Sebatang Kamboja

Karya . Dikliping tanggal 6 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

AKU sebatang kamboja tua. Kini, 118 tahun usiaku. Aku lahir dan tumbuh di kuburan ini. Serangkaian duka, isak tangis dan raut sedih telah aku saksikan. Menjalani hidup dari sunyi ke sunyi, tak kusangka aku bisa berusia sepanjang ini.

Semua baik-baik saja hingga pada suatu hari seorang laki-laki paruh baya menemui Mbah Yono, si penjaga kuburan. Kulihat laki-laki itu tampak ramah berbincang dengan Mbah Yono. Keduanya bahkan mengisap rokok bersama di bawah rindang daun-daunku. Mau tak mau, aku mendengar pembicaraan keduanya.

Setelah obrolan yang menurutku sekadar basa-basi, barulah laki-laki paruh baya yang bernama Anton itu mengutarakan maksud kedatangannya. Ia mengatakan sering melewati kuburan ini dan ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Anton bilang ia tertarik kepadaku, sebatang kamboja tua berlumut. Mendengar pernyataan Anton, aku terhenyak.

Anton bilang, penampilanku begitu kokoh dan memikat. Menurutnya aku lain dari yang lain. Anton mengatakan, jika diizinkan ia ingin memilikiku. Bahkan, setengah berbisik, Anton siap membayar sejumlah uang.

Aku risau menanti jawaban yang akan diberikan Mbah Yono. Untunglah Mbah Yono berkata kepada Anton bahwa ia tidak berani mengambil keputusan sebelum sesepuh desa ini berbicara. Bagaimanapun, ini kuburan tua, tidak bisa sembarangan. Anton tampaknya bisa mengerti. Keduanya bercakap sebentar lalu Anton pamit pulang. Aku sedikit tenang, tapi tak sepenuhnya lega.

Dari obrolan yang kudengar tadi, bisa kusimpulkan jika Anton adalah seorang pedagang tanaman. Bukan pedagang kecil tentu saja. Ia biasa mengirim tanaman ke luar negeri. Terutama tanaman-tanaman tua. Lebih khusus lagi kamboja tua. Ia bercerita sering berkeliling dari satu kuburan ke kuburan lain, berburu kamboja. Hari ini, ia mengincarku.

Tiga hari setelah kedatangannya yang pertama, Anton kembali ke kuburan ini. Ia disambut Mbah Yono di depan gapura. Alangkah terkejutnya aku ketika mereka membicarakan hari pemindahanku termasuk upacara yang menyertai. Anton tampaknya berhasil mengantongi izin para sesepuh desa. Aku tiba-tiba sangat marah. Mereka tidak bisa seenaknya saja memindahku. Aku bersumpah, mereka tak akan berhasil.

Hari itu datang juga. Sebuah sore teduh di bulan Juli. Anton, bersama beberapa orang kawannya menggelar upacara di depanku. Setelah dirasa cukup, kawan-kawan Anton mengeluarkan perkakas untuk memindahku. Mereka sepertinya sudah sangat terlatih untuk urusan pindah memindah seperti ini, alat-alat mereka juga tampak lengkap.

Perlahan namun pasti, satu persatu di antara mereka mengerjakan tugasnya. Dua orang menggali tanah di sekitarku, dengan sangat berhati-hati. Mereka terus bekerja dan bekerja, hingga akhirnya sampai di tahap akhir, mencabutku. Saat akan mencabutku, lebih banyak orang dikerahkan. Percobaan pertama gagal. Percobaan kedua juga. Begitu seterusnya. Sampai mereka hampir putus asa.

Aku menyaksikan itu semua dengan perasaan campur aduk. Antara marah, miris, sedih dan gelisah. Seandainya saja orang-orang itu tahu, mereka tak perlu capek-capek melakukan pekerjaan sia-sia ini. Karena sebagaiamana pernah kukatakan, mereka tak akan berhasil. Sekuat apapun mereka mencoba.

Dalam diriku ada Sekar dan Randu. Dua orang dari masa yang sangat lampau, yang saling mencintai tak bisa bersatu. Randu anak saudagar batik kaya, sedang Sekar anak buruh pabrik gula. Randu tak pernah dapat restu untuk menyunting anak buruh pabrik. Mereka dipaksa berpisah. Mereka memilih melajang sampai tutup usia.

Di sinilah kuburan mereka. Randu dan Sekar menyatu dengan tanah, diserap akar-akarku. Dalam diriku bereka bertemu. Maka, tidak ada seorangpun yang bisa memindahkanku dari sini. Sebab, adakah yang lebih tangguh dari cinta yang dipisahkan dan kemudian menyatu? ❑-e *)

A Zakky Zulhazmi, pengajar di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Surakarta.

 

[1] Disalin dari karya A Zakky Zulhazmi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 5 Agustus 2018