Saya Menikahi Seorang Ateis

Karya . Dikliping tanggal 20 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

“Kalau keindahan surga hanya sebatas gambaran kitab suci atau imajinasi Dante dalam The Divine Comedy,” kata Siti Zindiki, istri saya, “maka aku tidak tertarik untuk mati.”

“Tapi hidup abadi itu cuma dongeng, Sayang,” kata saya. “Dan, setelah mati, Tuhan hanya menyediakan dua tempat untuk kita: surga atau neraka.”

“Bukankah sudah sering aku katakan,” katanya. “Bagiku, tuhan itu cuma anagram dari hutan, tahun, dan hantu. Atau kalau kau mau dengar yang lebih acakadut: nthau!”

“Sayang,” kata saya, “kamu boleh-boleh saja tidak percaya kepada Tuhan. Tapi bagaimanapun juga kamu harus percaya pada kematian.”

Jauh sebelum bertemu dengan Siti Zindiki, saya hanya seorang bocah dekil dari dukuh terpencil yang sudah terbiasa menyaksikan Pasukan Tentara dan Gerombolan Tiga Huruf [1] saling membunuh dengan mengatasnamakan Tuhan yang sama. Mereka berharap menang atau mati sebagai martir, tapi sampai sekarang saya masih belum bisa memastikan harapan pihak manakah yang benar-benar dikabulkan. Seperti semua orang yang tinggal di dukuh itu, satu-satunya harapan yang bisa saya banggakan adalah bertemu dengan hari esok; sekaligus menjadikan rasa pesimistis sebagai belenggu yang senantiasa menggerogoti nalar kebebasan liar di puing-puing benak masa kecil saya. Tapi sejujurnya: saya harus berterima kasih kepada siapa pun yang telah membawa perang ke dukuh kami, karena situasi tersebut sangat berandil besar dalam membentuk diri saya hingga menjadi seperti sekarang.

Meskipun demikian, perang memang bukan satu-satunya ancaman paling menakutkan yang mengoyak-ngoyak rasionalitas penghuni dukuh kami—tidak punya listrik dan akses informasi yang memadai saja sudah membuat kami tertinggal dalam semua hal nyaris setengah abad. Nyatanya, sumber bacaan yang tersedia di dukuh kami hanya Al-Quran dan kitab-kemitab kuno yang dijejali dengan huruf Jawi belaka, dan itu pun cuma didaras dengan serius oleh generasi lontok yang sudah kehilangan selera untuk menuruti godaan duniawi, sehingga hampir tidak ada seorang pun yang melek aksara Latin atau memahami fungsi angka melebihi hitung-hitungan jumlah ternak. Karena itu, pada masa-masa awal ketika Pasukan Tentara mulai membangun barak minimalis sebagai mastautin sementara, banyak warga yang melempari tempat itu dengan bongkahan batu dan balok kayu hanya karena menemukan sebuah buku saku UUD ‘45 milik salah seorang tentara yang tercecer di jalanan dan mereka curigai sebagai lembaran laknat yang berisi ajaran sesat.

Sayangnya, Pasukan Tentara malah salah kaprah dalam menanggapi aksi konyol tersebut, lantaran mereka menganggap sekumpulan warga yang protes itu sebagai utusan Gerombolan Tiga Huruf, sehingga menembak mati semua orang yang mencoba untuk melawan. Tidak dapat dimungkiri: perkara sepele semacam itu pada akhirnya berhasil membentuk kesepakatan kolektif yang membuat kami merasa hidup lebih nyaman bersama Gerombolan Tiga Huruf yang tidak menjanjikan apa-apa ketimbang bersama Pasukan Tentara yang berkoar-koar untuk membawa perdamaian dan kesejahteraan bagi dukuh kami.

Sebenarnya momen masa kecil yang paling saya ingat jauh lebih memilukan dari sekadar urusan orang dewasa. Setelah Pasukan Tentara menetap di sekitar area dukuh, kami merasa segalanya benar-benar telah berubah. Salah satu yang paling mencolok adalah hubungan harmonis yang terjalin antara warga dan Gerombolan Tiga Huruf.

Saban hari Jumat tiba—sementara orang dewasa dan Pasukan Tentara tengah mendengarkan khotbah dan menunaikan salat berjemaah di menasah-saya dan semua anak-anak dukuh berusia 7 sampai 10 tahun ditugaskan oleh Pak Kejurun [2] agar menyusup ke hutan secara berpasangan. Untuk menghindari pengawasan dari tentara, kami disuruh berjalan kaki dengan sembunyi-sembunyi menuju sebuah pondok reyot berdinding gedek yang terletak di tepi rimba. Di sana kami sudah ditunggu oleh seorang perempuan paruh baya yang menyerahkan sebuah berunang berisi makanan dan beberapa jeriken air bersih sebagai bekal harian bagi Gerombolan Tiga Huruf. Waktu itu kami masih terlalu kecil untuk memahami kenyataan, sehingga dengan diiming-imingi hadiah berupa beberapa butir guli, kami langsung menerima tugas itu dengan sukacita.

Saya lupa entah sudah berapa kali menjadi relawan dalam misi tersebut, tapi saya selalu mengingat misi terakhir yang membuat hidup saya berubah untuk selamanya. Saat itu saya ditugaskan untuk mengambin berunang yang berisi makanan, sedangkan Fathoni Wantona—teman saya yang berusia lebih tua dua tahun—bertugas menenteng jeriken. Seperti hari-hari berbahaya lainnya, kami, sepasang bocah polos, sedang meniti jalan lecak sembari bercerita ihwal serunya permainan guli yang akan kami lakukan setibanya di rumah nanti. Tapi tiba-tiba Fathoni Wantona merisak kebahagiaan semu itu dengan mengatakan bahwa kami berdua akan pulang ke rumah melalui jalan yang berbeda. Mulanya saya menanggapi ucapannya secara harfiah, sehingga di pertengahan jalan kami benar-benar memutuskan untuk berpisah. Namun, tidak lama setelah saya mengambil jalan lain melalui rimbunan semak belukar, sekonyong-konyong seorang tentara mencegat langkahnya. Untungnya saya masih sempat bersembunyi dan menyaksikan langsung momen tersebut.

“Bukankah tidak baik anak kecil main sendirian di tengah hutan?” tanya tentara itu sok ramah dan pura-pura tidak tahu. “Bawa bekal pula.”

Fathoni Wantona hanya diam.

“Biarkan paman menebaknya,” kata tentara itu. “Air dalam jeriken yang kamu bawa pasti untuk seseorang, kan?”

Fathoni Wantona masih diam.

“Oh, jangan-jangan dia bukan satu orang,” kata tentara itu gigih, “tapi banyak orang.”

Fathoni Wantona lagi-lagi cuma diam, tapi hanya sejenak.

“Paman benar,” dia mulai buka suara. “Ini memang bukan untuk satu orang, tapi untuk puluhan orang. Tapi Paman salah kalau mengatakan ini minuman. Sebenarnya ini obat kebal.”

“Ha-ha-ha…,” tentara itu tergelak dengan tawa yang meremehkan.

Saya Menikahi Seorang Ateis“Aku serius, Paman,” kata Fathoni Wantona. “Paman pasti belum tahu bahwa orang-orang yang ingin Paman temui itu tidak mempan ditembak. Itulah sebabnya semakin hari mereka bertambah banyak. Tapi berjanjilah Paman tidak akan memberi tahu siapa pun tentang rahasia ini, termasuk kepada mereka. Sebab, kalau mereka tahu, aku pasti akan dibunuh.”

Tentara itu mengernyit.

“Kalau Paman tidak percaya pada omonganku,” kata Fathoni Wantona meyakinkan, “mari kita buktikan.”

“Caranya?”

“Aku akan menuangkan air ini ke seluruh rambutku,” katanya. “Setelah itu Paman boleh menembak kepalaku.”

“Jangan bergurau, Nak!” kata tentara itu kaget.

“Aku bersungguh-sungguh, Paman,” kata Fathoni Wantona.

Tentara itu tampak wagu karena tidak bisa menyembunyikan kebimbangannya. Dari gelagat dan delik matanya yang tidak pernah bisa saya lupakan, saya sangat yakin dia termasuk golongan orang yang percaya pada mitos dan hal-hal adikodrati lainnya. Karena itu, dia hanya termangu dan berkeringat dingin menyaksikan Fathoni Wantona yang tengah masyuk menuang dan mengusap sisa tetesan air dari jeriken yang ditentengnya hingga merata ke seluruh rambut dan kepalanya.

“Aku sudah siap, Paman,” kata Fathoni Wantona. “Sekarang Paman boleh menembakku.”

“Kamu jangan main-main, Nak,” kata tentara itu ragu.

“Aku bersungguh-sungguh, Paman,” kata Fathoni Wantona mengulangi ucapannya. “Bergegaslah…, sebab kita tidak punya banyak waktu. Aku takut salah seorang dari mereka melihat kita; dan jika itu terjadi, aku pasti akan dibunuh.”

Tanpa berpikir panjang, tentara itu langsung mengokang pelocok senapannya. Setelah itu, dengan tangan gemetaran, dia melepaskan sebuah tembakan dengan suara yang menggema ke seantero hutan sehingga membuat sekumpulan burung kucica terbang berhamburan karena merasa terusik. Tentu saja peluru yang dilepaskan oleh senapan itu berhasil menembus kepala Fathoni Wantona, sehingga tentara itu berkaru setelah menyadari kedunguannya—persis seperti orang tulu. Dalam keadaan kalut, saya langsung lari kalang kabut sonder mengacuhkan segala kemungkinan yang barangkali akan membuat saya mati. Dari kejauhan, saya masih sempat mendengar satu suara tembakan lagi.

Jauh setelah peristiwa itu, takdir mempertemukan saya dengan Siti Zindiki; hingga kami menikah dan saling bersawala sebagaimana percakapan di awal kisah ini.

“Bagi saya,” kata Siti Zindiki, “kematian itu hanya gejala alamiah biasa.”

“Itu karena kamu belum mengalaminya, Sayang,” kata saya.

“Kamu bicara seperti itu seolah-olah sudah pernah mati saja.”

“Saya memang belum pernah mati,” kata saya. “Tapi, ketika negeri ini masih dilanda perang, saya telah menyaksikan banyak momen kematian yang mengerikan.”

“Untuk masalah jumlah, barangkali kamu menang,” katanya. “Tapi apakah kamu pernah melihat ayahmu menembak kepalanya di hadapan matamu sendiri?”

“Tidak.”

“Saya pernah,” kata Siti Zindiki. “Seharusnya saat itu saya masih sempat untuk menghentikan ayah. Dulu saya percaya tidak ada orang yang lebih baik ketimbang dia. Tapi, sebelum tewas, dia masih sempat menulis sepucuk surat pengakuan yang membuat saya terperanjat. Katanya, sewaktu perang masih berkecamuk, dia pernah menembak kepala seorang bocah di tengah hutan; dan peristiwa itu membuatnya dihantui oleh rasa bersalah di sepanjang sisa hidupnya. Meskipun sesaat setelah membunuh si bocah dia menembak betis kakinya sendiri sebagai cara untuk menebus dosa, tapi hal itu sama sekali tidak membantu. Sebagai wasiat terakhir, dia meminta kami—keluarga yang dia tinggalkan—agar tidak pernah mendoakannya untuk masuk surga. Sejak saat itulah saya mulai memikirkan arti kebaikan yang pernah dia lakukan. Pada akhirnya saya putus asa sehingga menyelesaikan ikatan sepihak dengan Tuhan yang membuat saya yakin bahwa agama tidak lagi saya butuhkan. Nah, sekarang coba kamu ceritakan, dari sekian banyak momen kematian yang telah kamu saksikan, manakah yang paling membuatmu percaya kepada Tuhan dan kematian?”

Setelah mendengar ceracaunya yang mengejutkan, saya hanya termangu dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Untuk kali ini dan sampai akhir hidup saya nanti, saya benar-benar telah dikalahkan sepenuhnya oleh Siti Zindiki. Kalah telak!

Aceh, September-Oktober 2018

Catatan:
[1] Gerombolan Tiga Huruf adalah istilah untuk menyebut GAM. Istilah ini populer di kalangan orang Gayo yang mendiami wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah.
[2] Kejurun adalah pemimpin dusun dalam sistem adat orang Gayo.

Nanda Winar Sagita, lahir di Takengon, Aceh Tengah, pada 24 Agustus 1994. Saat ini bekerja sebagai pengajar sejarah dan penulis lepas. Karyanya dimuat di berbagai media massa. Kumpulan cerpen perdananya, Menjadi Pascamodern dalam 17 Detik, akan segera diterbitkan


[1] Disalin dari karya Nanda Winar Sagita
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 17-18 November 2018