Sayembara Tebu – Pemanen Kangkung Air

Karya . Dikliping tanggal 27 Desember 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Sayembara Tebu 

Berkumpullah rakyat Tuwawa, yang tua, 
yang muda, juga yang tak kasatmata.
Hari ini pemilihan raja. Langsung, 
umum, bebas, namun tidak rahasia.
Sebab buat apa menyembunyikan sesuatu 
yang kelak disingkap kulit durian dari 
Hutan Sinandaha? Dua pangeran, 
putra mahkota satu saja. Tebu paling manis, 
tebu paling air, bakal rebah ke mana.
Si Sulung mengunyah dari ujung paling muda 
Si Bungsu mengerkah dari jantung para tetua 
Langit menahan napas, Si Sulung makan hingga 
tuntas.
Si Bungsu berhenti, saat tebunya sisa sejari.
“Ini untukmu, ruas paling manis, paling air 
paling lembut seperti embun berisi roh pagi,“ 
ucapnya kepada jelata kusam yang berdiri 
di depan panggung sayembara.
Maka mengertilah rakyat Tuwawa, yang tua, 
yang muda, juga yang tinggal di sela-sela 
dedaunan rumbia. Mereka mengerti mana yang 
putra mahkota, mana yang cuma anak raja.
“Bukan nafsu yang tergesa-gesa. Hati saja 
keliru membaca pertanda,“ sesal Si Sulung 
yang meninggalkan negeri hari itu juga 
Mungkin jadi penyair, atau sekadar hendak 
mengadu kepada dewa-dewa.
Si Bungsu tersungkur, negeri larut dalam gula 
Gunung-gunung pun meramalkan inilah awal 
keruntuhan mereka.
Gorontalo, 2014 

Pemanen Kangkung Air 

Apakah air danau semakin surut 
atau kegembiraan saja yang terlampau dangkal?
Di Tabumela, gerimis bukanlah ajaran yang mesti 
dibela.
Peradaban mengapung 
dan lantai papan selalu bergetar 
tak peduli apa pun musimnya.
Alap-alap kerap hinggap di puncak tonggak 
mengincar geliat sidat di serabut akar tumbili 
yang hitam silang sengkarut serupa nyali.
Ayunkan, Tuan. Ayunkan parangmu 
tebaslah hijau kulit batangku.
Sebab kapan terakhir kali kau ke kota 
dengan sepasang keranjang rotan 
dan sepuhan karat pada rangka sepeda?
Tak pernah lagi kita menakar hakikat bawang putih 
atau membuhul tulang panggul yang meretih-retih.
Barangkali kota telah tak kuat menanggung beban 
layu seperti batang-batang kangkung 
yang berimpit dalam ikatan 
Atau mungkin kegembiraan saja yang terlampau 
dangkal?
Hasrat saja yang tak terhingga, selalu tak tersangkal.
Tuan yang memegang parang, kita sedang berada di 
Tabumela 
di sini, matahari adalah cinta yang tak harus diberi 
jeda.
Gorontalo, 2014 
Jamil Massa, lahir di Gorontalo, 14 Maret 1985.Menulis puisi, cerita pendek, dan esai. Sejumlah karyanya pernah dimuat di beberapa media seperti Harian Fajar, Tribun Timur, Jurnal Tanggomo, Jurnal Santarang, Jurnal Sastra (The Indonesian Literary Quarterly), Suara NTB, Indopos, Gorontalo Pos, Media Indonesia dan Koran Tempo. Sejumlah puisinya diikutkan dalam antologi puisi bersama Pohon Ibu (2012), Wasiat Cinta (2013), Gemuruh Ingatan (2014), Jalan Cahaya (2014), dan Nun (2015). 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jamil Massa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 27 Desember 2015