Sayap-Sayap Ibu

Karya . Dikliping tanggal 11 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
IBU benar-benar merasa telah memiliki sayap. Sepasang sayang cahaya tumbuh di pundak kanan dan pundak kirinya. Dengan sayap-sayap itu, Ibu pun mengepak terbang mengikuti laju pesawat, mengarungi awan putihi yang menghampar bagai samudera kapas. Pandangan heran para penumpang pesawat tak dihiraukannya. Begitu juga teguran pramugari agar Ibu duduk manis dengan mengenak seatbelt di kursinya.
“Di dalam pesawat tingkah ibumu benar-benar aneh,” tutur Bapak, yang mendampingi ibu pergi umroh dalam usia yang sudah sangat tua. “Masak ibumu mau terbang keluar pesawat dengan mengepak-ngepakkan kedua tangannya. Mungkin ngelindur jadi burung ya,” tambahnya sembari menggeleng-gelengkan kepala. 
***
Jauh-jauh pulang kampung, aku gagal mendengar kisah heboh penerbangan pertama Ibu itu langsung dari mulut Ibu sendiri. Pulang umroh Ibu hanya tergeletak lemas sambil memegangi perutnya dan sesekali mengaduh kesakitan, karena mag-nya kambuh dan sangat parah gara-gara perutnya kosong di dalam udara dingin kabin pesawat selama berjam-jam.

“Ibumu hanya makan siang di Makkah, sebelum berangkat ke Jeddah. Sejak itu tak mau makan lagi. Tiap ditawari makan, tak pernah mau. Katanya masih kenyang, dan mau makan setelah sampai di rumah saja,” tutur Bapak.
Parahnya, di Bandara Jeddah, Ibu sudah harus menunggu enam jam lebih dalam suhu dingin ruangan ber-AC dan perut lapar, karena pesawat delay, dan Ibu tetap tidak mau makan dengan alasan sama, masih kenyang dan akan makan setiba di rumah saja.
“Dalam perjalanan pulang, di dalam pesawat, ibumu juga tetap tidak mau makan. Katanya, perutnya sudah terasa penuh dan sangat mual,” kata Bapak.
Aku sebenarnya ingin sekali mendengar bagaimana hebohnya Ibu, yang sangat takut naik pesawat, mengisahkan penerbangan pertamanya dalam usia hampir 80 tahun. Mungkin sangat ketakutan sampai tangannya gemetaran, takut melihat keluar jendela, atau tak henti-hentinya berdoa sambil berpegangan pada lengan Bapak.
“Sepanjang perjalanan menuju Jeddah ibumu tak pernah berhenti berdoa. Baru sampai di ruang tunggu Bandara Semarang saja ibumu sudah ndremimil berdoa,” tutur Bapak.
Mungkin karena sering menonton kecelakaan pesawat terbang di televisi, Ibu sangat takut naik pesawat. Tiap kali ditawari naik pesawat tiap pualng menjenguk kami di Jakarta, Ibu selalu menolak dan memilih naik bus atau kereta api. Alasannya selalu sama, takut pesawat yang ditumpanginya jatuh.
“Ibu, pesawat jatuh itu hanya sesekali saja. Namanya juga kecelakaan. Tiap hari ada ratusan pesawat yang terbang, dan jarang terdengar ada yang jatuh,” kataku suatu hari, ketika hendak membelikan tiket pesawat Bapak dan Ibu untuk pulang dari Jakarta ke Semarang.
“Tidak… tidak! Naik kereta api saja,” jawab Ibu kukuh. “Kalau dipaksa naik pesawat, lebih baik Ibu jalan kaki saja!” tambahnya.
“Huh, Ibu ini ada-ada saja. Memangnya Jakarta-Semarang dekat. Baru sampai Bekasi saja Ibu mungkin sudah pingsan. Apalagi musim kemarau begini, panasnya nauzubillah,” batinku.
Ibu memang suka berjalan kaki. Hampir tiap hari berjalan kaki kalau hendak pergi berbelanja ke pasar, yang jaraknya dari rumah kami di kampung dua kilometer lebih. Mungkin karena itu, Ibu panjang umur dan jarang sakit. Hampir seumur hidupnya hanya penyakit mag saja yang dideritanya di usia tua, karena mulai malam makan.
“Naik becak saja gimana? Kemarin Ibu lihat ada becak di depan kompleks,” kata Ibu, masih mencoba menghindari naik pesawat.
“Ah, Ibu. Becak itu hanya untuk membawa dagangan ke pasar, tak jauh dari kompleks. Kalau dipaksa ngantar Ibu ke Semarang, bisa klenger itu tukang becaknya yang sudah tua!” kataku sambil menahan tawa. “Sudah, nanti siang saya belikan tiket kereta api saja, ya!” tegasku akhirnya.
***
Ketika akan diberangkatkan umroh, Ibu juga tetap berusaha menolak naik pesawat. “Apa kalau umroh harus naik pesawat? Apa tak bisa naik kapal?” tanya Ibu.
“Duh, Ibu, seperti zaman Wali Songo saja, pergi haji naik kapal,” ledek adikku. “Tak ada lagi kapal haji seperti dulu, Bu.”
“Tapi, Ibu kan takut naik pesawat. Takut jatuh,” sahut Ibu.
“Jangan takut, Ibu. Tiap orang yang hendak terbang ke Tanah Suci diberi sayap cahaya oleh Allah. Ibu bisa terbang dengan sayap cahaya itu ke Tanah Suci, tapi tetap harus naik pesawat, agar cepat sampai. Insya Allah tak akan jatuh,” bujuk adikku.
Ibu tidak menyahut lagi. Matanya menatap jauh, seperti membayangkan sayap cahaya pemberian Allah itu tumbuh di pundak kanan dan pundak kirinya, dan terbang dengan sayap-sayap itu menuju Jeddah. Dan, di dalam pesawat, dalam perjalanan ke Tanah Suci, cerita ayahku, Ibu pun benar-benar merasa punya sayap. Sambil melihat hamparan awan putih di luar jendela, Ibu mengepak-kepakkan kedua lengannya seperti burung dan baru berhenti setelah kelelahan dan tertidur pulas.
***
Sebenarnya sudah lama Ibu ingin naik haji, bukan umroh. Anak pertama Pakde, kakak sulungnya, pernah menjanjikan akan menaikhajikan Ibu jika Ibu tidak mengungkit-ungkit tanah waris yang dikuasai keponakannya itu. Kakekku yang mantan kepala desa hanya meninggalkan sebidang tanah seluas 10 hektare, yang disebut sawah bengkok, sebagai pemberian pemerintah untuk pensiun kakek. Semula sawah itu berada di lokasi yang sepi, jauh dari kampung. Kemudian, setelah ada jalan lingkar, sawah itu persis berada di tepi jalan raya yang ramai, di luar Kota Semarang, di pinggir desa tempat kakekku dulu menjadi lurah, dan harga tanahnya pun menjadi sangat mahal.
Sejak masih menjadi sawah, setelah kakekku meninggal, tanah itu sudah dikelola oleh Pakde, anak sulung kakekku. Ketika itu, Pakde masih membagi padi hasil panen, setidaknya setahun dua kali, meski dengan pembagian yang tidak adil, karena Pakde terkenal pelit. Ibuku, misalnya, sering hanya mendapat bagian 10 unting (ikat) padi dan harus ditumbuknya sendiri. Padahal, hasil panen ada seribuan unting, tampak segunung, dan disimpan di lumbung padi milik Pakde yang besar.
Mungkin karena terlalu pelit, bahkan untuk makan sendiri saja terlalu berhemat, Pakde yang saat itu sudah menduda, menjadi sangat kurus dan akhirnya sakit-sakitan. Saat itulah Paklek, adik kandung Ibu, mencoba meminta bagian dari tanah waris itu kepada Pakde untuk dirinya sendiri dan untuk Ibu serta bude. Tapi, Pakde tetap bersikukuh dengan dalih yang tidak masuk akal, bahwa tanah itu miliknya atas pemberian pemerintah, dan bukan warisan kakek. 
“Sawah itu punyaku, pemberian pemerintah. Jangan diungkit-ungkit,” kata Pakde saat itu.
“Memang pemberian pemerintah. Tapi bukan untuk Kang Abu. Pemerintah memberikan sawah itu untuk Bapak, sebagai sawah bengkok,” jelas Paklek. “Karena Bapak sudah meningga, maka sawah itu menjadi harta waris, milik kita semua, anak-anak Bapak. Bukan hanya milik Kang Abu,” tambahnya. “Karena itu, sebaiknya sawah itu kita bagi-bagi.”
“Tidak bisa! Itu sawahku. Tidak bisa dibagi-bagi.”
Pakde tetap bersikukuh untuk menguasai sawah bengkok itu. Debat kusir pun terjadi, dan Pakde akhirnya yang harus mengalah.
“Biarpun kamu kerahkan orang sekampung untuk mengambil sawah itu, tak bakal saya berikan!” tantang Pakde saat itu, seperti disampaikan Paklek kepada Ibu. Paklek hanya bisa diam, untuk menghindari percekcokan yang memalukan. 
“Ya, sudah. Dosanya kang Abu tanggung sendiri ya!” kata Paklek akhirnya, sambil meninggalkan Pakde, dan keluar rumah Pakde dengan membanting pintu.
Sejak itu hubungan Paklek dan Pakde memburuk. Mereka tidak pernah bertegus sapa lagi, dan tidak pernah mengunjungi. Ibu, yang berada di pihak Paklek, ikut-ikutan mendiamkan Pakde. Tidak pernah menengok Pakde lagi meski sedang sakit. Pakde akhirnya meninggal tanpa memberikan wasiat yang jelas tentang kepemilikan sawah bengkok tersebut. Dengan menyogok aparat desa, sawah itu akhirnya dikuasai oleh anak pertama Pakde dan atas bantuan suaminya akhirnya tanah itu disertifikatkan atas namanya.
Mendengar tanah warisan itu disertifikatkan atas nama keponakannya tanpa membicarakannya dengan Ibu dan ahli waris lainnya, Ibu jadi marah-marah. Untuk meredam kemarahan Ibu, sang keponakan membujuk-bujuknya dan menjanjikan akan menaikhajikan Ibu. Menganggap bahwa ongkos naik haji sangat mahal dan sepadan dengan hak waris atas tanah warisan itu, Ibu menyetujuinya. Tetapi, kenyataannya, sampai 40 tahun kemudian, sampai Ibu sudah renta, anak Pakde itu tak pernah memenuhi janjinya.
“Kok tega-teganya ya, itu Sarmonah membohongi Ibu. Padahal, selama sekolah dulu dia ikut Ibu,” gerutu Ibu suatu hari.
“Ya sudah, tidak usah ditunggu, Bu,” sahutku, mencoba meredam kejengkelan Ibu. “Ibu pergi umroh saja ya. Kalau umroh, insya Allah, saya dapat memberangkatkan Ibu dan Bapak tahun ini juga. Kebetulan cucu-cucu Ibu, Alif dan Taufik, sudah bekerja, dan akan membantu mengongkosi Ibu.”
“Ya ya. Alhamdulillah. Bapakmu pasti senang,” Ibu menyambut tawaranku dengan gembira.
Aku sangat kasihan meihat Ibu menunggu pergi haji terlalu lama, sampai usia tua. Aku yakin Mbak Sarmonah, kakak sepupuku itu, hanya basa-basi pada Ibu agar tidak mengungkit-ungkit tanah warisan Kakek itu. Jika serius, pasti sudah dapat menaikhajikan Ibu sejak dulu, mengingatkan kekayaannya sudah berlimpah dengan beberapa mobil dan rumah mewah. Ia sudah lama membuka restoran di atas tanah warisan itu dan sangat laris. Ibaratnya, sudah “mandi uang”. Nanti saja, saat Ibu dan Bapak sudah mendaftar umroh, aku akan bantu tagih janji Mbak Sarmonah agar setidaknya dapat menambah uang saku Ibu.
Sebagai pekerja media dengan gaji pas-pasan, ibaratnya untuk makan dan biaya kuliah anak-anak saja harus ngutas sana-sini, tidak mungkin aku memberangkatkan Ibu dan Bapak naik haji. Aku rasa, umroh saja sudah cukup bagi Bapak dan Ibu, mengingat usianya juga sudah begitu sepuh. Yang penting, keinginan untuk mengunjungi rumah Allah (Kabah) terlaksana, meski hanya sekali dalam seumur hidup Bapak dan Ibu.
***
Di dalam pesawat menuju Jeddah, Bapak sempat kelabakan kehilangan ibu. Rupanya, diam-diam Ibu pergi meninggalkannya ketika Bapak sedang tertidur. Dalam keadaan setengah sadar karena kantuk yang berat, terlintas dalam pikiran Bapak bahwa Ibu telah keluar dari pesawat dan terbang di atas hamparan awan putih mengikuti pesawat yang ditumpanginya.
“Juminah, kamu di mana?” kata Bapak.
Tak ada sahutan dari Ibu. Pandangan Bapak segera mencari-cari kelebat sosok Ibu di atas hamparan awan putih itu yang kemudian membumbung lenyap ke balik awan.
“Bapak… Bapak…,” tiba-tiba terdengar suara dan seseorang menepuk punggungnya. “Itu istri Bapak ada di sana.”
Spontan Bapak melepas seatbelt, lalu berdiri, dan memandang ke arah yang ditunjuk oleh seorang pramugari yang sudah berdiri di dekatnya. Dan, di lorong kabin pesawat, di antara deretan kursi belakang, Bapak melihat Ibu sedang melangkah pelan-pelan sambil mengepak-kepakkan kedua lengannya, seperti burung yang sedang terbang melintas udara.
***
Jauh-jauh pulang kampung, aku benar-benar ingin mendengar kisah heboh Ibu itu, dari mulut Ibu sendiri, terbang dengan sayap-sayap cahaya ke Tanah Suci, bagai serunya dongeng Sepatu Raksasa yang bisa menerbangkan pemakainya ke negeri-negeri seberang, seperti kerap didongengkan Ibu padaku menjelang tidur ketika aku masih kecil dulu. ***
Kota Tangerang Selatan, Maret 2015
Rujukan: 
[1] Disalin dari karya Ahmadun Yosi Herfanda
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” 10 Mei 2015