seseorang asing itu, “sementara temannya berdemo tidak keruan, karena terprovokasi: ia memilih pulang ke kampung. Di tengah perjalanan itu, mungkin, keluguan membuatnya ramah berkenalan dengan sembarangan lelaki, yang kemudian membius-serta memperkosanya dengan sadis.” Kami terdiam. Saya seperti bersua dengan Marquis de Sade-kami membaca ceritanya, dari buku di perpustakaan lycee, di kampung gersang di bukit-bukit gundul di pedalaman Guyana Prancis bagian barat. Saya tahu persis: pemerkosaan tidak mungkin meninggalkan bekas luka robek-koyakan seperti hasil pembajakan liar dengan singkal bajak Caterpillar, seperti luka melahirkan bayi sepanjang tujuh puluh lima sentimeter dengan berat dua puluh lima kilogram.

Ketika membayangkan rudapaksa itu, saya jadi mual. Ada nyeri yang rasanya hanya tuntas bila semua itu diteriakkan ke tengah dunia-karena tidak berani meneriakkannya, maka seluruh siang dan malam kami jadi menyakitkan. Sekaligus sangat menakutkan karena di kampung makin sering terlihat orang asing berkeliaran, menyelonong ikut mengobrol, atau diam-diam menguping-hingga kami tidak bebas berbicara. Kami dimata-matai, untuk sesuatu yang dilakukan mereka; kami diawasi untuk satu cerita yang sebenarnya tak diketahui apa dan bagaimana persisnya. Dikontrol dan diblokir sebab kami tahu persis siapa Marciena Vilanxa, karena yakin tidak mungkin Marciena tidak ikut berdemo, sekaligus tidak mungkin Marciena pulang kampung, dan diperkosa-Marciena Vilanxa atlet capoeira.

Sesuatu yang membuat saya yakin, sekaligus semua orang kampung amat tahu: Marciena Vilanxa itu tak mati diperkosa. Itu kalimat sangat absurd, amat fiksi surrealistik sekali saat dikatakan mereka, bahwa (kini) si pemerkosa itu sedang diburu polisi. Marciena Vilanxa telah diambil di tengah arena demo-seperti sudah dikatakan: ada orang yang berani bersaksi, meski kesaksian itu ini cuma dibisikkan di antara kami, sebab orang asing itu tidak mau ada yang tahu dan berani bersaksi. Terbukti, selalu ada orang yang tidak tahu malu mengawasi kami, bahkan yang pindah menetap sebagai si warga-bagai baji yang dipakukan ke tenggorokan, agar kami ini hanya menceritakan Marciena Vilanxa diperkosa, bukan dibunuh dengan amat bersungguh-sungguh.

Kenapa ia dianggap berbahaya?

Tapi kodrat kebenaran sejati itu tak pernah mau dan bisa dimanipulasi, mustahil dapat rapat disembunyikan. Meski tanpa ritual voodoo, terkadang saya berjumpa roh Marciena Vilanxa, yang datang separuh mencari tubuh di tempat di mana dulu sering mampir: lantas dalam bisu, tak saling berbicara, kami berpandangan. Terkadang saya sengaja membaca ulang buku kliping tempelan berita-berita koran, artikel-artikel analisis jurnalistik, esai atau opini tentang sebab kematiannya dalam konteks jejaring gerakan perburuhan, di negara yang butuh buruh kecil berupah murah agar laju investasi PMA terus meningkat, dan suap yang mengkonkretkan itu dalam kolaborasi yang bikin buruh teralienasi. Sebuah kolaborasi kapitalisme internasional.

Marciena Vilanxa tercenung menatap aku membaca. Matanya berkaca-kaca, dan saya pun teringat pembicaraan tentang rintisan kecil untuk memulai agar di satu hari para buruh bisa sejahtera, kemudian melengos sambil beranjak pergi. Mungkin pergi ke pabrik tempatnya bekerja, dulu. Mungkin pergi ke pos gelap Serikat Buruh, yang jadi tempat berdiskusi untuk memahami pengkondisian sosial-politik, yang merugikan ketahanan ekonomi buruh. Mungkin pergi ke tempat (dulu) berdemo dan kemudian diciduk. Dan mungkin mencari tempat ia dipaksa mengakui apa-apa yang sebenarnya tak diketahui. Dan mungkin mencari orang yang menyiksanya dan sekaligus mencari alat penyiksanya-sesuatu yang tidak diketahui dan mustahil ditelusuri.

Roh Marciena Vilanxa memang tidak pernah mengatakan apa-apa, bahkan sekedar dengan bisu isyarat tangan atau gestur mimik. Ia cuma kebingungan, dan senantiasa ada dalam kebingungan yang memekat itu. Senantiasa terpukau oleh fakta: kok aku berada di luar tubuh, dan ada di manakah kini tubuh itu. Tapi bila tubuh itu ditemukan-yang pasti telah hancur-apa ia berani untuk bisa hidup lagi dengan kondisi tubuh sangat mengenaskan seperti itu? Kondisi yang sebaiknya harus berakhir di termin mati ketimbang hidup koma saat roh terus ngotot bertahan dalam tubuh tapi tidak bisa digerakkan sebagai bagan otonom hidup-selain sakit yang terus menyiksa?

Dengan kata lain-terima kasih pada Kasih Allah pada manusia yang teraniaya sehingga tubuhnya rusak-bila tubuh itu ditemukan serta dirasuki roh lagi, apa itu bukan suatu fenomena kehadiran yang menyiksa yang akan membuat selamanya akan menderita sakit, hingga itu terlihat lebih tragis lagi? Bahkan-bila itu mungkin-di saat sebelum benar-benar terjaga sebagai zombie yang dihidupkan lagi, ia akan segera didatangi orang asing itu, dan ditembak di kuduk dari belakang-tersandar di pembaringan dan ditembak dalam jarak pendek di ruang UGD Rumah Sakit Los Bravos-tanpa matanya yang ditutup? Bahkan, mungkin, dibawa ke pegunungan, ke pojokan hutan liar di perbatasan barat, digorok, dan mayatnya dilemparkan ke jurang-atau dibuang ke laut Tanjung Jeruk, agar dimangsa ikan hiu.

Tapi bagaimana cara mengatakan hal itu, kalau Marciena Vilanxa tidak mau lagi berkomunikasi, karena takut semua kebenaran tentang dirinya itu akan membuat kami mengalami nasib seperti dirinya-padahal dengan tahu semua itu pun kami tidak akan bisa mengatakan hal itu, sebab kami dimata-matai oleh orang asing. Kami-dengarkan bisikanku ini, Marciena Vilanxa: takut.

Krajan, 2018

Catatan:
lycee: setara sekolah lanjutan dalam pendidikan model Prancis
munting: cenderung bergerak ke kiri atau kanan, dan berputar-putar tak terkendali
gedeg : tidak stabil, bergetar dan bergoyang kuat dan cepat ke kiri dan ke kanan
jaul: gerakan awal akan meloncat dan naik ke atas, entakan awal dari terbang liar
capoeira: seni bela diri khas Brasil dengan gerakan tangan dan kaki

Beni Setia lahir di Bandung pada 1954. Ia menulis cerpen, puisi, dan esai sosial-budaya. Tinggal di Caruban, Jawa Timur

[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 11-12 Agustus 2018