Saran Seorang Pengarang

Karya . Dikliping tanggal 2 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
Ikra memberikan tanggapan awal untuk karya pertama Radit yang dimuat di sebuah surat kabar Jakarta pagi itu.

Kalau menulis jangan meliuk-liuk begitu. Langsung saja. Lugas. Gambaran yang melelahkan itu, misalnya, kutemukan pada kalimat “Tubuhku saat ini membutuhkan asupan karbohidrat, karena memang waktunya telah tiba. Tak dapat ditunda lagi. Karena keterlambatan akan membuat lambungku menjerit. Itu yang tidak kuinginkan’. Mengapa tidak disingkatkan saja menjadi ‘Aku lapar. Kalau tidak segera makan lambungku sakit’.

Radit yang cerpennya baru pertama kali dimuat di surat kabar, mengangguk mengiyakan.
“Kalimat-kalimat pendek jauh lebih kuat. Bertele-tele itu penyakit, metafora juga jangan terlalu banyak.”
Pengarang muda yang masih merasa dirinya perlu banyak belajar itu mengangguk lagi. Ini yang membuat Ikra senang. Pendapat dan sarannya pun mengalir dan melimpah-ruah tidak tertahan.
Ilustrasi karya Bambang Heras
“Karya yang rumit dan sukar dipahami walaupun telah dibaca berkali-kali, bukanlah karya yang baik. Karangan yang rumit karena pengarangnya tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya, karyanya juga keruh. Nah, sekarang ini banyak orang yang tidak lagi dapat berpikir jernih, termasuk pengarangan sehingga karangan-karangan yang super sulit sangat banyak beredar. Pesan moralnya tidak jelas dan apa yang sebenarnya diinginkan pengarangnya tidak ada yang tahu.
Mereka sangat senang disebut pengarang kontemporer, karena bagi mereka kata kontemporer itu sendiri memiliki makna khusus, seakan-akan mengangkat mereka memasuki sebuah status sosial baru yang lebih tinggi. Padahal arti kontemporer menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat yang diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional adalah pada waktu yang sama, semasa, sewaktu, pada masa kini dan dewasa ini. Kalau kamu tidak percaya silakan periksa di kamus yang kusebutkan itu.
Mereka lebih tersanjung lagi jika dikelompokkan sebagai avant-garde yang maknanya golongan perintis/pelopor (terutama dalam seni). Menurut Kamus Inggris-Indonesia susunan John.M.Echols dan Hassan Shadily. Gagah, kan? Ada pengarang yang seperti itu, bahkan mungkin banyak. Menjadi pengarang sebaiknya tidak berangkat dari pemikiran seperti itu. Jadikanlah mengarang itu seperti berolahraga. Berolahraga untuk sehat bukan untuk menjadi juara PON, SEA Games, Asian Games atau Olimpiade. Artinya, selagi masih kreatif menulislah terus. Selagi sehat teruslah berolahraga.
Kalau kamu sering membaca karya sastra, kamu pasti merasakan mana karya sastra yang ditulis dengan jujur dan sepenuh hati dan mana yang berambisi untuk menjadi perintis atau pelopor. Karya yang baik tidak harus karya perintis atau pelopor itu. Pramoedya itu bukan pelopor, tapi siapa yang berani membantah bahwa karyanya baik. “Pulang” karangan Toha Mochtar tetap menyentuh, mengharukan, indah dan enak dibaca karena ditulis dengan jujur lebih dari 50 tahun lalu. “Mercy” tulisan pemenang Hadiah Nobel, Toni Morrison, yang berkisah tentang penderitakaan warga kulit hitam di Amerika tidak membuat pembaca mengerutkan kening, begitu pula karya para pemenang Nobel lainnya.
Karya Alice Munro, penulis cerpen pemenang Hadiah Nobel tahun 2013 itu, enak dibaca karena ditulis dengan jernih tanpa tendensi bersulit ria. Memang aku baru membaca dua cerpennya yaitu “Dear Life” (2013) dan “Corrie” (2012). Kau harus tahu ketika Alice Munro menerima hadiah Nobel, Akademi yang memberikan hadiah itu menyebutnya ‘master of the contemporary shorts story’. Bacalah karya-karya Munro yang dapat kau beli di toko buku (akan tidak etis jika menyebutkan nama toko buku itu). Bacalah dan bacalah. Gunakan bahasa Inggrismu yang lumayan baik itu untuk membaca karya-karya dunia. Jangan jadi pengarang ‘seperti katak di bawah tempurung’ yang hanya membaca karya-karya kawan sendiri.
“Kalau kamu tetap ingin dikelompokkan sebagai avant-garde boleh saja. Cuma kalau kamu tidak berhasil, jangan kecewa atau berhenti mengarang. Banyak pengarang muda yang juga mati muda. Maksudnya, setelah merasa tidak berhasil menjadi tokoh penting dalam sastra Indonesia, mereka berhenti menulis. Bisa juga kekeringan ide, karena malas membaca karya sastra yang baik dan sibuk dengan karyanya sendiri. Kalau kamu mau menjadi pengarang, jadilah pengarang seumur hidup, bukan karena terlalu banyak waktu luang, iseng-iseng, atau mengisi waktu sambil menunggu hasil lamaran kerja yang kamu kirimkan. Jangan pula kamu berhenti mengarang karena kamu menjadi birokrat yang memegang jabatan penting”.
Ikra menatap Radit yang dengan tekun mendengarkan orasinya. Radit merasa dirinya dibekali dengan berbagai saran dan nasihat yang memang dibutuhkannya.
“Ada yang mau ditanyakan?”
“Tidak”
“Tidak?”
“Rasanya semua sudah lengkap. Saya tinggal melaksanakan anjuran itu.”
Belum. Itu baru awal. Masih banyak yang lain yang harus kamu ketahui. Kalau karyamu telah banyak dan kamu ingin menerbitkannya dalam sebuah buku, jangan lupa meminta pengantar dari pengarang terkenal. Di sampul belakang buku juga jangan lupa dicantumkan pendapat sejumlah pengarang, dosen, redaktur atau tokoh penting. Bukumu bisa laku dengan pengantar dan komentar itu.
Jangan lupa sebagai pengarang kau harus sabar. Jika mengirimkan karangan ke sebuah media cetak kau harus siap untuk menunggu Godot (Merujuk kepada karya Samuel Beckett, “Waiting for Godot”). Artinya, tidak ada kepastian kapan karya itu akan dimuat. Sebelum ada kepastian karyamu ditolak atau dimuat, jangan coba-coba mengirimkan karanganmu itu kepada media cetak yang lain. Kalau itu kau lakukan, kau akan masuk “daftar hitam” para redaktur yang sangat menentukan itu.
Di Jakarta ini ada redaktur yang suka sekali memberi pelajaran mengarang kepada para penulis baru. Kalau ajarannya dituruti karya pengarang itu pasti akan muncul dan tidak jarang dipuji pula. Karena itu karya bagus para pengarang lain sering ditolak sang redaktur, karena para pengarang itu tidak mau mematuhi “perintah” sang redaktur. Kamu harus tahu, nepotisme juga ada dalam dunia karang mengarang.
Selain itu kamu harus dapat menangkap kecenderungan yang ada. Misalnya, kalau ada sayembara menulis fiksi, tulislah yang kedalamannya luar biasa sehingga untuk memahaminya orang harus minimal membacanya sepuluh kali. Karena para juri sekarang ini umumnya menyukai karya seperti itu. Eh, kok saranku ini bertolak belakang dengan saran yang kusebutkan tadi, ya?
Apa lagi, Radit? O, ya, aku heran mengapa kau memilih menjadi pengarang, profesi (kalau ini boleh disebut profesi) yang sama sekali tidak menguntungkan secara ekonomi. Honorariummu yang akan kau terima kecil sekali, walaupun ada juga koran yang memberikan honorarium lumayan. Orang yang telah telanjur masuk ke dunia kepengarangan ini banyak yang mundur teratur. Nah, pengarang kreatif yang tidak mampu lagi menulis ini disebut ‘budayawan’. Paling tidak begitulah kata seorang penyair yang sangat serius menulis puisi. Bisa saja ini sinisme yang dilontarkan sang penyair karena ia merasa kesal karena media cetak dan media elektronik terlalu mudah menyebut seseorang dengan sebutan budayawan.
Ada lagi yang juga penting kusampaikan padamu. Jika kau mengarang janganlah semata-mata menggantungkan diri pada imajinasi betapa hebat dan liar pun imajinasimu itu. Banyak sumber yang dapat dijadikan titik tolak. Misalnya, sejarah, kondisi sosial politik, ekonomi, pendidikan, pelanggaran HAM, penegakan hukum dan lain-lain. Jadi karyamu akan memilih tempat berpijak dan tidak terus-menerus terbang di awang-awang karena tidak mampu mendarat di bumi.
Dengan banyak membaca karya sastra dunia kau akan tahu bahwa pengarang besar dunia Leo Tolstoy pernah menulis novel pendek berjudul ‘Hadji Murat’. Siapa menduga bahwa Tolstoy juga mengenal kata haji yang kita hormati itu. Ini fiksi sejarah yang bercerita tentang seorang pemimpin pemberontak Avar yang bersekutu dengan Rusia yang pernah diperanginya hanya karena rasa dendam. Jadi bukan tulisan murni fiksi tapi ada kaitannya dengan sejarah.
Seperti halnya kamu, saat ini banyak muncul pengarang muda. Mereka tidak peduli apakah disebut sastrawan dan kontemporer atau tidak. Mereka terus berkarya. Jika ada penulis resensi menyebut karya mereka beraliran realisme magis, realisme sosial, konvensional, surealisme, absurd, mereka tenang-tenang saja. Umumnya begitu. Tidak semua tentunya, karena ada juga yang membusungkan dada karena dipuji oleh penulis resensi. Disebutkan penulis resensi karena jumlah kritikus sastra saat ini sangat minim.
Mungkin kau bertanya-tanya mengapa karya sastra yang bagus jarang sekali difilmkan atau tidak ditoleh oleh para produser. Agar kau tidak terus bertanya-tanya, haruslah kau ketahui bahwa karya sastra adalah anak tiri yang terpinggirkan. Sudah anak tiri terpinggirkan lagi. Yang laris itu karya tulis populer yang dicetak belasan kali dan diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa asing. Mata para produser sangat tajam seperti mata elang. Karena itu mereka berani memfilmkan karya-karya populer itu yan dijamin pasti laris dan menggemukkan pundi-pundi. Terlalu banyak saranku kepadamu. Jangan-jangan ini melemahkan hasratmu untuk menjadi pengarang. Kalau itu yang terjadi alangkah berdosanya aku. Karena itu kusudahi di sini, Radit. Selamat mengarang.
SORI SIREGAR
Lahir di Medan, 12 November 1939. Bernama lengkap Sori Sultan Sirovi Siregar, mulai menulis sejak tahun 1960. Tahun 1970-1971, bersama Gerson Poyk jadi pengarang Indonesia pertama yang mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sori Siregar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 1 Maret 2015