Sanur – Bayam Pasar Banjaran

Karya . Dikliping tanggal 30 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Sanur

Sebelum sampai di Bali, Le Mayeur dinujum mimpi:
Segala tanda hidup terdampar di semenanjung asing
Camar-camar melayang dari lain dunia
Memburu kepiting kecil di celah karang
Menyelinap ke dasar bumi, mengendap jadi lumut
Percaya ditakdirkan sebagai asal muasal
                      lahirnya zaman yang baru
Bagai dua karib lama
Ia saksikan seekor ikan berbagi maut
                      bersama segugusan rumput laut
                      di sela puing kapal yang karam
Bulan di langit menerangi masa kecilnya
Di hutan musim dingin Belgia
Berpuluh-puluh tahun jauhnya dari situ
Bulan yang itu juga
Mengingatkan pada pesisir Italia
         di mana layar dan temali bertaut mengenangkan
         harum asin angin Asia
Atau teluk Benggala, teluk tanah jajahan
         dengan seorang anak gembala
         membagi roti dan susu kepadanya
                dengan satu kuli angkut
                 terseok di jalan bawah menara
dalam kanvas yang tak kunjung terselesaikan
Mimpi debu dikubur laut pasir
Ia seketika terjaga di antara gaung lonceng
Kelasi kapal menambat sauh
                      usai bertahan melawan badai waktu
Denpasar, 2015

Bayam Pasar Banjaran

Dua porsi bayam, asin seperti gerimis pagi hari
Hijau melayu saat tersaji pada piringku
Sejak kapan ia lama dimasak
Atau dipetik petani umur berapa;
Apa peduli waktu?
Bagaimana masa muda si lalat mati
Hinggap di sela daunnya
Gagal menyamar biji jagung dan irisan bawang putih;
Apakah maut mau tahu?
Suatu hari, bila kudapat sebuah takdir
Jadi tumbuhan bayam di kebun tua di manapun
        atau liar di jalan-jalan di manapun
Kubiakkan diriku, sebanyak-banyaknya
Melawan usia waktu yang selalu pongah menatapku
Menepis kerling maut yang mengintai hidup matiku
Daunku yang lebat, dipetik para petani
Dihidang sebagai sarapan pagi, di sini
Daunku yang hijau lebat
Dulu menaungi kumpulan sarang semut
Tidur berlindung di lelap akarku
Depok, 2015
Ni Made Purnama Sari lahir di Klungkung, Bali, 22 Maret 1989. Ia lulus dari Jurusan Antropologi Universitas Udayana dan kini melanjutkan studi di Universitas Indonesia. Puisinya antara lain termuat dalam antologi dwibahasa Couleur Femme (2010).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ni Made Purnama Sari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 30 Agustus 2015