Sarung Azan Simbah

Karya . Dikliping tanggal 9 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Gerimis turun ketika Bapak menutup telepon. “Masih banyak pekerjaan,” katanya.

Semenjak jadi mandor awal tahun ini, Bapak lebih giat bekerja. Memang dia sudah tak jadi kuli lagi, tetapi tak serta-merta bisa membuat dia leyeh-leyeh. Kini, Bapak sedang mengerjakan proyek pertama. Bapak tak ingin proyek itu gagal, sehingga kepercayaan pemodal hilang.

Semenjak Bapak memandori proyek di Batam, di rumah hanya ada aku, Ibu, Simbah, dan adik lelakiku. Adik sedang di TPQ, Ibu rewang di rumah Bude Nyami yang akan mengawinkan anak perawannya lusa.

Aku melangkah ke pintu rumah dan melihat ke luar. Gerimis kini telah menjadi hujan. Itu berarti aku harus melihat kamar Simbah yang lebih rawan bocor daripada kamar lain. Simbah berselimut tapih saat aku masuk kamar. Aku menghidupkan lampu neon di dekat pintu. Cahayanya membuat sarung kebanggaan Simbah yang tersampir di sampingnya terlihat jelas. Seingatku, Simbah jarang mengganti sarung itu, kecuali saat sedang dicuci sekali sebulan. Dia sendirilah yang mencuci. Biasanya saat pagi dan petang datang, dia akan mengenakan lagi.

Aku heran, meski telah dia gunakan puluhan tahun, sarung kotakkotak biruputih itu tak terlihat lusuh. Barang itu seolah baru dibeli tiga bulan lalu. Aku selalu bertanya bagaimana sehelai sarung bisa setahan itu. Namun kata orang-orang, sesuatu akan terus terlihat menyenangkan jika sang pemilik merawat dengan baik. Ia cermin kepribadian sang pemilik.

Aku masih ingat, dua tahun lalu Bapak bercerita tentang Simbah dan sarungnya. Kata Bapak, sarung itu hadiah dari Kiai Hasan untuk Simbah saat jadi juara satu azan sekecamatan.

“Ini sarung pilihanku. Pakailah. Kamu sudah begitu siap jadi muazin. Suaramu akan menuntun orang-orang mendekat,” kata Kiai Hasan saat memberikan sarung itu pada Simbah.

Kiai Hasan terkenal. Bahkan orang-orang menyebut dia waliyullah. Simbah senang bukan main. Bagi dia, sarung itu tidak sekadar hadiah atas prestasinya, tetapi juga amanah dari Kiai Hasan agar terus mengumandangkan panggilan Tuhan.

Kepercayaan itulah yang membuat Simbah benar-benar tak pernah meninggalkan salat lima waktu karena dialah penyeru bagi orang-orang agar mengingat Tuhan. Kecuali saat berada di tempat tertentu dalam keadaan tertentu, seperti berkunjung ke desa lain, Simbahlah yang jadi muazin. Orang-orang, termasuk aku, menyukai lantunan azan Simbah. Suaranya indah, halus, pas. Cara dia memainkan nada begitu unik, sedikit bercampur langgam Jawa.

Karena kemerduan dan keunikan itu, tak pernah ada yang protes saat Simbah azan. Azan Simbah sudah jadi bagian tak terpisahkan dari masjid kampung.

Namun manusia tak selamanya berada di puncak kejayaan. Waktu dan usia perlahan menjauhkan Simbah dari pelantang masjid. Aku masih ingat, dua tahun lalu volume suara Simbah jadi rendah, tak lagi begitu bertenaga. Pelan-pelan kejelasan pelafalan pun menurun. Kala itu aku melihat wajah Simbah tak begitu bersinar seperti sebelumnya. Barangkali dia tahu, kini giliran bagi muazin yang lebih muda.

“Memang sudah saatnya untuk kaum muda,” kata Simbah padaku. “Sana, kamu yang azan, Bu!”

Aku hanya menanggapi dengan senyum, tanpa melangkahkan kaki menuju ke masjid. Simbah bertambah sedih saat melihat kenyataan tak ada muazin tetap sebagai penerus. Masjid sepi karena hampir tak ada orang mau berazan. Orang-orang usia paruh baya, remaja, hingga anak kecil tak tertarik mendekati pelantang. Mereka sibuk bekerja dan bermain. Akibatnya, jumlah jamaah pun menyusut. Jika sudah masuk waktu salat, hanya ada beberapa orang berjamaah tanpa azan lebih dulu.

Bapak menuruni kelembutan suara Simbah. Dia juga mau mendekati pelantang. Sering kali dia menggantikan Simbah sebagai muazin, terutama saat sarung kebanggaan beliau dicuci. Namun pekerjaan membuat Bapak jauh dari kampung. Dia hanya bisa melantunkan azan di masjid kampung saat pulang.

“Kamu bekerja di sini sajalah, Man, biar ada yang jadi muazin di masjid kampung,” pinta Simbah saat Bapak pulang kampung. Bagiku, itulah buah kegelisahannya.

“Tidak bisa, Pak. Jika aku di kampung, sia-sialah apa yang sudah kukerjakan,” jawab Bapak.

Kulihat mata Simbah jadi sayu saat mendengarnya.

Keadaan masjid kampung tetap seperti itu; kehilangan muazin yang bisa mengajak orangorang mendekat ke rumah Tuhan. Azan makin jarang terdengar lewat pengeras suara masjid. Jika ada, yang melantunkan malah para musafir yang singgah untuk sembahyang dan beristirahat sejenak.

Hari demi hari kulihat Simbah makin sedih. Raganya makin tua dimakan usia, dan kurasa perasaannya tak bertambah tenang. Aku sedih saat suatu petang dia berusaha mendekati pelantang lagi. Dia mengucapkan takbir dan syahadat dengan pelan. Lalu saat masuk hayya ‘alaasshalaah, dia terbatuk-batuk, tak kuat melanjutkan.

Aku tak mampu melihat kejadian itu. Ada semacam keinginan menjadi muazin tetap masjid. Namun sebagian diriku menolak. Ada keraguan besar yang hadir dan menghalangi. Sebelumnya, Simbah juga telah berkali-ulang membujuk aku dan Adik menjadi muazin, hampir setiap hari malah. Namun berkali-ulang pula Simbah harus menelan pil pahit; aku dan adikku tak mengiyakan permintaannya.

“Kamu kok tidak mau jadi muazin kenapa?” tanya Simbah.

“Suaraku jelek, Mbah, tak sebagus Simbah atau Bapak. Orang lain pasti punya suara lebih baik,” balasku.

“Itu bukan alasan yang bisa diterima, Abu.”

“Bukankah dianjurkan memilih muazin bersuara indah, Mbah?”

Aku masih mencari alasan untuk membela diri, sementara Simbah menghela napas.

“Yang terpenting bukan itu, Abu. Sebagai muazin pilihan Nabi, Bilal memang punya suara begitu indah. Namun Nabi tentu tak hanya memilih karena hal itu. Lihatlah pula bagaimana keteguhan Bilal memeluk Islam dan berjuang untuk cinta-Nya kepada Allah. Itulah yang seharusnya kamu jadikan keyakinan. Dalam melantunkan panggilan-Nya, ketulusan dan kecintaanmulah yang seharusnya jadi pemicu untuk mengajak orang lain mendekat. Jika niatmu begitu, suaramu pasti menyenangkan didengar,” ujar Simbah lirih.

Aku tak bisa menjawab lagi.

Simbah terus melemah, sementara aku tetap tak mau menjadi muazin dan membiarkan masjid makin sepi. Kini Simbah sudah tak mampu berjalan, kecuali dibantu. Suaranya pun begitu lemah, sehingga tak bisa didengar, kecuali kita mendekatkan kuping ke mulutnya.

Ah, rasanya aku ingin meminta maaf pada Simbah atas ketegaanku tak mengiyakan permintaannya. Selama ini Simbah hanya meminta hal itu padaku. Tak pernah meminta yang lain. Dia tidak jadi kekanak-kanakan seperti orang-orang lain yang sudah lanjut usia. Mungkin juga Simbah seperti itu, tetapi mampu menutupi kesedihan.

Aku memandangi wajah renta Simbah lagi. Kali ini, kesedihan sama sekali tidak tampak di sana.

Aku keluar kamar, memandang ke luar rumah. Hujan masih cukup lebat. Sekarang sudah petang, jam dinding menunjukkan pukul 17.40. Astaga, aku belum salat asar. Ketiadaan azan di masjid membuatku sering lupa waktu salat.

Spontan aku mengambil sarung kebanggaan Simbah yang tersampir di dekat lampu. Aku berwudu dan salat di kamar sebelah. Sesaat setelah mengucapkan salam, aku mendengar suara azan dari kamar Simbah. Suara itu begitu kukenal, meski sudah lama tak kudengar. Tanpa menunggu lama, aku langsung ke sana. Kujumpai Simbah masih memejamkan mata. Namun bibirnya bergerak melafalkan kalimat demi kalimat azan begitu jelas.

Asyhadu an laa illaaha illallaahÖ/Asyhadu an laa illaaha illallaahÖ/Asyhadu anna Muhammadar rasuulullahÖ/Asyhadu anna Muhammadar rasuulullahÖ

Setelah dua kalimat syahadat itu, Simbah berhenti. Matanya perlahan terbuka. Dia memandang ke arahku yang memakai sarung kebanggaannya.

“Kamu sudah siap. Kamu lanjutkan,” ujarnya lirih, sebelum kembali memejamkan mata.

Aku memegang tangan Simbah dan memanggil-manggilnya. Namun dia hanya diam. Tak ada hayya ‘alaas-shalaah keluar dari mulutnya. (28)

Marcapada, 8 September 2018: 21.54 WIB

Abu Rifai, kelahiran Pati, 23 April 1999, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.


[1]Disalin dari karya Abu Rifai
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 7 Oktober 2018